Birrul Walidain (Berbakti Pada Kedua Orang Tua)


            Kamis (28/08/14), aku berangkat dari Jogja menuju Cilacap, rumahku. Sebenarnya agak berat meninggalkan Jogja karena ada banyak hal yang harus diurus untuk persiapan OSPEK Mahasiswa Baru (Maba) dan Rapat Kerja (Raker) organisasi. Jika tidak ada acara hari Sabtu (30/08/14) di rumah, pasti aku akan tetap di Jogja. Ya bagaimana lagi, besok acaranya di rumah adalah Tasyakuran Walimatus-Safar Lil Hajj kedua orang tuaku, sedangkan ortuku akan berangkat haji pada tanggal 19 September besok pas aku lagi di Surabaya (ada acara TEMILNAS). Jadi aku harus menyempatkan pulang demi bakti ku pada orangtua. Itung-itung dompet juga udah tipis,,,hehehe. 


            Saat tiba di rumah, ternyata tratag sudah dipasang, di latar belakang rumah juga sudah banyak yang masak-masak, kur.si-kursi juga sudah mulai ditata rapi.  Besoknya (29/08/14), sanak saudara ku sudah banyak yang berdatangan ke rumah ku. Puncaknya pada malam harinya. Sebagian saudara ku menginap di rumah ku. Esoknya, kami sudah siap-siap untuk menyambut tamu dan menghidangkan sambutan terbaik untuk warga sekitar. Banyak kiai-kiai dan para ulama yang juga diundang dalam acara ini. Acara puncaknya adalah pengajian dari Kiai Muhtaram pengasuh Ponpes Sarbini Hasan Kamulyan.

Para Kiai dan Ulama


            Ada sedikit cerita yang ingin saya sampaikan disini, yaitu cerita true story dari salah satu sanak saudaraku sendiri. Cerita itu mengalir begitu saja saat kami ngobrol-ngbrol di mushola rumah ku seusai pengajian. Saudara ku itu terhitung sepupu ku sendiri, anak Almarhumah Budhe Rus, Mantri Anto. Obrolan ringan pada awal pembicaraan adalah tentang kenapa di jidad ane ada dua titik hitam, dia berusaha menguak rahasianya, dan ane hanya bias menjawab bahwa ini hadir secara alamiah. Tapi mas Anto masih belum bisa menerima jawaban ku, ia terus menepis semua jawaban ku dan berfikir secara rasional kenapa jidad ini bisa ada bekasnya, sedangkan di jidadnya tidak.


            Sudah lah, tiada pemecahan masalah dan ujung cerita dari jidad ini, cerita yang sesungguhnya adalah tentang Birrul Walidain (Berbakti pada kedua orang tua).  Sedikit demi-sedikit tema pembicaraan kami mengarah pada masa lalu Mas Anto saat jaman kelamnya hingga mendapat hidayah. Ceritanya bermula pada saat Mas Anto memasuk bangku SMP, masa dimana gejolak menunjukan jati diri sedang tinggi-tingginya. Bermain tak kenal waktu, menjadi hobi anak remaja pada masa itu.
Hingga tiba sore itu, Mas Anto pulang kerumah dengan keadaan lusuh, belum mandi, dan lelah. Sekitar pukul empat sore ia memasuki rumahnya, dan ternyata ibunda nya (Budhe ku) sudah menunggu disana. “Anto koe sekang endi! dolan bae ya ! nganah cepetan adus! wis sore!” (Anto darimana kamu! Main terus ya ! sanah cepetan mandi !). Merasa  mendapat bentakan dari ibundanya, Anto pada saat itu amarahnya bergejolak. “pulang-pulang, capek kok dimarahin, males amat mandi, ya istirahat dulu bentar”, ia berkata dalam batinnya. Melihat tidak ada respon dari anaknya, Ibunya langsung menyeretnya agar ia segera mandi, namun Anto mengelak hingga terjadi percekcokan antara anan muda dan ibundanya. Mendengar bagian ini, aku semakin serius menyimak ceritanya.

La kepriwe mening, wis kesuh sal, langsung ae tak jupuk tongkat sing nggo bendera kae neng ngarep umah, trus tak antem neng sirahe ibuku, namanya juga jiwa muda”, ceritanya kepada ku. “Masa mas pukul budhe pake tongkat pengibar bendera? Di kepalanya? “, tanyaku setengah tak percaya. Kemudian ia hanya mengangguk dan melanjutkan ceritanya. Setelah Anto muda memukul ibunya, sang bunda hanya tergeletak di teras rumah dengan lemasnya. Taka da umpatan dan kata kutukan keluar dari mulutnya. Sedangkan Anto tiba-tiba terkujur lemas tak berdaya, seaan-akan kakinya tiba-tiba lumpuh tak bias digerakan. Sore itu, ada dua insan manusia tergeletak lemas tak berdaya di teras depan rumah.

Dengan sekuat tenaga, Anto muda berusaha mengerahkan sekuat tenaganya untuk bangkit dan bangun dari rasa lemas itu. Entah tak tau dari mana lumpuh itu datang, yang ada di pikirannya sekarang hanya bangkit dari jatuhnya, dan segera meninggalkan ibunya yang jatuh karena rasa kesal atas kemarahannya. Saat ia berusaha bangkit, tiba-tiba temen deket rumahnya singgah di depan teras, dan mengajak ia untuk pergi ke pengajian di masjid dekat rumah. “To Anto….ayuh mangkat neng pengajian, neng kana cewek.e ayu2, lumayan koh”, ajak temannya. Anto mengiyakan pelan dan masih bergumam di hatinya. Akhirnya dengan sekuat tenaga dia bangkit dan segera berbegegas ke kamar mandi utnuk siap-siap pergi ke pengajian. “Daripada bete di rumah, dimarahin terus, mending pergi ke pengajian.”, tuturnya dalam hati.

