Penyuluhan Singkat tentang Anemia
Sebtu pagi (23/01/16),
aku pergi menuju puskesmas Mlati 1 Sleman, Yogyakarta untuk mengambil data
penelitian multicenter (PMC) BAPIN-ISMKI 2015/2016 tentang Pengaruh Penyuluhan
Singkat Anemia pada Ibu Hamil di Indonesia. Sebenarnya pukul 08.00 harus sudah
sampai tempat karena beberpa teman yang juga sudah sampai sana. Namun, karena
sedikit mager (malas gerak), akhirnya jam 08.30 aku baru berangkat menuju
Puskesmas Mlati dari Jalan Kaliurang, Yogyakarta.
Benar saja,
sesampainya disana sudah ada beberapa teman ku yang akan mengambil data
penilitian. Aku segera mengondisikan diri dan bertanya pada tim kordinator dari
UII. Setelah paham, aku langsung mencari responden ibu hamil yang berkunjung
pada puskesmas pada hari itu. Waktu itu ada 7 orang yang akan mengambil data. Aku,
Hifzhan, Dhika, Helmi, Syifa, Shinta, dan Farida. Dari sekian orang ini ada
beberapa anak yang sudah mendapatkan responden. Memang tidak terlalu banyak ibu
hamil yang periksa pada hari itu. Jadi, kita harus bergantian bertugas untuk
mencari responden yang datang ke puskesmas tersebut.
| Puskesmas Mlati 1, Sleman, Yogyakarta |
Sambil,
menunggu ibu hamil yang datang, aku langsung saja ngobrol-ngobrol dengan bapak
tua yang sedang duduk. “Boleh duduk sini ya pak… Bapak kemari sedang mengantar
siapa?”, tanya ku memulai percakapan. “Iya silahkan. Saya cuma nganter istri
kok dek.”, jawab bapak tersebut. Setelah ngobrol lebih jauh lagi, ternyata
istri bapak tersebut sedang sakit kolesterol. Secara gitu, sebagai anak FK
langsung saja berfikir berapa kadar kolesterol yang normal. “Lah emang ibu
mengalami keluhan apa bapak?”, tanyaku semakin penasaran. “Biasa, pegel-pegel
di pundak. Saya juga sebenernya juga dulu sering kolesterolnya naik. Setelah
minum obat-obatan dari dokter langsung turun. Tapi ya itu harus minum obat
setiap hari mas.”, jelas bapak tersebut.
Setelah tahu
dudukan masalahnya, segera saja aku perkenalkan siapa diriku. “Saya ini
kebetulan dari Kedokteran UII pak yang sedang penilitian di Puskesmas ini,
bapak dengan siapa ya?”. “Saya pak Taufiq. Wah adek dari UII ya, saya juga lho
lulusan UII. Tapi sudah lama sekali, sejak 1971 saya sudah lulus dari Teknik
Sipil UII.”, bapak Taufiq mengenalkan dirinya. “Ouw dari UII juga ya pak,, sip
sip.. sekarang anak Bapak di Jogja semua kah, tinggal dengan bapak?”, tanya ku
lebih dalam. “Anak saya satu tinggal di Jogja satunya lagi tinggal di Jepang.”,
jelas Bapak tersebut dengan bangga.
Wah itu
kesempatan bagi ku untuk kepo-kepo lebih jauh tentang Jepang. Kebetulan aku
suka banget sama negera Sakura tersebut dan memiliki cita-cita bisa melanjutkan
studi disana. “Wah, anak Bapak yang di Jepang itu sedang kuliah kah? Kok hebat
banget bisa di Jepang sekarang. Ambil jurusan apa Pak?”, tanyaku semakin
penasaran. “Iya, anak saya sebenarnya sih ambil jurusan Fisika. Namun, sekarang
juga bergerak di bidang kesehatan juga lho dek. Jadi anak saya itu sedang
mengambil kuliah S3. Kemarin baru saja lulus dan diwisuda. Iya begitulah anak
saya, sejak dulu kuliah juga sudah dapat banyak beasiswa dan Alhamdulillah
sampai jadi professor pun juga dibiayai terus sekolahnya.”, jelas Pak Taufiq
dengan Bangga.
“Wah
wah, saya juga tertarik pak buat sekolah di Jepang. Ngomong-ngomong itu anak
bapak meniliti tentang apa ya? Kebetulan saya juga senang meneleti pak.”, tanya
ku lebih jauh. Bapak tersebut menjelaskan bahwa anaknya itu meneliti
nanopartikel untuk penanganan kanker. Dengan besi yang dibelah menjadi
seperjuta bagian dan menjadi nanaopartikel, didalamnya dimasukan sebuat obat
kanker yang diinjeksikan pada mencit kemudian pada daerah kanker yang ingin
dituju diberikan magnet sehingga delivery obat langsung menuju sasaran. Pada
saat menjalaskan hal tersebut aku langsung connect karena baru saja akhir-akhir
sedang mengkaji tentang nanopartikel.
