REFLEKSI DIRI MASA PUBERTAS DALAM ASPEK ILMU KEDOKTERAN DAN KEISLAMAN
Minggu yang menyibukan.
Disaat tugas blok semakin menumpuk, akhirnya salah satunya bisa kelar juga.
Tugas refleksi blok endokrinologi dan reproduksi ini memang agak lucu, kita
disuruh cerita pengalaman pertama kali memasuki masa pubertas. Yaudah deh aku
bikin kayak gini aja, biar aku sadar ternyata aku udah gede....Kalo ada
kekurangan silahkan komen, jika ada baiknya silahkan ambil hikmahnya...dan
semoga bermanfaat,, :-)
![]() |
| Chemistry of Love |
Perkenalkan,
nama saya Faisal Ridho Sakti, seorang mahasiswa kedokteran Universitas Islam
Indonesia semester II. Tidak terasa saya sekarang sudah berstatus sebagai mahasiswa,
padahal serasa baru kemarin masih mengenakan seragam biru putih, bahkan seakan
baru minggu lalu melepas seragam merah putih. Sekarang saya berumur 18 tahun.
Orang bilang di umur-umur ini saya disebut sebagai ‘bujang’ atau biasa disebut
sebagai remaja. Remaja memang menjadi suatu masa yang menarik bagi setiap insan
yang telah melaluinya. Ada banyak problematika, perubuhan sikap maupun fisik,
ataupun kematangan berfikir pada diri seorang remaja (Ruffin, 2009). Disini
saya akan sedikit membahas awal mula saya memasuki masa remaja dan mengkaji lebih
dalam tentang pubertas dalam aspek kedokteran dan keislaman.
Jika dilihat dari segi umur,
menurut WHO batasan umur remaja adalah 10-20 tahun. Kemudian WHO membagi kurun usia tersebut dalam dua
bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun (Dewi, 2009
dalam Sarwono, 1994). Jadi menurut batasan umur tersebut, saya termasuk remaja
akhir yang sebentar lagi memasuki usia dewasa.
Seperti
yang kita ketahui, masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju
dewasa (Graber, Julia, dan Robert 1994). Dalam proses menuju kedewasaan,
seorang remaja mengalami banyak perubahan secara psikis maupun fisik. Secara
fisik, remaja mengalami perubahan yang cukup drastis pada tinggi badan, berat
badan, bentuk tubuh, dan dalam hal
kematangan seksual (Papalia, 2004). Menurut Sulaeman (1995), ciri kematangan
seksual pada remaja (pubertas) ditandai dengan perkembangan seks primer dan
seks sekunder. Perkembangan seks primer ini lebih mengarah pada kemasakan organ
reproduksi ditandai dengan mimpi basah (keluarnya sperma saat tidur) pada pria,
sedangkan perkembangan seks sekunder lebih mengarah pada pertumbuhan fisik
seperti timbulnya rambut-rambut pada pubis, perubahan kulit, otot, dada, suara
dan panggul (pada wanita) yang kedua perkembangan ini menuntut proses
penyesuaian.
Batubara
(2010) menerangkan bahwa penyebab proses pubertas utama adalah peningkatan
hormon GnRH, keadaan ini dipengaruhi proses umpan balik negatif dan positif.
Hormon ini dihasilkan pada saat minggu ke-10 pada janin dan puncaknya tejadi
pada minggu ke-20, kemudian kadarnya turun pada saat akhir kelahiran. Hormon
ini meningkat kembali secara periodik setelah kelahiran hingga umur empat tahun.
Kemudian ketika susunan saraf pusat menghambat GnRH, hormon ini dihentikan
sekresinya. Pada saat remaja atau pubertas, inhibisi susunan saraf pusat
terhadap hipotalamus menghilang sehingga hipotalamus mengeluarkan GnRH akibat
sensitivitas gonadalstat.
GnRH
ini diketehui sebagai bagian utama pengatur pelepasan hormon LH dan FSH.
Sekresi LH akan merangsang sel-sel interstisial leydig untuk menghasilkan
hormon testosteron, sedangkan FSH akan merangsang sel-sel sertoli di dalam
tubulus seminiferus yang mengakibatkan
sekresinya berbagai unsur spermatogenik. Secara bersamaan, testosteron juga mempunyai
efek tropik yang kuat terhadap spermatogenesis. Selain itu, testosteron pada
masa janin merangsang pembentukan alat-alat genital, seperti penis, skrotum,
kelenjar prostat, dan vesikula seminalis (Guyton dan Hall, 2006).
