Hati-Hati Pemerasan Uang
Ceritanya waktu
itu (5 Maret 2016), sepulang dari tidur tempat teman, pukul 08.00 aku segera
meluncur menuju gedung Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia untuk
mengadakan wawacara seleksi HTrend. Sebenarnya saat itu sangat malas sekali
pagi-pagi mengendarai motor harus menuju menuju kampus dari daerah Jalan
Magelang (rumah Galvin) menuju jalan Kaliurang (45 menit). Namun, bagaimana
lagi karena memang sebelumnya sudah janji dan HTrend merupakan organisasi baru
di UII yang bergerak di bidang Halal Center, jadi harus komit, apalagi sebagai
pioner.
Akhirnya baru
tiba di tempat pukul 09.00. Mas Hasrul dan Halida sudah bersiap rapi mengenakan
jas alma UII untuk wawancara seleksi anggota, sedangkan aku hanya mengenakan
jaket kulit coklat dan celana jeans coklat, belum mandi pula. Tak masalah,
namanya juga mahasiswa di hari Ahad, tak perlu terlalu formal.
Beberapa
anggota langsung mengantri satu persatu untuk diwawancarai. Calon anggota yang akhwat
diwawancarai oleh Halida, sedangkan yang ikhwan denganku dan Mas Hasrul. Hingga
pukul 11.00 calon anggota yang ikhwan mulai habis, sedangkan peserta akhwat
masih menumpk banyak dan Halida sudah ada agenda lain, terpaksa calon anggota
yang akhwat dialihkan ke aku dan Mas Hasrul.
Sebenarnya dari
tadi aku sudah menguap beberapa kali ketika sedang wawancara. Namun, aku selalu
tutupi mulutku yang sudah menganga menggunakan kertas, bergaya seperti orang
yang sedang berfikir dan menyembunyikan jawaban di balik kertas. Maklum,
semalam aku tidur jam 01.00 di tempat Galvin dan harus bangun pukul 05.00 untuk
sholat shubuh serta pukul 08.00 langsung menuju ke tempat ini. Jadi,
istirahatku sangat kurang sekali.
Akhirnya
sebelum jam 12.00 semuanya sudah di wawancarai. Tinggal beberapa anggota saja
yang belum bisa hadir pagi itu, sehingga akan ada wawancara susulan siang hari
atau sore harinya. Aku pamit pada mas Hasrul dan segera meluncur ke Kos.
Sesampainya di
Kos, aku sempatkan tidur sebentar sebelum sholat dzuhur. Ketika itu mendung
sudah menjadikan Jalan Kaliurang seperti lorong gua, gelap. Hujan akan segera
turun. Benar saja, ketika adzan dzuhur berkumandang, rintik demi rintik mulai
berjatuhan. Semakin lama rintik menjadi bulir-bulir hujan yang besar dan
menjadikan jalanan basah. Hujan lebat pun menyapa kota Yogyakarta di di siang itu.
Aku terbangun
dan bergegas untuk mandi. Sebenarnya kepala ku masih terasa berat dan ingin
melanjutkan tidur siangku. Hawa yang dingin ditamabah hujan di sinag hari,
membuat selimut menjadi kain yang sangat nyaman untuk dililitkan di tubuh.
Namun, aku takut untuk keterusan tidur dan tidak sholat dzuhur, sehingga ku
putuskan untuk segara mandi dan sholat dzuhur.
Pukul 12.45 aku
telah menunaikan sholat dzuhur. Masih mengenakan sarung, aku duduk santai di
kamar kos dan tiduran untuk melapas lelah. Kemudian aku mengambil hp ku dan
mengecek sms yang masuk. Ada nomor yang tidak dikenal masuk mengirim sebuah
pesan.
“Ditemukan dompet... bila tak kembalikan imbalan apa yg akan kau
berikan”
Awalnya aku
merespon dengan santai. Halah, paling orang iseng. Aku kemudian mencari dompet
ku di kantong saku celana dan di tasku. Ternyata tidak ada. Perlahan mulai
timbul rasa panik. Aku sendiri belum terlalu paham maksud dari pesan tersebut,
apakah ia minta imbalan atau hanya ingin memberi tahu dompetku. Aku kemudian
membalas pesan tersebut.
“ Maksudnya? Maaf ini dengan siapa ya? Sepertinya dompet saya
tertinggal.”