Wah
senang sekali bisa bincang-bincang dengan Bapak Taufiq. Aku bisa mendapatkan
pengalaman dan informasi tambahan mengenai pendidikan di Jepang dan hobi
penelitianku. Selama komunikasi dengan Bapak Taufiq, aku selalu menggunakan
teknik penyetaraan lawan bicara. Membuat senasib dan seimbang pengalaman
kedudukan membuat lawan bicara nyaman untuk berbincang dan semuanya akan terus
mengalir begitu saja. Bahkan kita bisa menemukan suatu cerita unik dan menarik
dari cara komunikasi efektif yang kita lakukan. Akhirnya aku tutup pembicaraan
dengan Bapak Taufiq dengan sedikit penyuluhan kesehatan gaya hidup sehat.
Cukup
lama juga mengobrol dengan Bapak Taufiq. Namun, tujuan utama penyuluhan ibu
hamil masih belum kudapatkan. Akubertanya kepada yang lain, ternyata
sebagian sudah mendapatkan respondennya masing-masing. Aku melirik kepada
ibu-ibu yang sedang mengelus-mengelus perutnya yang tampak sedikit menggembung
seperti orang hamil. “Itu bukan ibu hamil yo mas”, Cetus Syifa. “Halah, moso
ta? Lah itu pegang-pegang perut yang sudah buncit kok. Lihat nih ya, aku pasti
dapat.”, jawab ku sedikit ngeyel.
Aku segera bergegas menuju kursi sebelah ibu-ibu tersebut. Sebenarnya dalam hati aku juga kurang yakin apakah ibu ini benar-benar hamil atau tidak. Jadi aku harus menggunakan jurus-jurus jitu komunikasi agar tidak terlalu memalukan. “Ibu, boleh dduduk disini ya. Perkenalkan saya Faisal dari kedokteran UII. Disini saya mau penyuluhan tentang kesehatan.”, aku memulai percakapan. “Oh iya dek, silahkan.”, jawab ibu tersebut dengan tersenyum. Wah senangnya bisa melihat lawan bicara tersnyum, tandanya tidak ada hal yang terlalu menakutkan atau mencurigakan dariku. “Mohon maaf dengan Ibu siapa? Kemari ada keluhan apa ya?”, tanyaku untuk menggali lebih dalam. “Saya dengan Ibu Andi. Ini saya mengantar anak sakit gigi.”, jawab ibu itu singkat sambil mengangkat tangan yang tadinya mengelus-ngelus perut.
Aku segera bergegas menuju kursi sebelah ibu-ibu tersebut. Sebenarnya dalam hati aku juga kurang yakin apakah ibu ini benar-benar hamil atau tidak. Jadi aku harus menggunakan jurus-jurus jitu komunikasi agar tidak terlalu memalukan. “Ibu, boleh dduduk disini ya. Perkenalkan saya Faisal dari kedokteran UII. Disini saya mau penyuluhan tentang kesehatan.”, aku memulai percakapan. “Oh iya dek, silahkan.”, jawab ibu tersebut dengan tersenyum. Wah senangnya bisa melihat lawan bicara tersnyum, tandanya tidak ada hal yang terlalu menakutkan atau mencurigakan dariku. “Mohon maaf dengan Ibu siapa? Kemari ada keluhan apa ya?”, tanyaku untuk menggali lebih dalam. “Saya dengan Ibu Andi. Ini saya mengantar anak sakit gigi.”, jawab ibu itu singkat sambil mengangkat tangan yang tadinya mengelus-ngelus perut.
Wah
mati aku. Ternyata ibu ini tidak sedang kontrol kehamilan. Tapi mungkin saja
ibu ini hamil namun kali ini sedang memeriksakan anaknya saja. Duh-duh. Masa
langsung mundur. Wah bakal memalukan dong. Tapi untungnya aku memang dari awal
tidak menyebutkan akan melakukan penyuluhan ibu hamil. “Ouw, anaknya sakit gigi
ya Bu. Itu sejak kapan Ibu?”, tanyaku untuk mengalihkan perhatian dan mencoba
agar diskusinya mengalir. Ibu tersebut menjelaskan bahwa gigi anaknya mau lepas.
Sudah dua hari ini giginya goyah. Maka dari itu, Ibu Andi mengantar
anaknya ke puskesmas untuk melakukan pencabutan gigi. “Ouw seperti itu ya bu?