Di usia remaja akhir yang sedang
saya jalani ini, ada beberapa tanda yang menunjukan bahwa saya adalah seorang
remaja. Sebelumnya telah dibahas bahwa ciri-ciri seorang remaja adalah adanya
seks primer dan seks sekunder. Untuk tanda seks primer, saya sendiri mengalami
mimpi basah pada saat kelas 6 SD, atau saat saya berumur 12 tahun. Saat itu
saya telah mengetahui ciri-ciri seorang remaja, jadi ketika saya mengalami
mimpi basah, saya tidak merasa aneh dan merasa canggung. Mimpi basah pun terus
berlanjut dan semakin terpola dan membentuk suatu siklus tersendiri. Biasanya
saya mimpi basah setiap satu hingga dua minggu sekali, dan seiring bertambahnya
usia, frekuensi mimpi basah saya semakin sering. Tetapi, fakto-faktor kondisi
fisik maupun lingkungan juga mempengaruhi frekuensi mimpi basah, seperti suhu
lingkungan teralalu panas atau dingin dan keadaan fisik yang sedang lelah atau
segar.
Guyton dan Hall (2006) menjelaskan
bahwa spermatogenesis dapat berkurang dalam keadaan panas karena peningkatan
suhu dapat menyebabkan degenarasi dari sebagian besar sel-sel tubulus
seminiferus selain spermatogenia kecuali sel spermatogonia. Maka dari itu,
skrotum berperan penting untuk mempertahankan suhu testis 2oC di
bawah suhu dalam tubuh. Pada cuaca dingin, skrotum akan menyebabkan otot-otot
disekitarnya berkontraksi secara refleks dan mempertahankan perbadaan suhu 2oC
tersebut.
Secara fisiologis, mimpi basah
terjadi akibat penimbunan sperma yang sudah terlalu banyak di epididimis.
Sperma ini dikeluarkan saat seorang remaja tidur dan sedang melewati mimpinya.
Biasanya mimpi saat pengeluaran sperma tersebut berkaitan dengan hal-hal yang
merangsang seksualitas orang tersebut. Ketika rangsangan seksual memuncak,
pusat reflek medula spinalis mulai melepas implus simpatik yang meninggalkan segmen Vertebra Torakal-12 sampai
Vertebra Lumbal-2. Saraf ini berjalan ke organ genital melalui pleksus
hipogastrik dan pleksus saraf pelvis untuk mengawali proses ejakulasi, yaitu
emisi (Guyton dan Hall, 2006).
Emisi ini dimulai dengan
kontraksi vas deferens dan ampula yang menyebabkan keluarnya sperma ke dalam
uretra interna. Secara bersamaan, kontraksi otot-otot yang melapisi kelenjar
prostat dan kontraksi vas deferens, akan mengeluarkan cairan prostat dan cairan
seminalis ke dalam uretra, sehingga akan mendorong sperma lebih jauh. Semua
cairan ini bercampur di uretra interna dengan mukus yang telah disekresikan
oleh kelenjar bulbouretra untuk membentuk semen (Guyton dan Hall, 2006).
Pengisian
uretra interna dengan semen menyebabkan pengeluaran sinyal aferen yang dihantarkan
melalui nervus pudendus ke regio sakral medula spinalis, hal ini menimbulkan
rasa penuh yang mendadak di organ genetalia interna. Lebih jauh lagi, sinyal
sensoris ini membangkitkan kontraksi ritmis oragn genetalia interna dan
kontraksi otot-otot iskhiokavernosus dan bulbokavernosus yang menekan dasar
jaringan erektil penis. Bersamaan dengan itu, kontraksi berirama dari otot
pelvis dan beberapa otot penyangga tubuh menyebabkan gerakan mendorong dari
pelvis dan penis sehingga mendorong kumpulan cairan sperma dan semen tadi ke
arah luar uretra. Keluarnya cairan sperma ini disebut ejakulasi. Serangkaian
periode emisi dan ejakulasi disebut orgasme pria. Pada akhir proses tersebut,
gairah seksual dan ereksi hilang dalam waktu satu sampai dua menit. Proses akhir
orgasme ini disebut resolusi (Guyton dan Hall, 2006). Ejakulasi pria juga di
gambarkan dalam Al-quran surat Ath-Thoriq, “Ia diciptakan dari air yang terpancar.”(Q.S. Ath
thariq:6).
Ada
banyak ayat di dalam Al-quran yang menjelaskan tentang ciri seks primer ini,
lebih khususnya adalah hal yang berkaitan dengan sperma. Sebelumnya telah
dijelaskan bahwa sperma yang keluar merupakan campuran dari berbagai cairan
yang dihasilkan di organ adneksa genital pria. Dalam Al-quran Allah berfirman
pada surat Al-Insan ayat 2, yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari
setetes mani yang bercampur yang Kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat”. Beberapa ulama menafsirkan
kata bercampur ini adalah percampuran sperma dengan ovum, namun jika dikaji
lebih dalam, sperma sendiri merupakan peercampuran dari berbagai cairan yang
dihasilkan di kelenjar prostat, kelenjar bulbouretra, dan vesikula seminalis.
