Renungan Sore - Kebahagiaan mu juga Kebahagiaan ku (Download Audio Motivasi)
Di sore yang haru ini,
aku kembali mendengarkan audio yang bisa selalu mengingatkanku pada
orang tuaku. Di luar sana hujan kembali membasahi kota Jogja. Tiupan angin dari arah jendela, membuat bulu kuduk ku semakin meraung, menggetarkan hati yang pilu. Sahabat yang ada di sampingku juga merasakan demikian. Kami berkomimen untuk memulai hidup baru, demi masa depan yang cerah.
Jarang sekali kita berdua
bisa tidur siang hingga sore hari seperti ini, kalau tidak karena inhal
praktikum, kita ga bakal bisa tidur siang seperti ini. Tapi entah kenapa aku
merasa inhal ini terasa menyedihkan bagiku, aku tiba-tiba merasa sangat bersalah
terhadap diriku. Begitu juga teman ku.
Tetapi setelah istirahat,
rasa sesak karena inhal itu sudah mulai beranjak menjadi semangat baru bagi
kita. Aku sendiri berkomitmen, semoga ini bisa jadi inhal yang terakhir bagiku
( eman eee uang 10 ribu, hehe). Tapi sebenarnya bukan masalah uang yang menjadi
penyebab utama semangat baru kami, tapi lebih karena komitmen tuk menjalani
hidup yang lebih baik di masa depan.
Wahai teman, tak sadar
kita sekarang sudah menginjak bangku kuliah, setelah kuliah koas, habis itu
kerja. Itu bayangan umum bagi setiap mahasiswa kedokteran. Rasanya memang
begitu cepat waktu berjalan. Tak sadar bahwa kita memang telah melewati banyak
lika-liku hidup yang ada. Tapi tanpa kita sadari, tenyata di balik perjalanan
hidup ini selalu ada orang yang mendukung di belakang kita. Dan dukungan paling
besar dalam perjalanan hidup ini adalah kedua orang tua kita. Mereka selalu
berusaha agar kehidupan kita kelak bisa menjadi lebih baik dari dirinya, menyekolah
kan kita, mendidik kita, mengajari kita banyak hal, dan banyak kebaikan lainnya
yang tak bisa diungkapkan disini.
Aku selalu merasa
bersyukur ketika masih bisa menatap kedua orang tuaku. Aku tak bisa
membayangkan bagaimana nantinya jika orang tuaku sudah tak ada di dunia ini. Rasanya,
sebahagia apapun kita, tanpa hadirnya kedua orang tua, rasanya akan terasa
hampa. Ketika orang tua kita melihat kita bahagia, mereka juga kan bahagia
melihatnya. Kebahagian mereka juga serasa menjalar di tubuh ini sehingga
menjadikan rasa bahagia yang berjuta-juta kali lipat.
Moment yang selalu di tunggu-tunggu kedua orang tua kita saat kita masih kuliah tentunya adalah saat kita wisuda. Di situlah mereka kan merasa sangat bangga melihat anaknya bisa menyelesaikan studinya. Apapun hasil yang di dapat, mereka kan bahagia. Entah dapat nilai bagus atau buruk, mereka kan bahagia melihat anaknya bisa di wisuda. Dan saat inilah menjadi moment yang tepat untuk melepas kebahagiaan bersamanya. Maka dari itu, sebisa mungkin kita beri hasil yang terbaik tuk menuju kebahagiaan yang lebih indah. Setidaknya hal ini bisa membalas sedikit dari usaha mereka dalam membesarkan kita.
Moment yang selalu di tunggu-tunggu kedua orang tua kita saat kita masih kuliah tentunya adalah saat kita wisuda. Di situlah mereka kan merasa sangat bangga melihat anaknya bisa menyelesaikan studinya. Apapun hasil yang di dapat, mereka kan bahagia. Entah dapat nilai bagus atau buruk, mereka kan bahagia melihat anaknya bisa di wisuda. Dan saat inilah menjadi moment yang tepat untuk melepas kebahagiaan bersamanya. Maka dari itu, sebisa mungkin kita beri hasil yang terbaik tuk menuju kebahagiaan yang lebih indah. Setidaknya hal ini bisa membalas sedikit dari usaha mereka dalam membesarkan kita.
| My Family |
Memang kita tak akan
pernah bisa membalas jasa kedua orang tua kita, tapi pada saat inilah kita bisa
membuktikan, membuktikan bahwasanya kita patut tuk jadi anak yang bisa
dibanggakan oleh keduanya. Dan yang paling penting, tak hanya saat wisuda saja
kita membahagiakan orang tua kita, tapi di setiap saat kita juga usahakan tuk selalu
membuat orang tua kita tersenyum. Tak hanya saat masih berada di dunia saja
kita bahagiakan kedua orang tua, bahkan ketika orang kita sudah menunggu di
surga pun kita harus tetap membuat orang tua kita tersenyum disana.
Kita adalah harapan bagi
mereka. Harapan yang tak pernah tergantikan. Harta yang sangat mahal bagi
keduanya. Pertanyaannya sekarang, bisakah kita tuk benar-benar menjadi apa yang
diharapkan kedua orang tua kita?
Selagi nafas masih
berhembus, selagi jantung masih berdetak, selagi keringat masih bisa bercucur,
kita kan selalu memiliki kesempatan tuk jadikan setiap jengkal hidup kita
sebagai kebahagiaan bagi mereka dan diri kita.
Yogyakarta, 24 Maret 2014,
Pukul 17.00
Silahkan download audio motivasi berikut,,
Dengarkan dan renungkan,,
Dengarkan dan renungkan,,

Comments
Post a Comment