Sembari
menunggu balasan darinya, aku mengingat-ingat kembali dimana terakhir kali aku
meletakan dompet ku. Karena aku mengenakan celana kain hitam yang agak longgar
dan isi dompetku yang tebal, kemungkinan besar aku mengeluarkan dompetku dari
kantong celana dan meletakan di lantai saat proses wawancara tadi pagi. Lalu siapa
orang ini sebenarnya? Kok dia bisa sms nomor ku? Apa dia salah satu calon
anggota yang diwawancarai tadi pagi? Sepertinya tidak mungkin jika calon
anggota Htrend mengambil dompetku saat sesi wawancara. Walaupun sedikit
mengantuk, aku tetap sadar akan kondisi sekitarku.
Kemudian ada balasan lagi dari dia,
“Iyo, ada yang menemukan dompetmu+isinya, tpi duitnya udah ga da,
trus bila tak kembalikan ke kmu, imbalan apa yg akan kou beri, aq butuh duit
lho. Bisa tak buang dompetmu”
Waduh, bener-bener
ni orang jail banget. Apa susahnya tinggal balikin aja, terus kalo mau
imbalan ya nanti aku bakal kasih. Tapi sepertinya ini bakal bersyarat dan
minta imbalan yang besar. Kalau sudah seperti ini namanya kriminal. Aku mulai
benar-benar panik. Tiba-tiba aku menjadi lemas dan stress. Dosa apa yang telah
aku perbuat???
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.
(HR. Tirmidzi).
Sembari
intropeksi diri, aku memikirkan bagaimana caranya dompet ini kembali. Aku
langsung menuju kamar sebelahku yang kebutulan juga anak FK UII 2015. Aku
ceritakan kejadian ini ke Syafiq. Meminta pendapatnya. “Coba ditanya lagi
berapa imbalan yang dimau dan bagaimana nanti cara ngasih dompetnya”, saran
Syafiq.
Aku kemudian
menelpon nomor tersebut. Panggilan masuk namun ia tidak mau mengangkat. Aku
telpon lagi dan langsung ditolak. “SMS aja”, balas dia. Wah ini benar-benar
tindakan kriminal. “Lho kok dia bisa tahu nomor mas lho, mungkin temenya mas
kali yang jahil. Tapi aku yakin itu orang UII juga pasti.”, terang Syafiq. Mungkin
dia dapat nomorku dari Blog, ada tercantum nomor hp disana yang biasa digunakan
untuk konsultasi kedokteran. Mungkin saja dia search namaku di Google
dan nemu nomor ku dari situ. Aku coba memastikan kembali, apakah itu benar
dompetku atau bukan.
“Memang dompetnya warnanya apa? Aku kasih 50 ribu gmana? Kmu dmna?”,
balas ku.
“Dompet coklat, isinya surat-surat penting lho drpda kmu balik
cilacap ngurus surat2 itu, gmna klo aq minta 500rb. Sesuai dg takaran
surat-surat penting tsb”, dia membalas dengan menyebutkan ciri-ciri dompetku.
Sialan sekali
orang ini, minta setengah juta. Aku benar-benar geram. Minta imbalan sih
boleh, tapi ya ga usah makasa. Mana pake ngancem buang dompet lagi. Aku pikir-pikir
lagi. Mau mengiklashkan atau harus memperjuangakan. *kaya cinta aja...
“Kalo misal yes, aku ktemu kamu dmna? Kasih dompet ku gmna? Kasih uangnya
gmna?”, aku mulai mencoba memperjelas transaksi. Ini udah bener-bener kaya
korban dan pelaku aja.
Sambil menunggu
jawabanya, aku kemudian membaca Al-quran di kamar Syafiq. Mungkin karena sehari
lalu aku benar-benar lalai akan nikmat Allah sehingga Allah memberi cobaan ini.
“Ya Allah, pintar sekali cara engkau mengingatkan hambaMu ini.”, batinku dalam
hati.
Lantunan ayat
demi ayat membuat hatiku menajdi lebih tenang. Memang, sehari kemarin aku belum
sempat membaca Al-Quran sama sekali. Sholat shubuh tadi terlamabat, terus
sholat dzuhur tidak berjamaaah, dan segala bentuk kelalaian lainnya yang telah
kuperbuat. “Astaghfirullah”. Ini sudah kedua kalinya dompet ku benar-benar
hilang. Sebelumnya hilang saat sedang mengendarai motor, mungkin terjatuh dari
celana atau tasku. Untung saja dulu STNK motor ada di Jaket dan KTP ada di tasku,
sehingga aku hanya mengurus kartu ATM dan SIM. Tapi kali ini STNK, KTP, dan SIM
ada dompet ku semua. Motor jadi taruhannya.