Kemudian dalam
surat Al-Mursalat ayat 20, Allah berfirman : “bukankah
kami menciptakan kamu dari air yang hina.” Jika dilihat dari segi kedokteran, air yang dimaksud adalah sperma.
Sperma ini keluar melewati uretra yang juga merupakan jalur kencing. Jadi hina
yang dimaksud dari segi kedokteran adalah cairan sperma yang juga keluar
melewati jalur kencing. Berberapa ulama tafsir menjelaskan sifat hina ini
sebagai suatu hal yang tak sebanding jika dibandingkan dengan Allah Yang Maha
Pencipta.
Selain tanda-tanda seks primer,
seiring berjalanannya waktu (kelas VII MTs – kelas XII SMA), pertumbuhan fisik
saya juga mulai menunujukan tanda-tanda sekunder, yaitu mulai tumbuh
rambut-rambut halus yang akhirnya semakin menebal di sekitar genital dan aksial
(ketiak). Selain itu juga mulai timbul jakun, tumbuh janggut dan kumis, dada
mulai membidang, badan lebih berotot, suara mulai memberat, dan pertumbuhan
tinggi badan yang melejit.
Guyton dan Hall (2006) menjelaskan
bahwa pengaruh utama dari munculnya tanda-tanda seks sekunder ini adalah akibat
dari testosteron. Testosteron ini memberikan banyak efek pada tubuh sehingga
muncul tanda-tanda seks sekunder. Testosteron menyebabkan tumbuhnya rambut di
atas pubis, dada, kadang di wajah dan sedikit sekali di punggung. Testosteron
juga menyebabkan hipertrofi mukosa laring sehingga suara mulai memberat. Pada
otot, testosteron menyebabkan pengangkutan lebih asam amino sehingga terjadi
peningkatan massa otot. Sedangkan pada tulang, testosteron menyebabkan retensi
kalsium dan peningkatan matriks tulang sehingga tulang menjadi lebih keras dan
pertumbuhan menjadi lebih cepat.
Di dalam
al-quran, Allah menjelaskan proses pertumbuhan sekunder ini dalam surat Ar-Rum
yang berbunyi :
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (Ar-Rum : 54).
Shihab (2002)
menjelaskan bahwa permulaan ayat ini menyebut nama wujud yang teragung dan
khusus bagi-Nya serta yang mencakup segala sifat-Nya yakni Allah, yang
menciptakan kalian dari keadaan lemah yakni
sperma yang bertemu dengan indung telur dan kemudian melalui berbagai tahapan
pertumbuhan. Setelah dari keadaan lemah, (melalui berbagai tahapan, yaitu tahap
bayi, kanak-kanak, dan remaja), Dia
menjadikan kamu sesudah keadaan lemah memiliki kekuatan sehingga kamu menjadi dewasa dan sempurna pada umur ini. Tahap
ini berlangsung cukup lama. Kemudian setelah melalui belasan tahun dan melewati
usia matang, Dia menjadikan kamu sesudah menyandang kekuatan itu menderita kelemahan kembali dengan hilangnya sekian
banyak potensi, dan tumbuhnya uban di kepala kamu. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya sesuai
hikmah kebijaksanaan-Nya dan Dialah Yang
Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Dari ayat ini kita bisa mengambil
hikmah bahwa pada masa remaja dan awal dewasa muda kita diberi suatu kekuatan,
yaitu kekuatan fisik dan akal yang lebih dibanding pada masa kanak-kanak. Maka
sebaiknya kita manfaatkan masa muda kita untuk hal- hal yang bermanfaat
sehingga bisa menghasilkan banyak karya yang cemerlang.
Dari berbagai uraian yang saya
bahas diatas, kita juga bisa mengambil banyak hikmah berkaitan dengan
perkembangan reproduksi yang kita alami. Kematangan sistem reproduksi yang
menghasilkan berbagai perubahan, tentunya akan membuat kita nantinya lebih
mudah dalam hal memperoleh keturunan. "Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan
berpasang- pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila
dipancarkan." (An-Najm : 45-46).
Maka dari itu, sebagai
seorang remaja, marilah kita jaga alat-alat reproduksi kita agar terhindar dari
berbagai penyakit seksual dan termasuk orang-orang
yang dimuliakan dalam surga-Nya. “dan orang-orang yang memelihara
kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka
miliki. Maka sesungguhnya mereka tidak tercela” (Q.S Al-Ma’arij : 29-30). “Mereka itu dimulaikan dalam surga” (Q.S Al-Ma’arij : 35).

👍
ReplyDelete