Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Sejak awal aku memang berniat masuk Fakultas Kedokteran (FK). Dari kelas 3 SMA aku sudah menyiapkan diri dan mental untuk mengikuti berbagai ujian masuk FK. Sebenarnya ada beberapa alasan yang berkecamuk di dalam diri pada saat akan memutuskan diri untuk menjadi dokter. Saat itu aku berfikir, menjadi dokter merupakan suatu profesi yang mulia dengan gambaran prospek pekerjaan yang jelas. Sedangan bidang lain, menurutku saat itu menganggap belum ada prospek yang menjanjikan di lain bidang.
Sejujurnya yang paling utama bukan masalah prospek pekerjaan yang aku pikirkan, melainkan aku lebih suka ilmu praktis yang bisa diterapkan apalagi bisa bermanfaat untuk masyarakat. Selain itu, basik ku di dalam biologi juga sudah cukup kuat saat SMA dulu, hal ini dibuktikan dengan aktifnya di berbagai perlombaan biologi semasa SMA. Memang butuh tekad yang bulat serta alasan yang jelas untuk masuk FK.
Akhirnya aku membulatkan tekad untuk masuk kedokteran. Walau sebenarnya pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolahku sangat tidak menunjang untuk bisa menembus tes ujian tulis SBMPTN. Aku menuntut ilmu di Assalaam Islamic Moderen Boarding School, Solo, Jawa Tengah. Di tempat ini lebih banyak subtansi agama yang diajarkan, untuk pelajaran umum tetap diajarkan, namun tidak terlalu mendalam. Bimbel semasa kelas 3 SMA? Jangan harap bisa, pergerakan kami terbatas di dalam Asrama. Paling hanya bisa curi-curi kesempatan memanggil guru dari bimbingan belajar di luar karena kami tidak boleh keluar komplek kecuali dua minggu sekali. Itu pun hanya untuk persiapan Ujian Nasional. Selebihnya masing-masing dari kami berjuang belajar soal-soal masuk perguran tinggi dari buku-buku maupun baru mengikuti bimbingan belajar selepas dari kelulusan SMA.

