Mengenal Alzheimer


Saat menjalani proses kehidupan, umur seorang manusia terus bertambah. Detik demi detik terjadi satu perubahan hebat pada tubuh manusia. Semakin tua manusia maka akan semakin menurun pula fungsi sel pada tubuh. Hal ini terjadi karena kemampuan jaringan yang sudah tidak mampu lagi untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur normalnya. Begitu juga dengan hal ingatan, semakin tua seorang manusia akan semakin susah untuk hafal dan semakin mudah untuk lupa. Keadaan ini biasa disebut sebagai dementia.1
Berdasarkan laporan dari World Alzhaimer Report 2015, terdapat 46,8 juta orang diseluruh dunia mengalami dementia. Angka ini diperkirakan akan meningkat dua kalinya setiap 20 tahun. Pada tahun 2030 diperkirakan angka kejadian dementia mencapai 74,7 juta orang dan pada tahun 2050 angka kejadian dementia diperkirakan mencapai 131.5 juta orang. Angka ini lebih tinggi 12-13 % dari estimasi World Alzhaimer Report 2009.2

Pada tahun 2015 ini, kejadian dementia yang berjumlah lebih dari 9,9 juta kasus baru diseluruh dunia, menyumbangkan angka kejadian satu kasus setiap 3,2 detik. Estimasi ini bahkan lebih tinggi 30% dibandngkan estimasi tahunan yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) tahun 2012. Sedangkan untuk distribusi regional kasus baru kejadian dementia ini adalah 4,9 juta orang (49%) di Asia, 2,5 juta orang (25%) di Eropa, 1,7 juta orang (18%) di Amerika, dan 0,8 juta orang (8%) di Afrika.2
Kerugian biaya secara global akibat dementia ini (biaya pengobatan dan perawatan) meningkat dari US$ 604 milyar pada tahun 2010 menjadi US$ 818 (US$ 1 = Rp 13.000). Angka ini lebih besar jika dibandingkan dengan dengan nilai pasar perusahaan dunia seperti Apple (US$ 742 milyar), Google (US$ 368 milyar), dan Exxon (US$ 357 milyar). Global Economic Cost dari dementia yang mencapai  US$ 818 milyar ini hampir sama besarnya dengan Gross Domestic Product (GDP) dari negara seperi Indonesia, Belanda, dan Turki. Persebaran peningkatan biaya ini hampir sama rata di seluruh regional dunia, namun yang paling besar peningkatannya adalah Afrika dan Asia Timur (dikarenakan besarnya angka kejadian dementia).3
                Kejadian dementia tidak semata terjadi dengan sendirinya akibat proses penuaan. Proses penuaan memang akan mempengaruhi perubahan dari anatomi maupun biokimiawi dari susunan syaraf pusat. Namun, dementia juga bisa lebih cepat terjadi apabila ada penyakit yang menyertainya.1 Salah satu penyebab dari dementia yang paling sering adalah penyakit Alzheimer. Alzheimer menyumbangkan 60%-80% angka kejadian pada dementia. Alzheimer sudah teridentifikasi semenjak 100 tahun yang lalu, tetapi pada 70 tahun sebelumnya Alzheimer sudah dikenal sebagai pembunuh utama pada dementia.4 Biasanya orang yang terkena alzheimer akan bertahan selama rata-rata 9,5 tahun dari semenjak terdiagnosis awal hingga kematian datang pada dirinya.1 Biasanya penyakit ini menyerang pada populasi manusia yang berumur 65 tahun ke atas. 5
                Alzheimer merupakan penyakit dengan karakteristik adanya penurunan fungsi kognitif secara progresif seperti, memori, bahasa, kecerdasan, dan kemampuan belajar.5 Gejala lain yang ditimbulkan pada pasien adalah hilangnya kemampuan untuk merencanakan sesuatu, kesusahan dalam menyelesaikan masalah, tidak dapat membedakan waktu dan tempat, kehilangan kemampuan dalam mengurutkan langkah, tidak bisa mengambil keputusan, mengurung diri dari sosial, dan mudah mengalami depresi. 4
                Selain itu, dalam proses perjalanan penyakit ini, pasien akan mengalami penurunan berbagai kemampuan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya pasien membutuhkan bantuan orang lain saat mandi, memakai pakaian, makan, dan saat buang air besar maupun kecil. Bahaya lain yang bisa muncul pada pasien adalah ketika pasien sudah kesusahan bergerak. Pergerakan yang minim pada pasien akan menyebabkan munculnya berbagai infeksi pada tubuh pasien, seperti pneumonia (infeksi paru). Alzheimer disertai dengan pneumonia menyumbangkan faktor kematian pada pasien. 4
                Gejala-gejala tersebut dapat timbul karena adanya malfungsi dan kematian neuron-neuron otak yang berfungsi dalam pembentukan memori baru. Karena banyaknya neuron otak yang mengalami kematian, hal tersebut menyebabkan penderita Alzheimer mengalami beberapa kesulitan dan ganggaun kognitif. Pada orang sehat, terdapat 100 juta neuron yang saling terhubung satu sama lain membentuk suatu sinaps. Neuron-neuron tersebut saling bercabang dan terhubung antar satu sama lain. Pada otak sehat orang dewasa, terdapat 100 triliun sinaps. Masing-masing neuron saling mengirim sinyal dan informasi melalui suatu molekul kimia (neurotransmitter, misalnya asetilkolin) menciptakan sebuah memori, emosi, sensasi, pergerakan, maupun ketrampilan.4  