“Menurutmu
gimana bro, apa ikhlasin atau bayar aja 500 ribu? Ada STNK and KTP e..?”,
tanyaku meminta pertimbangan kepada Syafiq. “Kalo menurutku sih ganti aja mas.
Soalnya kalo ngurus semua itu mesti bakal lebih dari 500 ribu. Tapi ini
bener-bener pemarasan e mas, minta imbalan kok maksa. Ini udah kaya kasusanya
menculik anak terus minta tebusan”, jawab Syafiq.
Memang, jika
kondisinya seperti ini, sama saja dia mencuri dompetku. Padahal kan tadinya
dompet itu tergeletak, tapi karena dia memaksa meminta imbalan, seakan-akan dia
yang mecuri dan merampas seluruh isi dompet tersebut. Benar-benar memanfaatkan
kelemahan orang. Pendapat Syafiq belum terlalu memantapkan hatiku. Apa aku
harus menelpon orang tua? Tapi kalau orang tuaku tahu pasti bakal dimarahi
karena dulu saja saat mengurus SIM sudah sangat repot dan ngantri seharian di
Polres. Tapi aku butuh pendapat yang lebih memantapkan, apakah aku harus mengambil
dompet itu atau merelakan dengan kehilangan uang?
Sebenernya satu
minggu ini aku mendapatkan sedikit rezeki dari berjualan buku kemarin. Jika 500
ribu saja aku ada uang di kamarku. Untungnya di dompet hanya ada 100 ribuan
saja. Jadi, jika tebusan segitu tidak terlalu bermasalah bagiku. Aku lebih
condong untuk menebusnya. Namun, agar lebih memantapkan niatku, akhirnya aku
memutuskan menelpon orang tuaku untuk meminta kepastian.
Aku mulai
mencari dan menekan nomor ayahku. “Tulalit...tulalit...” Sayangnya tidak ada
balasan. Aku mencoba menelpon kembali. Namun, hasilnya tetap sama. Kemudian aku
menelpon nomor ibuku. Ternyata hasilnya sama, tidak ada balasan. Mungkin orangtuaku
masih bekerja dan masih sibuk. Terpaksa aku harus menyelasaikan urusan ini
sendiri.
Akhirnya ada balasan lanjutan dari pelaku...
Wah sepertinya pelaku
mulai benar-benar mengancam. Tapi aku menocoba untuk menawar walau aku mampu
menebus 500 ribu. Sayangnya, dia sekarang benar-benar mengatahui statusku
sebagai mahasiswa FK *padahal yo hidupku baisa ae.
Hujan masih
turun dengan sangat deras di luar sana. Aku bingung apa mau orang ini. Aku
segera menjawab smsnya,
“Yo wis, duitku neng atm tapi.. gmna ni? Aku di kampus. Kmu dmna?
Aku sedikit
berbohong untuk memancing kepastian darinya. Aku masih di kamar dan uang
sebenarnya sudah siap. Namun lama menunggu, tidak ada jawaban lagi darinya.
Waktu sudah menunjukan pukul 14.00. Sudah hampir dua jam waktuku terbuang
karena kelalaian ku. Hiks.. sudah lemas dan tak berdaya lagi aku. Pasrah.
Aku meneruskan
mengajiku. Hitung-hitung sekalian taubat dari semua kesalahan yang aku lakukan.
Mencoba berfikir berbagai kemungkinan sembari melantunkan ayat suci Al-Quran. Akhirnya
ada sedikit pencerahan. Jika memang itu bukan temanku, mungkin saja itu si Om Bram,
si satpam penjaga masjid Ulil Albab (kebetulan Masjid Kampus Ulil Albab berada
di lantai 3 gedung Kahar Muzakir). Tapi bagaiamna dia mendapatkan nomorku,
jikalau dia menyimpan nomor ku pasti akan muncul di line atau WA.