SNMPTN (jalur undangan) aku pilih FK UGM dan FK UNS. Namun, ini sudah tidak bisa menjadi harapan bagiku. Mungkin di luar sana lebih banyak siswa-siswa yang nilainya lebih tinggi dengan segudang prestasi di level nasional maupun international. Sedangkan aku? Aku baru menmbus tingkat provinsi untuk lomba biologi.Tentunya hal ini tidak bisa diandalkan. Benar saja, saat detik-detik pengumuman SNMPTN berlangsung, tidak ada yang tembus. Hore… ternyata dugaan ku tepat walau harap sudah memuncak.
Di tolak saat di tahap pertama memang membuat hati ini galau setengah mati, bayang-bayang sulitnya soal SBMPTN mulai menerjang. Apalagi saat itu aku baru bergabung dan memulai belajar di suatu instatsi bimbingan belajar. Waktu untuk menyiapakn ujian tulis semakin singkat dan SBMTN tinggal dua bulan lagi. Pikiran dan hati sudah mulai goyah.
Oh ya, sebelumnya, saat sebelum kelulusan aku sudah pernah tes kedokteran di Universitas Islam Indonesia. Waktu baca-baca brosurnya sih keliatannya cocok banget dengan dunia Islaminya. Tapi, pas liar harga, wow ternyata mahal juga ya kuliah di FK. Saat itu aku berfikir sangat sempit, uang ratusan juta dipertaruhkan apabila aku berhasil lolos dan harapanku adalah bisa kuliah di universitas negri, bukan swasta. Sebenarnya saat tes di UII yang pertama kali itu aku disuruh ortu, jadi agak malas-malasan mengerjakan soalnya. Berangkatnya pun penuh perjuangan, dari Solo harus menuju Jogja di hari Sabtu dan menginap di kosan Kakak tingkat yang sudah diterima di Kimia UII.
Memang semuanya seringkali tak sesuai dengan yang diharapkan. Saat itu aku berfikir sangat idealis dan tidak mau mencoba tes-tes kedokteran di universitas swasta. Ternyata benar saja, saat aku sudah tes di UII, aku ditolak. Saat itu sih idak terlalu sedih karena baru gelombang pertama dan masih di awal Januari 2013, aku masih belum lulus SMA. Namun, lambat laun kekhawatiran ortu semakin menjadi ketika mendengar kabar aku tidak diterima jalur undangan.
Orang tua langsung gelisah dan lebih mendesakku untuk mencoba tes-tes kedokteran swasta yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam pikiran idealis ku, aku ingin fokus belajar untuk SBMPTN karena tipe-tipe soalnya berbeda dengan soal-soal yang diujikan oleh universitas-universitas swasta. Jadi, ada perang batin atas kemauan orang tua, strategi anak, dan realita yang ada.
Sebelum tes SBMPTN, dengan bujukan ortu, akhirnya aku mencoba tes kedokteran di UMY. Saat itu UMY sudah membuka dua kali ujian jalur tulis. Aku mencoba lewat jalur CBT karena waktu itu aku menyesuaikan jadwal dengan jam bimbel dan waktu kosong ortu. Ternyata di CBT UMY soalnya hanya tipe Tes Potensi Akdemik (TPA) saja, tapi ada 100 soal dikerjakan dengan waktu hanya 80 menit. Saat itu pula standar nilai kelulusan untuk kedokteran adalah 80. Memang tipe soal ini mudah, namun waktu yang sangat singkat membuat kebanyakan pendaftar kedokteran UMY lewat jalur ini langsung berguguran. Termasuk diriku.
Akhirnya orang tua semakin ketat mengawasi setiap jadwal tes yang ada di perguran tinggi di Jawa Tengah dan DIY. Sudah diagendakan aku akan mencoba tes jalur tulis di UMY lagi setelah mengikuti tes SBMTN. Hari-hari sebelumnya pun aku sempat mencoba tes CBT UMY dan masih gagal. Skor ku hanya mencapai 40-60 di setiap kali tes. Memang agak kesal juga dengan jebakan tes yang kurang logis ini, seleksi untuk mahasiswa kedokteran namun soalnya hanya bermodal TPA dan waktunya sangat singkat. Tibalah hari H ujian SBMTN.
Saat ujian, di hari pertama aku sudah sedikit psimis. Dengan berbagai hitungan dan analaisa kemungkinan, sepertinya terlalu berat untuk mengejar skor di hari kedua. Aku sungguh merasa kurang menguasai dasar-dasar dari tipe soal yang diujikan. Saat itu aku memilih kedokteran UGM, UNS, dan Unsoed. Aku memang ingin benar-benar fokus mengejar Fakultas Kedokteran. Tanpa piker panjang, aku pilih semua jurusan di FK. Aku tidak ingin mengambil resiko jika aku diterima di salah satu fakultas selain FK namun hanya untuk pengisi waktu belajar ku saja sebagai cadangan mengejar FK di tahun berikunya. Benar saja, di hari kedua aku semakin tak berdaya dengan berbagai soal yang ada.
Akhirnya aku mulai tunduk dengan ortuku, terutama ayahku yang mulai mengatur dan mendesak untuk tes di setiap universitas yang ada. Aku terus diiming-imingi dengan tawaran jurusan lain selain kedokteran. Namun aku tetap bersikukuh dengan cita-cita awalku. Sembari menunggu pengumuman SBMPTN, aku mecoba tes di kedokteran UMS. Awalnya aku enggan karena mengetahui akreditasi kedokteran UMS masih C. Kemudian aku mencoba saja dan menuruti kata ayah. Satu kali pendaftaran di UMS bisa digunakan untuk tiga kali tes CBT. Saat itu, passing grade untuk masuk FK UMS adalah 80. Tes pertama aku hanya berhasil mencapai skor 60. Kemudian mencoba lagi di hari berikutnya dan masih gagal. Hampir setiap minggu akhirnya aku bersama ortu menuju Solo untuk mencoba terus FK UMS. Saat itu sudah mencapai tes yang ke-6 dan masih tetap tidak lolos sedangkan skor tertinggiku adalah 75.
