Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)

Prospek Pemanfaatan Kombinasi Ekstrak n-heksana Daun Kedondong Hutan (Spondias Pinata), Ekstrak Buah Mengkudu (M. citrifolia), dan Rifampisin dalam Mengatasi Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR TB/Resistensi Ganda) di Indonesia
Faisal Ridho Sakti

Tuberkulosis(TB) masih menjadi masalah kesehatan di dunia dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak terutama di negara yang sedang berkembang. Berdasarkan laporan tahunan WHO (2010) dalam Munirah et.all (2013) disimpulkan bahwa ada 22 negara dengan kategori beban tinggi terhadap TBC (High Burden of TBC Number). Sebanyak 8,9 juta penderita TBC dengan proporsi 80% pada 22 negara berkembang dengan kematian 3 juta orang per tahun dan 1 orang dapat terinfeksi TBC setiap detik.
Pada tahun 2010, Indonesia berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia dengan estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun (WHO, 2010 dalam Munirah et.all, 2013). Sedangkan pada tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat ke-4 kasus tuberkulosis terbanyak di dunia dengan angka kematian akibat tuberkulosis sebesar 64.000 serta jumlah kasus sekitar 450.000 per tahun (WHO, 2012). Diperkirakan jumlah ini akan semakin bertamah setiap tahunnya dan Indonesia akan mendapatkan peringkat jumlah penderita TB terbanyak yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Sebenarnya, tuberkulosis dapat diatasi dengan melaksanakan prinsip pengobatan standar tuberkulosis. Namun, pelaksanaan terapi standar yang relatif panjang, sering mengakibatkan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan terapi dan memunculkan masalah lain yaitu resistensi bakteri M. tuberculosis terhadap obat-obatan antituberkulosis (Ramayanti et.all, 2013). Multidrug resistant tuberculosis (TB-MDR) adalah suatu keadan dimana Micobacterium Tuberculosis telah resisten terhadap INH dan rifampisin saja atau resisten terhadap INH dan rifampisin serta OAT (Obat Anti Tuberkulosis) lini pertama lainnya (Kemenkes, 2012).
Pada tahun 2003 WHO menyatakan insidens TB-MDR meningkat secara bertahap serata 2% pertahun (Aditama, 2008). Insidens TB-MDR diperkirakan meningkat 2% setiap tahunnya. Secara keseluruhan prevalens TBMDR di dunia diperkirakan 4,3% (Aditama, 2004). Menurut WHO, secara global di tahun 2011 terdapat sekitar 630.000 kasus MDR-TB (WHO, 2012). Hal tersebut tentunya memicu upaya-upaya pengembangan obat baru untuk menanggulangi masalah tuberkulosis, baik untuk melengkapi terapi saat ini ataupun penemuan senyawa obat baru.
Penyebab Resistensi OAT
Menurut Aditama (2005) ada bebera papenyebab terjadinya resitensi terhadap obat tuberkulosis,yaitu:
1.      Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan tuberkulosis.
2.      Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat atau komposisnya tidak tepat.
3.      Pemberian obat yang tidak teratur.
4.      Fenomena “addition syndrome”, yaitu suatu obat ditambahkan dalam suatu paduan pengobatan yang tidak berhasil.
5.      Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya tidak dilakukan secara baik, sehingga mengganggu bioavailabilitas obat.
Mekanisme Resistensi terhadap INH
Isoniazid merupakan hydrasilasi dari asam isotonik, yaitu molekul larut air yang mudah masuk ke dalam sel. Mekanisme kerja obat ini, yaitu dengan menghambat sintesis dinding sel asam mikolik (struktur bahan yang sangat penting pada dinding sel mykobakterium) melalui jalur yang tergantung dengan oksigen seperti reaksi katase peroksidase (Riyanto dan Wilhan, 2006).
Mutan M.tubrerkulosis yang resisten isoniazid terjadi secara spontan dengan kecepatan 1 dalam 105-106 organisme. Mekanisme resistensi isoniazid diperkirakan oleh adanya asam amino yang mengubah gen kalase peroksidae (katG) atau promotor pada lokus 2 gen yang dikenal sebagai inhA. Mutasi missense atau delesi katG berkaitan dengan berkurangnya aktivitas katase dan peroksidase (Wallace dan Griffith, 2004).
Mekanisme Resistensi Rifampisin
Rifampisin merupakan turunan semisintetik dari Streptomyces mediterranei, bekerja sebagai bakterisid intraseluler maupun ekstraseluler (Wallace dan Griffith, 2004). Obat ini menghambat sintesis RNA dengan mengikat atau menghambat secara khusus RNA polymerase yang tergantung DNA. Rifampisin berperan aktif invitro pada kokus garam positif dan gram negatif, mikobakterium, chlamydia, dan poxvirus. Resistensi mutannya tinggi, biasanya pada semua opulasi mikobakterium terjadi pada frekuesi ≥ 1:107 (Riyanto dan Wilhan,2006).
Resistensi terhadap rifampisin ini disebabkan oleh adanya permeabilitas barier atau adanya mutasi dari RNA polymerase tergantung DNA. Rifampisin menghambat RNA polymerase tergantung DNA mikobakterium dan menghambat sintesis RNA bakteri yaitu pada formasi rantai (chain formation), tidak pada perpanjangan rantai (chain elongation), dan RNA polymerase manusia tidak terganggu. Resistensi rifampisin berkembang karena terjadinya mutasi kromosom dengan frekuensi tinggi dengan kecepatan mutasi yaitu 10-7 sampai 10-3, dengan akibat terjadinya perubahan pada RNA polymerase. Resistensi terjadi pada gen beta subunit dari RNA polymerase dcengan akibat taerjadinya perubahan pada tempat ikatan obat tersebut (Riyanto dan Wilhan, 2006).