Kebetulan
beberapa hari yang lalu teman-teman dekatku sedang hangat membicarakan satpam
jahil itu. Ia baru mempuanyai Line dan teman-teman “Omah” mebuat grup “Konsultasi
Om Bram”, grup berisi obrolan tak bermutu. Jadi aku segera mengecek daftar
pertemananku, jika dia menambahkanku menjadi temannya di Line kemungkinan dia pelakunya,
karena Line akan menambahkan teman secara otomatis dari kontak yang disimpanya.
Ternyata ada, dia menambahkanku menjadi teman di Line. Tapi itu kapan ya? Tidak
ada notifikasi masuk hari ini, bisa juga dia menambahakanku menajdai teman di
hari-hari sebelumnya.
Kemudian aku
mencoba menyimpan nomor tersebut di kontak Tab ku. Mungkin saja dia menginstal
WA di hpnya, sehingga setidaknya aku bisa tahu profil pictur-nya. Namun,
setalah nomor di save, tidak muncul tanda Whatssapp, pupus sudah
harapanku. Tidak ada tanda-tanda lagi dia menjawab pesanku. Disaat sudah niat
menebus, malah dia menghilang. Atau mungkin dia sudah tidak sabaran dan telah
membuang isi dompetku? Ah.... aku makin pusing.
Akhirnya aku
mengambil keputusan akan menerjang hujan dan menuju Masjid Ulil Albab,
setidaknya aku menemui dulu satpam yang sedang berjaga disana. Di tengah
derasnya hujan, aku menancap gas motor ku menerjang semua guyuran air dari
langit. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir tenyata memalukan juga, tadi dzuhur tak
beranai menerjang hujan untuk sholat berjamaah, namun sekarang ketika dikasih
cobaan segala hal bisa dilakukan. Yah.. namanya juga manusia.
Sesampainya di
Masjid Ulil Albab, terlihat beberap mahasiswa masih terjaga di lantai satu
gedung kahar Muzakir selasar utara karena terjebak hujan. Aku lepas mantelku
dan sedikit berbasah-basah, berlari meunju kerumana mahasiswa tersebut.
Ternyata disana ada Om Bram yang sedang berjaga.
Langsung saja
aku menemuinya dan menceritakan tentang masalah ku. “Ngene om, aku ki bar
kehilangan dompet. Koe nemu ra dompet ku?”, langsung saja aku to the
point setelah menceritakan kronologinya. “Weh, aku yo ga tau. Beru aja tadi
jaga siang. Weh jan, kalo kehilangan kaya gitu aku sering nemu. Hp, dompet,
duit sak kresek isinya 2 juta, semua ku kembalikan. Tapi yo asem, wis
dibalike tapi ga ngasih apa-apa. Ya semoga jadi amalku aja de.”, cerita Om
Bram. Kebetulan aku dengan Om Bram sudah kenal dekat. Selama 3 tahun kuliah di
UII, aku sering ketemu beliau saat sholat berjaamaah di Ulil.
Akhirnya, di siang
yang basah kuyub tersebut, Om Bram malah banyak bercerita kasus-kasus
kehilangan yang pernah terjadi. Aku mencoba menelpon nomor tersebut karena
tidak ada lagi balasan masuk. Saat itu Om Bram juga menyimak dengan seksama. Ia
juga berniat untuk membantu mencarikan dompetku yang hilang. Namun, kali ini
panggilan sudah tidak bisa masuk lagi. Apa jangan-jangan dia sudah benar-benar
membuang dompet ku dan mencopot kartu tersebut sehingga tidak bisa dihubungi
lagi?
Oh iya, sebelum
aku menuju Ulil, aku SMS Ican untuk meminta nomor Om Bram agar memastikan
apakah nomor yang digunakan oleh pelaku sama atau tidak dengan nomor beliau.
Ternyata berbeda. Ican pun menyusul menemui ku dengan Om Bram di Ulil selapas
dari Gajebo.
“Gmna bro? Aku sdh siap nih. Aku pinejm duit dulu.. Aku ikhlash
wis, 500 rb, Yo sama2 bntu. Dmna?”, aku SMS kembali pelaku. Sudah tidak ada
jawaban lagi. Padahal aku sudah membawa uang 500 ribu dan bersiap di Ulil.