Setelah pengumuman SBMTN keluar, aku dinyatakan TIDAK DIETRIMA di perguruan tinggi yang aku pilih. Saat itu perasaanku benar-benar hancur. Idielismeku mulai memudar. Perasaan sedih semakin menjalar ketika mendengar berita beberapa teman satu SMA sudah diterima di berbagai perguruan tinggi negri, bahkan teman ku ada yang diterima di FK UNS. Rasanya benar-benar hancur. Namun, aku masih tetap semangat dan terus berjuang. Masih ada kesempatan mengikuti jalur Ujian Masuk (UM) di setiap Perguruan Tinggi yang mengadakan.
Sebelum mengikuti tes UM, aku mencoba PBT UMY. Saat itu sudah PBT ke-3. Menurutku soal yang diujikan lebih logis karena hanya soal-soal TPA berjumlah 120 soal dengan waktu 120 menit. Aku dengan percaya diri bisa mengerjakan hampir semua soal, paling hanya 3-5 soal yang tidak yakin dengan jawabanya. Namun, takdir berkata lain. Aku sungguh tak mengerti faktor apa yang membuat namaku tidak ada di daftar orang-orang yang diterima di jurusan Kedokteran. Ya sudahlah, masih ada UM untuk perguruan tinggi negri.
UM yang aku incar adalah UM Undip, UM UGM, dan UM Unsoed. Aku tetap mengikuti bimbel dan meneruskan belajar di Cilacap. Setiap minggu mulai mempelajari dengan tipe soal yang baru. Nampaknya soal-soal tipe UM lebih mudah disbanding SBMPTN namun tetap harus teliti. Sekarang aku memilih Fakultas kedokteran di urutan pertama dan urutan berikutnya ada Teknik Kimia, dan Teknik Elektro. Idealismeku sudah semakin dikalahkan oleh realita. Keadaan yang mendesak seperti ini membuatku harus memikirkan peluang lain selain kedokteran. Ada sedikit optimism untuk masuk di fakultas lain karena passing grade nya tentu lebih rendah dibandingkan dengan kedokteran.
Namun realita berkata lain. UM hanya diperuntukan untuk orang-orang yang berkantong lebih. Di setiap form pendaftaran UM, pasti akan ditanyakan besar sumbangan yang berani diberikan. Orang tuaku hanya mampu untuk membayar sekitar 100 juta “saja”. Memang, kuliah di kedokteran harus menyiapkan anggaran sekitar 150-250 juta untuk harga standar. Namun, jika masuk jalur mandiri, bisa mencapai 300 juta lebih.
Akhirnya aku berangkat menuju Semarang untuk tes UM UNDIP. Esok harinya, langsung menuju UGM untuk mengikuti UM di Yogyakarta. Semua perjalanan jauh nan berat ini aku tempuh ditemani bersama orang tua. Sebenarnya aku kasian juga dengan orang tua yang susah payah bolak-balik kesana kemari mengantar anaknya untuk bisa kuliah. Namun bagaimana lagi, kondisinya aku juga butuh support mental yang besar dari orang-orang terdekatku. Setelah UM UGM berakhir, aku diminta orang tuaku untuk tetap berada di Yogyakarta karena hari esoknya ada pendaftaran gelombang paling akhir tes kedokteran di UII. Itu sudah memasuki Jalur Madiri 3. Saat itu sudah memasuki bulan puasa. Akhirnya aku menginap di kontrakan kakak tingkatku yang kuliah di FK UGM.
Esok harinya, keluar pengumuan UM UNDIP. Ternyata tidak ada yang nyangkut sama sekali, walau itu Teknik Elektro yang passing grade nya jauh dibwah kedokteran. Padahal ketika Try Out aku sudah bisa memasuki Teknik Elektro. Sungguh aneh sekali. Kecerdasan sudah tidak bisa bicara sekarang karena dibungkam dengan tumpukan uang. Sudah tidak ada harapan untuk ujian UM, termasuk UM UGM yang belum keluar hasilnya. Pada hari yang sama, aku diantar oleh kakak tingkatku menuju UII menggunakan motor dari daerah sekitar UGM menuju Kaliurang. Setelah registrasi selesai, aku kembali lagi ke kontrakan dan masih menunggu satu minggu untuk tes kedokteran UII. Esok harinya aku pulang ke Cilacap untuk mempersiapkan tes di UII.
Satu minggu berlalu, puasa mengiringi hariku untuk belajar dan terus berjuang. Hari Sabtu aku diantar oleh kedua orangtuaku menuju Yogyakarta. Esoknya aku mengejarkan tes jalur Paper Based Test (PBT). Di UII sendiri, untuk mengambil jurusan kedokeran, harus mengikuti jalur PBT karena ada tambahan soal penalaran IPA berbasis kedokteran. Selain itu, ada mata pelajaran lain yang secara garis besar diujikan juga di berbagai tes SBMPTN maupun UM, hanya saja terdapat tambahan tes Agama Islam. Oh ya, sebelum tes PBT UII di hari minggu, aku sempatkan untuk mencoba tes CBT di hari Sabtunya dan mengambil jurusan Teknik Kimia. Benar saja aku langsung diterima dan menduduki peringkat I dari segi sumbangan. Di UII sendiri, enaknya sumbangan kita dinilai berdasarkan peringkat tes ujian masuknya. Jadi lebih terlihat transparan dan adil serta menghargai jerih payah belajar calon peserta didik.
