Gathering FK UII 2013 (Download Foto-foto)


Sabtu, 31 Agustus 2013

Roda-roda sepeda motorku mulai menyusuri jalanan beraspal dan menurun. Jalan Kaliuran Km 14,5 adalah tujuanku. Di kampus uii segera ku parkirkan kendaraan di dekat masjid, dan disana tampak teman lama ku sudah berdiri mencari gerombolan yang lain. Sandi Harbi Vidista namanya, masih terbayang dulu bagaimana lucunya ia saat bercerita, sekarang ia tampak lebih tinggi, bahkan lebih tinggi lebih dari aku sekarang. Kemudian kami sama-sama menuju masjid tuk menunaikan sholat asar.
            Salam terakhir ternyata sudah bergema, tampak di barisan sof segerombolan anak muda yang sekiranya sama statusnya dengan aku, yaitu mahasiswa baru uii. Memang benar mereka ternyata mereka anak-anak FK UII 2013 yang menjadi teman seperjuangkan ku. Kemudian ku tunaikan sholat asar membentuk jamaah yang baru.
            Kini kita telah berkumpul dengan sekolopok orang-orang yang baru disepanjang jalan masuk UII, dengan sedikit ragu kusapa mereka, dan mereka pun membalas dengan senyuman disertai jabat tangan saling mengenalkan dirinya masing-masing. Semenjak saat itu, kita baru sama-sama tau wajah yang sebenarnya, walaupun sebelumnya sudah saling mengenal di grup line, twitter, maupun sms.  Tak lama setelah semuanya berkumpul, kita semua beranjak menuju Muara Kapuas di KM 15  dengan kendaraanya masing-masing. Sandi kini menjadi sopir untuk motor ku.
            Iringingan instrument menyambut kedatangan kita, menambah kehangatan suasana setelah kita sampai di sebuah pondok bambu di RM Muara Kapuas. Sebagian teman-teman yang menjadi panitia telah menyiapkan berbagai perlengkepan untuk acara gathering yang akan kita lalui waktu itu. Sebagian yang lain ternyata sudah menunggu kedatangan teman-teman barunya disana. Jabatan tangan beriring senyuman membuat suasana semakin hangat. Membuat simpul-simpul baru tali pertemanan.

            Kini pondok bambu tersebut semakin sesak dengan anak-anak fk yang semakin lama semakin bertambah. Kemudian kita berinisiatif membentuk lingkaran besar, sehingga satu sama lain dapat menatap wajah-wajah baru yang akan menjadi teman seperjuangannya. Detia dan Wahda membuka acara dengan mengucapkan salam. Membwakan acara gathering ini sampai akhir nanti.
            Tak kenal maka tak sayang atau Tak kenal maka ta’ngaruf (kenalan), menjadi dasar kita untuk saling memperkenalkan  diri satu sam lain. Dengan menggeser Mic. Kesebelahnya, satu persatu kita menyebutkan nama dan asal. Semua memperhatikan teman-teman yang sedang memperkenalkan dirinya. Hingga akhirnya mic. Kembali ke tangan Detia sang pembawa acara.
            Suana hening sejenak, kemudian Detia memandu teman-temannya untuk memulai game oper bolpoint. Ia mengintruksikan untuk mengoper bolpoint-bolpoint yang sudah tersebar di disetiap sisi lingkaran ke teman sebelahnya. Sembari musik berbunyi, ballpoint itu tetap berjalan dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Hingga musik berhenti, orang yang sedang memegang ballpoint berhak mengikuti game yang selanjutnya.
            Memang awalnya game ini bisa diberi nama oper ballpoint, tapi setelah suasana semakin ramai, game ini menjadi lempar ballpoint. Karena tak tentu arah mengoper ball pointnya, ada yang satu anak memegan dua bollpoint. Kemudian ada yang sangat khawatir saat musik berhenti ballpoint masih ada di tangannya, maka ia langsung aja lempar ke teman yang ada di dpannya. Suasana semakin tak karuan hingga akhirnya musiknya benar-benar berhenti.
            Korban-korban game ini segera dipanggil untuk maju berdiri di depan anak-anak. Ada tujuh korban yang akan mengikuti game selanjutnya. Setelah semua korban terkumpul, mereka ditugasi untuk meminta tanda tangan sebanyak banyaknya ke teman-teman yang ikut acara gathering ini. Mereka diberi kertas A4 satu lembar, dan bagi yang bisa mendapat tanda tangan sebanyak-banyaknya maka ia akan mendapatkan hadiah dari panitia.
Detia and Wahda
Satu...Dua..Tiga... lomba dimulai. Dengan segera, meraka menuju ke arah target untuk meminta tanda tangan.  Anak-anak yang tidak menjadi koraban serasa menjadi artis sesaat karena dimintai tanda tangan oleh orang banyak. Dari sekian tanda tangan yang ku berikan, semuanya beda-beda untuk mempercepat penulisan. Bahkan ada yang nyuruh tanda tangan pake inisial aja. Wah pokoknya seru banget dee..
Minta tanda tangan
Selesai game, kita disuguhi show stand up comedy dari kakak tingkat. Komedian yang diundang ada dua orang. Pertama mereka memperkenalkan diri dihadapan kita dengan gaya masing-masing yang kocak, Kak Titis yang gak mau dipanggil Titi* dan syahid yang yang kepengin mati syahid. Gaya mereka yang kocak tapi jayus cukup menghibur kita disini.
Stand up Comedy
“Gua sebenernya paling gak suka yang namanya sabun, karena sabun itu membunuh kuman, menyakiti kuman, masa kita tega membunuh mahkluk hidup” –kalo emang ngaku cinta ma kuman mending ga usah mandi sekalian aja mas-
“Bicara tentang cinta, kalian tau tentang valentine day kan.... aku sebenernya paling ga setuju ama namanya valentine. Valentine tu menyikiti manusia, tidak manusiawi, dan melnaggar hak asasi manusia. Tau ga knapa?  Karena Valentine tu bikin ngiri orang yang jomblo” –Yang ini baru lumayan keren –
“Aku sebenernya ga percaya kata-kata pak guru kalo semua murid itu pinter. Kalian percaya? Kalau misalnya emang semua murid tu pinter, kok gak masuk UGM ?” – mak jleb...menusuk-