Akhirnya Anto berangkat tanpa pamitan dengan ibunya yang sudah bersungut di pojok rumah dan melangkahkan kakinya menuju masjid bersama temannya. “Ayo to cepetan, lumayan sing teka akeh cewe-cewe ayu neng kana”, ajak temannya agar lebih bergegas. Anto hanya terdiam dan tidak menggubris ocehan temannya. “Sal, disaat temen-temen berangkat ke pengajian dengan niat untuk cari gebetan, gua waktu itu cuma pengin ngilangin bete aja, tapi setelah tahu tema pengajiannya BirrulWalidain, aku langsung serius buat Tholabul ‘ilmi sal.”, tuturnya kepadaku. Saat itu dengan serius Anto menyimak setiap kata yang keluar dari ustad yang sedang berceramah di depan. Memory-nya terbang secara perlahan Flashback kepada kejadian beberapa saat sebelum berangkat ke pengajian.

“Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548), pokonya kalo kita berbuat salah sama orang tua kita, terutama ibu kita, wajib hukumnya untuk segera minta maaf dan membasuh kaki beliau.”, tutur sang ustad saat di majelis. Anto saat itu langsung bergejolak hatinya, bibirnya kelu, matanya tak kuat membendung air mata, teringat ia telah berdosa pada ibunya. Aku yang mendengar kisah itu juga mulai bergetar, mata berusaha membendung, dan bibir tak mampu terucap. Aku hanya berusaha untuk menyimak terusan ceritanya.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
 (Qs. Al-Ahqaaf : 15)
 Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”  
(Qs. Luqman : 14)
 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” 
(Qs. Al-Israa: 23)
 Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))
Seusai pengajian itu, Anto tersadar bahwa ia telah melakukan keseahan besar. Hatinya tergerak untuk segera minta maaf pada ibundanya. Namun, jiwa muda yang masih kekanak-kanaknya sedikit menghalanginya untuk minta maaf, rasa malu dan gengsi masih ada dalam dirinya. Hati semakin memberontak, dari hari ke hari ia hanya berani menatap ibunya yang masih terdiam. Hingga sekitar hari ketiga, Anto memberanikan diri untuk bicara kepada ibunya. “Bu, Anto boleh ga basuh kaki ibu?”, pintanya pada ibu setelah pulang sekolah. Sang ibu hanya terheran dan bingung. “Kalo ga boleh juga gak pa pa bu.”, Anto berusaha untuk memastikan permintaannya. Ibunya hanya mengangguk. Akhirnya ia mengambil baskom dan mulai mencuci kaki sang bunda. “Bu, kemarin Anto datang ke pengajian, dan temanya tentang Birrul Walidain, Anto kemarin merasa bersalah banget udah durhaka sama ibu”, dengan berat Anto akhirnya mengucapkan kata-kata itu. Ibunya sangat terejut mendengar tutur kata anaknya.

Sambil bercucuran air mati, ibunya bertutur pada anaknya,” Ya to, ga pa pa, yang kemarin dilupain aja. Ibu sudah maafkan. Semoga kamu jadi anak yang sukses besok ya, hidupmu semoga dipermudah oleh Allah”. Anto juga tak kuasa menahan tangis. Dikiranya ibu takkan memafkan dirinya, malah-malah sang ibu mendoakan untuk kebaikan hidupnya kelak.”Iya bu, makasih udah maafin aku. Anto janji mulai detik ini akan berbakti ada ibu, ga akan mengeluh dan akan patuh perintah ibu. Mulai saat ini Anto pengin jadi anak sholih yang berbakti pada orangtua.”, tak kuasa Anto mengucap janji itu. Seketika isi hatinya merasa terbebaskan dari semua jerat dosa dan kesalahan. Aku semakin tak berdaya dan haru mendengar cerita ini.

Setelah itu, Anto tidak pernah mengeluh dan selalu menuruti perintah ibunya. Setiap langkahnya selalu meminta restu ibundanya. Setiap perintahnya selalu ia laksanakan dengan senang hati, walaupun itu berat. Pernah suatu saat, Anto diminta pulang ke Cilacap pada tengah malam, sedangkan ia lagi berada di Gandrungmangu (jarak Gandrung-Cilacap 45 Km. dan harus menempuh alas pegunungan yang sepi dan jalannya berkelok-kelok) dan ia segera menemui ibundanya. Hingga akhir hayat Budhe, Mas Anto hanya sekali melanggar janji baktinya saat budhe sedang tergeletak lemas di rumah sakit dan Mas Anto kakinya tidak bisa bergerak karena kecapean kerja. Namun akhirnya, dari sekian banyak sanak saudaranya, hanya Mas Anto yang bisa terakhir kali melihat ibundanya ada di dunia ini. Sang bunda meninggal dalam pelukannya.

Sungguh haru cerita ini hingga saya tuliskan untuk para pembaca semuanya. Semoga para pembaca bisa memetik banyak hikmah dari cerita ini. Terimakasih juga untuk orangtua ku yang selalu mendukung langkah ku dalam menempuh cita-citaku. Semoga Bapak Ibu selamat hingga pulang nanti saat malakukan ibadah haji. Semoga bias jadi haji Mabrur. Ane Cuma titip tiga doa aja yang utama, pertama semoga Semua mimpi-mipiku bias tercapai. Kedua, semoga aku bias menyelesaikan hafalan quran sebelum menikah. Ketiga, semoga aku mendapatkan Istri sholihah yang selalu mendukung langkah-langkah dan cita-cita ku dan bisa berbakti pada orangtuaku. Thanks Mom and Dad. J


Ortu and Families
Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliau berkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
(Akan dikatakan kepadanya),

Comments

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)