Setidaknya aku mengikuti ujian PBT kali ini lebih tenang karena telah mendapatkan cadangan Teknik Kimia UII. Aku merasa, jika memang kali ini bukan jalan ku, aku harus menunggu satu tahun terlebih dahulu. Aku masih memiliki “cadangan” umur dikarenakan dahulu saat SMP aku mengikuti kelas akselerasi. Jadi semuanya tinggal kehendak Allah yang mengatur jalan hidup hambanya ini. Tes berlangsung sangat mulus. Timing pengerjaan soal juga bagus walau hasil jawaban tidak begitu yakin. Beberapa soal aku sudah sangat mengenali hingga tak perlu lagi menghitung dengan panjang lebar karena sudah hafal jawabanya. Setelah tes di UII usai, aku bersama orang tuaku menuju UPN untuk mencoba mengambil Teknik Geologi serta pertambangan.
Tes di UPN tidak sulit karena hanya bermodal TPA saja. Namun, lagi-lagi hasil skor di masa akhir-akhir tes masuk seluruh perguruan tinggi dikalahkan dengan uang yang menggiurkan. UM dan jalur mandiri sudah tidak bisa dilogika. Akhirnya aku ditolak. Apakah aku ini memang benar-benar bodoh sehingga ditolak berkali-kali di berbagai perguruan tinggi? Apa aku memang tidak pantas untuk kuliah? Ah, aku yakin ini hanya permainan politik berbasis kantong yang memanfaatkan kondisi di ujung tanduk saja.
Saat mendengerkan kabar pengumuman UM UGM pun aku sudah tak kaget lagi. Sudah biasa rasanya ditolak berkali-kali, bahkan untuk level passing grade yang lebih rendah dibandingkan kedokteran. Aku sudah tak heran. Aku coba kembali mendaftar di UM Unsoed sembari menunggu pengumuman UII. Jika boleh dibandingkan, tentu kedokteran UII lebih unggul dari segi akreditasi dibandingkan FK Unsoed. Saat itu FK UII sudah berakreditasi A dan FK Unsoed berakreditasi B. Namun aku tetap mengejar peluang yang ada.
Akhirnya saat sudah mulai bersantai dari kegiatan belajar, ayahku mengabariku bahwa aku lolos tahap II seleksi Kedokteran UII. Mendengar kabar itu, rasanya seperti dunia hambar sesaat. Senang tidak, sedih tidak, galau juga tidak. Namun aku hanya bisa tersenyum karena mimpi kuliah di Fakultas Kedokteran semakin dekat. Menurut penuturan dari beberap orang, jika sudah memasuki tahap II seleksi kedokteran UII, sudah mengantongi peluang 80% diterima. Namun aku harus tetap berusaha menyiapkan segalanya karena ada beberap anak juga tetap ditolak walau sudah mencapai tahap II. Seleksi tahap II ini merupakan seleksi wawancara.
Gambaran di berbagai benak orang di seleksi wawancara pasti ditanya masalah kesanggupan membayar dan pilihan perguruan tinggi lain. Namun, ternyata itu jauh berbeda dengan  kenyataanya di FK UII. Saat itu aku harus mengerjakan kembali  soal dengan jawaban singkat di semua mata pelajaran seperti tahap I. Ada tambahan tes psikologi juga dengan menggambar dan bercerita sesuai narasi yang diberikan. Di sesi wawancara, aku malah ditanya lagi tentang pelajaran biologi terkait dengan kedokteran. Setelah melewati serangkaian tes tersebut, aku merasa yakin bisa kuliah di kampus Islam ini.
Sembari menunggu hasil FK UII, aku menjalani tes UM Unsoed di Purwokerto. Aku tidak teralalu berharap dengan FK Unsoed karena lebih memandang dari segi kualitas. Peluang ku diterima di FK UII lebih besar. Setalah menjalani tes UMS Unsoed, beberapa hari setelahnya aku dinyatakan DITERIMA di FK UII. Aku sudah tidak mempedulikan lagi hasil dari tes UM Unsoed walaupun akhirnya aku juga tetap di tolak.
Aku merasa sangat bersyukur UII masih sangat menjaga nilai-nilai Islam yang bisa menghargai seorang cendekiawan muslim. Aku diterima di FK UII dengan peringkat catur dharma ke-5 (saat itu 150 juta). Aku sudah tidak lagi merisaukan dengan biaya itu, Alhamdulillah orang tuaku masih mampu menanggung biaya kuliah di FK UII sesuai dengan budget di awal. Aku selalu yakin bahwa Allah akan menghargai setiap usaha hambanya.
Pesanku untuk para pengejar Fakultas Kedokteran, ketahuilah bahwa Profesi Dokter bukanlah profesi sembarangan yang bisa dicapai dengan duduk manis tanpa belajar. Sekarang aku menyadari bahwa setiap fakultas kedokteran ingin benar-benar menyaring mahasiswa yang berkualitas agar menghasilkan para lulusan yang berkualitas pula. Kasihan juga nantinya sang pasien jika ditangangi oleh para dokter yang kurang berkualitas akibat seleksi di awal yang kurang ketat.
Aku juga sekarang menyadari bahwa seluruh fakultas kedokteran yang ada di Indonesia semuanya bagus. Bahkan semua kampus maupun jurusan selain kedokteran dan UII itu bagus. Tinggal bagaimana kita menyikapi kondisi dan keadaan yang kita jalani. Bersyukurlah karena tidak banyak anak yang bisa melanjutkan kulaih di perguruan tinggi.
Yakinlah, Emas dimanapun berada tetaplah Emas walau ia berada di kubangan sekalipun. Semua tidak bergantung dimana kita belajar, namun semua kembali ke diri kita masing-masing. Institusi hanyalah fasilitas kita mengejar cita-cita. Yang terpenting dari semuanya adalah, syukuri kesempatan kita bisa menuntut ilmu dimanapun kita berada dan selalu mintalah doa restu dari kedua orang tua. Tetap semangat dan kejar cita-cita mu.
Untuk teman-teman yang ingin sharing pengalaman dan bertanya lebih lanjut bisa menghubungi saya di line : isal_sakti.