                Pada pasien Alzheimer, neuron-neuron pada otak diselubungi oleh suatu protein yang bernama Beta-amyloid (βA) protein. Peningkatan akumulasi protein beta-amyloid (βA) disebabkan karena rendahnya kadar Asetilkolin (ACh) pada otak. Protein ini dapat menyebabkan timbunan plak pada neuron otak sehingga mengganggu transmisi sinaptik sinyal Asetilkolin. Selain itu penumpukan Beta-amyloid (βA) protein juga dapat memicu proses peradangan yang dapat menghasilkan senyawa-seyawa oksigen reaktif. Kemudian senyawa oksifgen reaktif tersebut (ion oksigen, peroxide, dan radikal bebas) dapat memicu reaksi rantai yang mengakibatkan kerusakan mebran sel, mitokondria, maupun protein-protein dalam sel neuron. Selanjutnya, proses ini akan mengakitbatkan kematian sel neuron.6
                Penyebab lain dari kematian sel neuron adalah adanya perubahan protein didalam sel neuron (protein tau) yang bertugas menjaga kestabilan mikrotubulus. Akibat adanya perubahan kimia pada protein tau, menyebabkan terbentuknya ikatan neurofibrilarry yang kacau (tau tangles). Sehingga kondisi tersebut akan memblok neurotransmitter dan menyebabkan kematian sel.6
                Munculnya penyakit Alzheimer pada manusia disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor umur, gemenetik, maupun pengaruh lingkungan (penyakit atau kebiasaan). Semakin tua seseorang maka akan semakin berpeluang terkena penyakit Alzheimer. Kebanyakan orang berusia diatas 65 tahun akan berpeluang terkana penyakit ini. Lebih dari 50% angka kejadian Alzheimer pada orang tua berusia 85 tahun.5
            Kemungkinan Alzheimer disebabkan karena faktor genetik sangatlah kecil. Faktor genetik hanya menyumbang 0,1% terhadap kejadian Alzheimer. Biasanya, pasien Alzheimer yang diduga mewarisi faktor genetik mulai menampakan tanda-tandanya pada umur yang lebih muda, sebelum 65 tahun (sekitar 30-40 tahun). Gen yang berperan secara dominan autosomal adalah gen yang menyebabkan mutasi dari amyloid precursor protein (APP) sehingga terbentuk beta-amyloid 1-42. Sedangkan gen lain yang juga menyebabkan Alzheimer 3 hingga 15 kali lipat adalah gen alle of the alipoprotein (APOE).5
Penyakit-penyakit lain yang mungkin berkontribusi terhadap kejadian Alzheimer adalah : merokok, hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit kardiovaskuler, trauma kepala, diet, aktivitas fisik, dan pendidikan.4
            Selama ini, usaha untuk penanganan dari Alzheimer masih belum memuaskan. Pendekatan medikamentosa (farmakologis) maupun non medikamentosa (non-farmakologis) telah dilakukan. Penangan secara farmakologi mengguanakan obat-obatan yang bisa mengurangi dari plak β-amiloid, mengurangi inflamasi, maupun obatan-obatan yang bisa memperbanyak kadar Asetilkolin. Pengobatan non-farmaklogis dalam penangan Alzheimer biasanya bebentuk latihan fisik oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan aliran daraha ke otak agar mengurangi proses peradangan maupun kematian sel. Selain itu penderita Alzheimer juga dilatih sistem kognitifnya, yaitu dengan meningkatkan interaksi sosial dan mendengarkan musik. 6           
Dari berbagai terapi yang ada, baik secara farmakologis maupun non-farmakologis, tentunya ada kekurangan dan kelebihannya. Kelebihannya adalah dapat memberikan efek yang positif walaupun tidak sepenuhnya dapat menyembuhkan. Namun kekurangannya adalah adanya efek samping dan belum banyak bukti penelitian tentang kesembuhan yang menjanjikan pada penderita Alzheimer. Wollen (2010) menjelaskan dalam jurnal reviewnya bahwa pengobatan secara farmakologis belum semuanya bisa memberikan efek neuroprotektif. Selain itu penggunaan obatan-obatan untuk Alzheimer juga hanya berefek dalam jangka aktu yang pendek, menimbulkan banyak efek samping, dan harganya relative mahal. Untuk penanganan non-farmakologis, belum banyak bukti penelitian yang valid, sehingga terapis terkadang bingung untuk menentukan kevalidan metode penyembuhan dan apabila terjadi kegagalan terapi akan maka akan sedikit merugikan pasien dari segi waktu maupun biaya. Namun keuntungannya  adalah tidak menimbulkan efek samping.6

Daftar Pustaka :
1.        FK UI. Buku Ajar Boedhi-Dharmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi ke-4. Badan Penerbit FK UI; Jakarta; 2014.
2.        Alzheimer Disease’s International. World Alzheimer Report 2015 The Global Impact of Dementia An Analysis of Prefalance, Incidence, Cost and Trend. Summary Sheet ; 2015.
3.        Alzheimer Disease’s International. World Alzheimer Report 2015 The Global Impact of Dementia An Analysis of Prefalance, Incidence, Cost and Trend Full Report. Alzheimer Disease’s International; London; 2015.
4.        Alzheimer Association. Alzheimer’s Disease Fact and Figure 2015. Alzheimer Association; U.S; 2015.
5.        Braak H, Del Tredici K. Where, when, and in what form does sporadic Alzheimer disease begin?. Curr Opin Neurol. 2012; 25(6):708-14.
6.        Wollen, K.A. Alzheimer’s Disease: The Pros and Cons of Pharmaceutical, Nutritional, Botanical, Ana Stimulatory Therapies, with a Discussion of Treatment Strategies from the Perspective of Patients and Practitioners. Alternative Medicine Review. 2010; 15(3):223-244.

Comments

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)