Misteri Deja Vu
Pernahkah Anda
tiba-tiba merasa pernah melihat suatu tempat walau baru pertama kali
mengunjungi tempat tersebut? Pernahkah Anda merasakan dalam suatu suasana yang
sudah sangat akrab walau sebelumnya belum pernah mengalami hal tersebut? Anda
tidak tahu kapan dan dimana semua hal tersebut telah terjadi tapi merasa sangat
familiar dengan hal-hal yang sedang dilihat atau dialami. Apakah itu adalah
bisikan dari dunia giab atau memang ada yang salah dengan otak kita? Hal ini
biasa disebut dengan De Javu.
De Javu secara
bahasa berarti sudah pernah terjadi atau pernah melihat. Arti ini diambil dari
bahasa Prancis. Secara umum diartikan sebagai perasaan seseorang bahwa dia
pernah mengalami, melakukan, ataupun melihat yang baru saja ia lakukan.
Sebenarnya kata De Javu sendiri merupakan turunan dari kata deja vacu (telah
mengalami), deja senti (telah memikirkan), dan deja visite (telah berkunjung).
Nama Déjà vu inilah yang pertama kali dierkenalkan oleh ilmuan dari Prancis
bernama Emile Boirac pada tahun 1876.
Pada pertengahan
abad ke-19, beberapa masyarakat mengira Déjà vu merupakan suatu pesan dari roh
rekarnasi diri atau pesan dari Tuhan. Sedangkan di akhir abad ke-19, mulai
banyak ditemukan teori-teori yang membahas tentang cara kerja dari Déjà vu itu
sendiri. Hal ini menjadika kecerahan pemikiran bagi masyarakat saat itu.
Karena banyaknya
teori ilmiah yang mucul, hal ini menjadi perdebatan tersendiri di kalangan
ilmuan dalam menjelaskan mekanisme kerja dari Déjà vu. Beberapa peniliti juga
menghubungkan hal ini dengan kondisi patologis, halusinasi, maupun kepribadian
ganda. Akhirnya, di abad ke-20 inilah banyak ilmuan yang memberikan pencerahan
dengan penjelasan serta uji coba ilmiah terhadap fenoma yang misterius ini.
Berdasarkan
kebanyakan dari studi kasus, Déjà vu sering dialami oleh penderita epilepsi.
Penderita sendiri mengalami Déjà vu pada saat akan terserang epilepsi. Hal ini
dikaitkan dengan lobus temporalis (memori jangka pendek) penderita yang
berfungsi dengan baik saat adanya serangan. Selain itu, penggunaaan obat amantadine
dan phenylpropanoamin secara berlebih dapat juga memicu terjadinya Déjà vu.
Selain itu, penggunaan obat untuk penderita bipolar dan penggunaan alcohol dapat
juga menimbulkan Déjà vu. Penelitian sendiri menyatakan alcohol menunjukkan
korelasi positif yang kuat dengan kejadian Déjà vu. Semua hal tersebut dapat
terjadi karena efek dopaminergik yang bersumber dari obat-obatan yang telah
disebutkan diatas dan mengalami penumpukan di daerah temporal sehingga
mengganggu ingatan jangka pendek.
Dari sekian
banyak teori yang ada, penulis sendiri lebih senang menjelaskan Déjà vu dengan
dasar teori Sigmund Frud tentang fenomena “gunung es”. Gunung Es selalu menampakkan
bagian atasnya dengan proporsi es yang lebih sedikit dibandingkan dengan
permukaan yang diwahnya. Hal ini sama dengan antara konsep ingatan sadar dan
ingatan bawah sadar. Ingatan sadar bersifat tidak terlalu lama mengingat dan diibaratkan
dengan permukaan es bagian atas. Sedangkan ingatan bawah sadar diibaratkan
bongkahan es yang besar di bwah permukaan air laut karena memiliki efek yang
lebih tahan lama terhadap ingatan.
Déjà vu muncul,
berdasarkan penelitian Sigmund Frud, disaat mengingat secara spontan sesuatu yang
berada di ingatan bawah sadar. Namun, hal ini ada blok yang besar antara
ingatan bawah sadar dan ingatan sadar sehingga informasi yang muncul pada
kondisi déjà vu karena adanya kebocoran sedikit demi sedikit informasi terkait
hal yang sudah sangat familiar sehingga tidak dapat mengingat pasti dimana
memori itu berasal. Jadi, saat terjadi Déjà vu, seseorang tersebut akan merasa
familiar dengan suatu kondisi atau tempat tetapi tidak ingat kapan ia melihat
atau merasakan dengan pasti kondisi tersebut, bisa merasa melihat dari mimpi
atau ia mengalami hal itu pada masa yang tidak diketahui dengan pasti.
Teori Sigmund
Frud tidak jauh berbeda dengan teori terbaik yang menjelaskan tentang Déjà vu, yaitu teori Robert Efron. Robert Efron melihat lebih jauh tentang mekanisme kerja otak
bukan hanya dengan pikiran sadar atau tidak, melainkan adanya keterlambatan
pemrosesan respon syaraf yang melewati lebih dari satu jalur. Jalur yang
pertama langsung memasuki lobus temporal sedangkan jalur yang lain harus
memutar dulu melewati bagian otak yang lain (memutar) sehingga terjadi delay terhadap
dua informasi yang sama tersebut. Semakin lama delay antara dua
informasi tersebut, semakin besar kemungkinan respon dari tanggapan informasi
yang telat adalah dengan salahnya persepsi bahwa memori yang muncul merupakan ingatan lama, padahal tidak, yaitu ingatan yang baru namun berasa sangat familiar. Otak juga bekerja dengan mekanisme asosiasi, seakan melihat kondisi yang sangat familiar, namun sebenarnya ia melihat kondisi baru (memori baru) yang mirip dan memicu munculnya memori lama.
Comments
Post a Comment