"Jus apa yang bikin sakit hati...??? Just Friend"-Bener banget tu-
Tak tersa matahari telah hilang di ufuk barat dan waktu maghrib pun datang. “Karena kita ana UII teman-teman, habis ini acaranya sholat maghrib. Disebelah sana sebenernya ada mushola, tapi sempit banget buat anak sebanyak ini, kalaupun misalnya gantian, kayaknya juga ga nyukup waktunya buat sholat maghrib karena saking banyaknya antrian. Maka dari itu panitia berinisiatif buat sholat jama’ah disini aja, ntar meja-mejanya bisa disingkirin kesamping dulu. Gimana, setuju kan ?”, tanya Detia memandu acara berikutnya. Kita serempak menjawab setuju. Hal yang sangat ku banggakan, di awal saja sudah bisa sholat jama’ah bareng, itu menunjukan sebuah parameter kekompakan suatu kelompok. Karena dengan sholat jama’ah, secara tidak langsung ukhuwah islamiyah kita terjalin menjadi semakin erat.
Setelah sholat maghrib, beberapa orang telah mengantri di barisanya untuk mengambil jatah makan malamnya. Suasana semakin hangat saat kita duduk melingkar, bergerombol, duduk lesehan dengan makan malamnya masing-masing. Seakan keluarga baru yang telah berpisah lama dan kini berkumpul untuk menyantap hidangan makan malamnya bersama. Tak lupa iringan musik yang membuat kota jogja terasa seakan menjadi tempat baru bagi keluarga ini.
Makan Bersama
Makanan telah tersantap, perut sudah terisi. Saatnya bercanda ria dan berbagi kisah baru. Mengobrol dengan orang baru memang menyenangkan, hingga kami pun lupa bahwa di luar sana ternyata matahari sudah menghilang. Pertanda bahwa batas sewa pondok makan ini akan segera berakhir. Moment yang terakhir di setiap sesi acara yang tak pernah terlewatkan adalah foto bersama. Dengan segera, kami menata formasi sedemikian rupa agar kita bisa narsis bareng di depan kamera Galvin.  Dan akhirnya moment ini dapat terabadikan sebagai kisah baru di setiap lembaran hidup masing-masing anak.
            Aku ucapin makasih banget buat panitia yang udah bikin acara ini, detia, fara, teguh, oik, ria dan masih banyak lagi yang gak bisa aku sebutin satu-satu disini. Makasih juga buat Galvin yang udah jadi fotografer di acara ini. And makasih banget buat temen-temen yang udah nyempetin hadir di acara ini. Bagi temen-temen yang pengin punya koleksi foto-foto gathering, silahkan download aja link dibawah ini. Filenya ku ekstrak jadi bentuk rar.

Comments

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)