Comments

  1. Bang, boleh minta contactnya ga buat nanya2 lebih lengkap tntg Ujian masuk UII ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. PM!!!! Informasiptnpts@gmail.com

      Delete
  2. untuk mapel yang diujikan di seleksi UII itu seperti apa ya? bisa diceritakan lebih detail tentang apa apa yang ada di ujian masuk UII?

    ReplyDelete
    Replies
    1. PM!!!! Informasiptnpts@gmail.com

      Delete
  3. Selamat sore kak😊
    Maaf mengganggu waktunya, bolekah saya minta email kakak?
    Terimakasih kak😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. PM!!!! Informasiptnpts@gmail.com

      Delete
  4. Sy lemah di matematika, apa bisa saya masuk FK?

    ReplyDelete
    Replies
    1. PM!! informasiptnpts@gmail.com

      Delete
  5. Aku gagal fk ugm fk unair fk uns . Jalur sbm dan mandiri tahun ini bang, mau milij swasta tidak ada biaya . Um undip dan ub aku aja nggk jdi ikut gara2 spi nya tinggi . Pokoke kata bapakku yg spi nya dibawah 100jt . Dan akhirnya . Aku nunggu setahun . Hiks .
    Padahal di TO TO yg aku ikuti nilai ku ya tinggi .

    ReplyDelete

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)