Kemudian aku
dan Ican menuju Selatan Kahar untuk mengecek ulang tempat aku kehilangan
dompet. Ternyata disana ada Mas Hasrul selapas wawancarai anggota yang belum
sempat diwawancarai tadi pagi. Aku ceritakan kejadian tersebut kepada Mas
Hasrul. “Ouw, itu nomornya apa? Kalo Indosat ke counter pusat aja buat di cek
lokasinya. Dulu aku juga sempet kaya gitu kok”, saran Mas Hasrul. Tapi bagiku itu
percuma jika kartu tersebut telah dimusnahkan. Beberapa saat kemudian, Mas
Hasrul ditelpon oleh orang yang tak dikenal. Bermodus menang hadiah, ternyata
ia juga sedang dibujuk untuk mentransfer uang. Tapi ia segera sadar jika itu
penipuan. Wah kriminalitas sudah menjarah dimana-mana ternyata.
Pukul 14.30 aku
memutuskan untuk kembali ke kos untuk rehat sejenak. Selepas asar aku niatkan
untuk segera ke kantor polisi mengurus semua kehilangan. Harapanya, polisi juga
bisa membantu menyelasaikan kasusku. Aku pasrah.
Saat adzan Asar
berkumandang, hujan mulai reda. Aku segera kembali ke Ulil untuk sholat
berjamaah dan bersiap dengan semua fotokopian surat-surat penting yang aku
simpan sebagai tanda bukti. Aku juga menyiapkan uang shodaqoh 50 ribu untuk
disedekahkan sebagai penghapus dosa-dosa ku. Siapa tahu Allah melipatgandakan
menjadi senilai 500 ribu untuk tebusan dompetku. Dengan harap, ada orang yang
tiba-tiba berbaik hati mendatangiku dan menyerahkan balik dompetku yang telah
terbuang.
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”(HR Tirmidzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614).
Selepas sholat
asar, aku sangat kelelahan. Aku berbaringan di karpet empuk masjid Ulil Albab
untuk melepas kesal, penat, dan rasa lelahku. Tiba-tiba ada SMS dari nomor tak
dikenal masuk.
Awalnya aku
sudah tak menghiraukan lagi. Entah itu siapa, temanku yang jahil atau siapapun
aku tak peduli. Dasar orang-orang jahil. Tapi tiba-tiba aku teringat dengan
nomor yang dikiram Ican tadi. Atau jangan-jangan itu nomor Om Bram. Aku segera
melihat riwayat SMS Ican. Ternyata benar saja, Dasar Om Bram.....
Segera aku temui
dia di lantai bawah. Dia menceritakan bahwa penemunya adalah Pak Ngadiono, cleaning
service yang biasa bersih-bersih. “Ngono kei imbalan neng Pak Ngadiono.
Dia orangnya jujur. Awas wae, iso tak buang tenanan dompetmu. Wkwkwkw
Aku tadi pake nomor yang lain. Sewaktu kamu tadi disini langsung aku matiin
nomor yang itu, jadi pas tadi kamu telpon udah ga nyambung lagi, hahah aku puas
kerjain kamu!!!”, lawak Om Bram.
Dasar Om Bram.
Dari awal juga aku punya firasat buruk ke dia. Tapi tak apalah, dia sudah
membantu menjaga dompetku. Sambil ketawa-tawa, dia puas mengerjaiku. Pintar
sekali modusnya dengan bercerita tentang pengalaman yang sama, ia juga
sebelumnya selalu mengerjai orang-orang yang barangnya tertinggal. Awas aja
buat Om Bram kalo suka jail-jail, nanti tak suruh Galvin maju lho, wkwkw. (Btw
Galvin juga sangat paranoid dengan Om Bram karena keusilannya)
![]() |
| Pelaku "Si Om Bram" |
The End.
“Allah Ta’ala berfirman, 'Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari."(HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)
Hikmah
yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah :
1.
Jika
Allah menyayangi suatu hamba, maka Ia akan beri cobaan di dunia.
2.
Besabar
dan teruslah berbaik sangka pada Allah di setiap kondisi
3.
Taruhlah
dompet di tempat ya aman, singkirkan kartu-kartu berharga jika sudah sering
kehilangan dompet agar tidak ribet mengurusnya kembali.
Cerita ini bukan merupakan cerita fiktif belaka dan merupakan suatu kejadian yang sering terjadi di masyarakat, kejahatan bukan hanya terjadi karena niat sang pelaku, namun karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah.....!!!



Lah iyo, dia tu sukanya ajakin bercanda mahasiswa kok..
ReplyDelete