Prospek yang Menjajikan
Ada harapan baru dan prospek yang menjajikan dalam hal penanganan kasus resistensi ini, terutama untuk MDR-TB. Sudah banyak penelitian untuk mengatasi MDR-TB, salah satunya menggunakan ekstrak n-heksana daun kedondong hutan (Spondia Pinata). Ekstrak n-heksana daun kedondong mengandung terpenoid dan flavonoid (Dwijaya, 2013). Terpenoid sebagai antibakteri dapat menyebabkan adanya gangguan pada bagian lipid membran plasma bakteri, sehingga mengakibatkan kebocoran pada bagian intraseluler dan terjadinya perubahan permeabilitas membran (Bueno-Sánchez et al., 2009). Sedangakan Flavonoid, akan menghambat enzim fatty acid synthase II (FAS II) yang berperan dalam pembentukan asam mikolat bakteri Tuberkulosis (Brown et al., 2007).
            Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menguji ekstrak daun kedondong hutan ini. Pemberian ekstrak secara tunggal menghasilkan persentase hambatan terhadap koloni strain M.Tuberkulosis MDR sebesar 52-73% (Dwijaya, 2013). Kemudian Dwijaya (2013) mencoba ekstrak metanol daun kedondong hutan konsentrasi 10 mg/mL dan mengkombinasikannya dengan rifampisin, percobaan ini menghasilkan presentasi hambatan 73,26%. Penelitian menggunakan daun kedondong hutan pun masih berlanjut, rifampisin dikombinasikan dengan ekstrak n-heksana kosentrasi 10 mg/mL daun kedondong dan menghasilkan presentasi hambatan sebesar 93,18%. Padahal jika menggunakan rifampisin saja terhadap M.Tuberkulosis MDR, hanya akan menghambat perkembangan bakteri dengan presentase 14,55%, presentase ini pun akan semakin menurun setiap waktunya (Ramayanti, Ariantari, dan Dwijaya, 2013).
Kombinasi rifampisin dengan n-heksana yang menghasilkan presentasi hambatan 93,18% pada TB-MDR tentunya merupakan prospek cerah untuk pemecahan masalah resistensi TB-MDR di Indonesia. Ekstrak ini teruji mengandung antituberkulosis karena hasil penilitiannya mengandung presentasi angka ≥ 90% (Gupta et al., 2010). Tetapi, penggunaan rifampisin memiliki beberapa efek samping, diantaranya ada efek samping ringan dan berat. Efek ssamping ringan penggunaan rifampisin adalah hilangnya nafsu makan, sakit perut dan mual. Sedangkan efek samping berat dari penggunaan rifampisin adalah purpura dan renjatan (syok) (Depkes, 2008).
Berdasarkan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Depkes, 2008), penganan efek samping ringan rifampisin adalah obat diminum pada malam hari dan penanganan efek samping berat rifampisin adalah penghentian pemberian obat. Untuk penganganan efek samping ringan, terkadang suasana tidak nafsu makan, mual, dan sakit perut masih terbawa hingga bangun tidur. Maka dari itu, penulis berfikir alangkah baiknya lagi jika kombinasi rifampisin dan ekstrak n-heksana daun kedondong dapat ditambahkan dengan ekstrak herbal lainnya agar meminimalisir dan mengatasi adanya efek samping ringan dari penggunaan rifampisin. Dalam hal ini penulis menyarankan agar menambahkan ekstrak buah mengkudu ke dalam kombinasi rifampisin dan ekstrak n-heksana daun kedondong.
Ekstrak buah mengkudu (M. citrifolia, L.) mengandung scopoletin, sebagai analgesik, antiradang, antibakteri. Glikosida, sebagai antibakteri, antikanker, imunostimulan. Alizarin, Acubin, L. Asperuloside, dan flavonoid sebagai antibakteri. Vitamin C, sebagai antioksidan (Peter, 2005; Waha, 2000; Winarti, 2005). Bahan analgesik yang ada dapat menghilangkan rasa sakit, termasuk rasa sakit di perut. Orang Indonesia sendiri kerap mengonsumsi buah mengkudu untuk mengatasi nyeri haid, sakit perut, menambah nafsu makan dan lain-lain (Hariana, 2008). Seperti yang kita ketahui sebelumnya, kandungan flavonoid dalam ekstrak mengkudu juga berfungsi sebagai anti bakteri dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Tuberkulosis seperti kandungan flavonoid dalam ekstrak daun kedondong. Jadi, buah mengkudu juga memiliki kemungkinan kemampuan penghambat perkembangan bakteri TB. Hal ini tentunya akan menambah keefektivitasan dari ekstrak buah mengkudu sebagai penawar efek samping samping ringan rifampisin dan antibakteri Tuberkulosis.
            Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahawa kombinasi ekstrak n-heksana daun kedondong, ekstrak buah mengkudu dan rifampisin memiliki kemampuan antibakteri dalam menghambat perkembangan bakteri TB-MDR secara signifinan. Ekstrak buah mengkudu juga dapat menghilangkan efek samping ringan dari penggunaan rifampisin. Hal ini tentunya akan menjadi prospek cerah bagi bangsa Indonesia untuk mengatsi TB-MDR yang ada, mengingat bahwa buah mengkudu dan daun kedondong hutan adalah salah satu sumber kekayaan bangsa Indonesia yang melimpah. Akhir kata, mari kita manfaatkan kekayaan alam Indonesia yang ada dan basmi TBC.

DAFTAR PUSTAKA
GALERI :













Comments

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?