Solo Kota Sejuta Kenangan Part I
Sudah lama kaki ku tak menginjak kota yang terkenal dengan oleh-oleh serabi
Noto Sumannya ini. Lima tahun aku dibesarkan di kota Spirit
of Java. Kini, aku melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Memang sudah
sebulan yang lalu aku berkunjung ke kota Solo untuk menjenguk adikku yang juga
sedang menuntut ilmu di Solo. Namun kali ini aku akan menceritakan sejuta kenangan indah
di kota yang takkan terlupa ini.
Memang sejak dulu selalu ada cerita yang telah mengalir indah
selama lima tahun aku belajar di kota Solo. Sejak MTs hingga SMA, aku
belajar di PPMI Assalaam,suatu penjara suci
yang kata banyak orang tempat untuk memperbaiki diri. Kini aku hadir kembali di
kota ini bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai penjuru Indonesia,
calon-calon dokter Indonesia yang siap mengabdi pada negeri tercinta.
Alhamduillah aku diberi kesempatan untuk berkunjung ke Fakultas Kedokteran
UNS untuk berpartisipasi sebagai Finalis Lomba
Poster Ilmiah Medsmotion FK UNS 2015. Senang rasanya hati ini ketika pertama
kali melihat pengumuman menjadi finalis.
Serasa diri diberi kesempatan untuk hadir di kota sejuta kenangan ini untuk menukir kenangan baru.
Kali ini aku berangkat bersama Adhika Rahman dan Dian Maknalia
Ilham delegasi FK UII yang juga satu tim dengan aku. Awalnya aku berangkat
bersama Dhika di hari Kamis, 26 September 2015, dari Stasiun Tugu Yogyakarta
pukul 18.00. Rencana awal kami memang ingin naik kereta eksekutif pukul 16.30
agar dapat berangkat lebih awal, namun karena kita persiapannya mepet, akhirnya
kami baru sampai di sekitar Stasiun Tugu pukul 16.30. Sedangkan Dian, menyusul hari Jumat siang
karena paginya ia ada Ujian Blok.
Sewaktu akan menyebrang rel kereta api di dekat Stasiun Tugu, Dhika
tetap bersikukuh mengejar kereta eksekutif agar bisa berangkat awal. Sebenarnya
kami juga belum tahu pasti jadwal kereta eksekutif tersebut. Namun,
kata Dhika kereta berangkat pukul 16.30 dan saat itu sudah pukul 16.32. Tanpa memedulikan waktu, kami tetap saja berharap agar bisa berangkat awal.
Seharusnya saat di rel kereta api, kita memutar dan melewati jalan by
pass terlebih dan tidak menyebrang di
rel tersebut. Namun, tiba-tiba Dhika terus lurus ketika gerbang rel dibuka
setelah kereta lewat (mungkin itu kereta eksekutifnya). Memang beberapa orang
yang menaiki sepeda dan becak juga ikut menyebarang. Namun, aku
masih merasa ragu karena biasanya memang harus lewat jalur lain.
“Dhik, kok lanjut terus ta? Emang ga di tilang ta? Itu ada pos polisi lho
dipojokan?”, Tanya ku pada Dhika yang membonceg dibelakangnya. “Enggak enggak,
aku wis tau (pernah) kok lewat sini.”, jawab Dhika santai. Tiba-tiba polisi datang
dan menyempritkan peluitnya. “Prit .. prit…”, semprit sang polisi sambil
menggerak-gerakan tangannya kearah polisi tersebut. Akhirnya kami terpaksa
menuju ke polisi tersebut dan mematikan mesin motor.
“Mas baca
rambu-rambu di depan ga? Itu harus dimatikan dulu mesinnya baru boleh nyebrang.”,
jelas pak polisi. Kami hanya mengagguk tak tahu menahu. Akhirnya kami digiring ke
kantor polisi tersebut dan dimintai sim serta stnk motorku. “Mas, ini
pelanggaran. Menurut undang-uandang bla bla bla… dendanya 500 juta, tapi ini
kami berbaik hati dan tak mungkin juga mas mau bayar segitu, maka tarifnya 100
rb saja. Bisa dibayar disini, di Bank BNI, atau di pengadilan pas hari Jumat
besok”, oceh polisi tersebut.
| Motor harus dituntun |
“Pak, kita
ini kan mau ada acara di Solo, lah baru pulang hari Minggu besok, terus
pengadilannya gimana? Disini aja ya pak langsung beres.”, Tanyaku polos. “Ya
monggo, disini juga melayani.” “Ini 100rb aja kan pak bayarnya? Bukan 300 ribu
atau 500 ribu? “, tanyaku memastikan. “iya, 100 ribu aja.” Akhirnya tanpa
berpanjang lebar langsung aku keluarkan uang 100 ribu yang baru diambil dari
atm dan STNK dan SIM DHika dikembalikan. Kami melanjutkan menuju stasiun dan
akhirnya membeli tiket kereta Prameks pukul 18.00.
Wah ini
pengalaman pertama ditilang. Memang setelah kita amati kendaraan-kenadaraan
yang menyebrang melewati rel kereta api tersebut mematikan mesinya terlebih
dahulu kemudian baru menyebrang. Kata pak polisi tadi, mesin kendaraan harus
dimatikan saat menyebral rel di Stasiun Tugu karena bisa mengganggu sinyal
pengaturan transportasi di stasiun tersebut. Kami hanya menggangguk patuh dan
tak tahu menahu tantang lambang ataupun pengaruh kendaraan bermotor terhadap
sinyal kereta. Yang terpenting kami bisa sampai Solo secepatnya dan mengikuti Welcoming
Party.
Saya jadi
berfikir, apakah memang di Indonesia hukum bisa dibeli semudah itu? Apakah saya
salah ketika membayar denda 100 ribu yang tak sesuai dengan hukum sebenarnya?
Tak tahu lah, yang terpenting bisa segera sampai Solo dan bertemu dengan
teman-teman baru. Solo… Im Coming !!!
Hikmahny adalah.... Dari pada kasih uang polisi 100 ribu mending buat sedekah aja ye.. hihi
Nice sal ^^ ga sabar nunggu part 2 nya ^^
ReplyDeleteIya Yola... :-)
ReplyDeleteBaru tau cerita aslinya wkwkwk Dhika Dhikaaaa Isal Isaaaal lucu ternyata hahaha
ReplyDelete