Oh ya, ini anak keberapa ibu? Apakah ibu sedang mengandung sekarang?”, tanyaku
untuk menggali lebih dalam. Aku sengaja menyelipkan pertanyaan inti setalah
pertanyaan yang lebih relevan dengan pembicaraan sebelumnya.
“Ini
anak yang pertama. Saya ada 2 anak, yang satu lagi di rumah.”, jawab ibu
tersebut sambil geleng-geleng ketika menjawab pertanyaan tentang kehamilan.
Sebenarnya Ibu tersebut sedikit berkerut dahinya ketika mendengar pertanyaan
tentang kehamilan. Rasanya mau langsung kabur saja setelah mengetahui ternyata
pasien yang didepanku ini sedang tidak hamil. Duh duh. Tapi tidak enak juga
jika langsung pamit, “Oh maaf saya pergi dulu ya bu”. Pasti ibu
tersebut akan semakin bingung dan illfeel dengan keadiran diriku.
Segera
kualihkan dan kufokuskan pembicaraan kepada adik kecil tersbut. “Ouw adik sakit
gigi ya, namanya siapa dek?”. adek tersebut dan senyum-senyum malu *seharusnya
aku yang malu, huhu. “Namanya Aisya om..”, jawab Ibu tersebut sambil meraih
anaknya yang sedang berdiri di tepi kursi. Pembicaraan terus saja mengalir
seputar kebiasaan anak tersebut sehingga bisa terkena sakit gigi. “Dek Aisya
suka makan perman ya..??”, tanyaku kembali memecah keheingan. “Wah iya om, suka
banget malah.. hihi, sini dek.”, lagi-lagi Ibu Andi yang menjawab pertanyaanku.
Akhirnya segera saja kututup pembicaraan dengan sedikit memberi “penyuluhan” agar
tetap menjaga kesehtan gigi dan mulut, “Gapapa kok dek suka makan permen, yang
penting tetep gosok gigi ya. Saat mandi dan seblum tidur.” Ibu tersebut hanya
tersnyum dan mengangguk. Kemudian aku pamit untuk mengambil data penelitian
yang berikutnya.
Aku
ceritakan percakapanku tadi pada teman-teman ku yang sedang menunggu di serambi
belakang puskesmas. Meraka hanya tertawa ketika mendengar aku salah memilih
responden. “Tuh kan mas, aku bilang juga apa. Ga mungkin itu pasien ibu hamil.”,
seru Syifa. “Lah tadi aku lihat ibunya pegang-pegang perut kok, kayak orang
hamil. Lah kamu kok bisa tahu e Syif?”, tanyaku penasaran. “Yaiyalah tahu,
orang ibunya nunggunya di depan ruang gigi, pasti berobatnya gigi.”, jelas
Syifa. “Ohya ding. Tapi kan sebelah nya itu ruang KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)”, balas ku masih ngeyel. Duh
duh duh…
Kali
ini aku harus mendapatkan ibu hamil. Strategi ku kali ini aku menunggu langsung
di serambi depan puskesmas. Mengintai para pengunjung puskesmas yang baru
mendaftar. Setiap ada ibu-ibu yang lewat langsung kulihat perutnya apakah
buncit atau tidak. Lima menit berlalu begitu saja. Masih saja aku menunggu di
luar namun belum ada ibu hamil yang datang. Kemudian aku sedikit mondar-mandir
keluar masuk puskesmas berharap ada ibu hamil yang datang. Syifa juga terlihat
mondar-mandir keluar masuk puskesmas menanti ibu hamil yang datang.
Akhirnya
aku melihat seorang ibu dengan membawa anaknya dan perutnya buncit. Takut
kehilangan kesempatan berharga aku langsung membuntuti ibu tersebut setelah
mengambil antrian pendaftaran. Sialnya ibu tersebut duduk dikursi yang paling
ujung dengan seorang kakek yang berada di sampingnya. Hal ini mempersulit
pergerakan ku untuk duduk dan meminta persetujuan wawancara serta penyuluhan.
Sambil
berdiri aku langsung “menembak” dengan berbagai pertanyaan yang menurutku
terlalu terburu-buru. “Ibu mau periksain anaknya bu?”, tanyaku sambil berdiri
kepada ibu tersebut. Dalam hati aku sedikit takut jika salah sasaran lagi
karena mendapatkan seorang ibu buncit dengan membawa anak. Jangan-jangan mau
memeriksan anaknya lagi. “Enggak, emang kenapa?’, Jawab ibu itu dengan sedikit
judes. “Jadi ibu yang mau periksa?”, tanyaku lagi dengan gugup. Sungguh posisi
berdiri sambil bertanya sedangkan lawan bicara yang sudah duduk membuatku belum
bisa memosisikan diri.
“Iya.”,
jawab ibu itu singkat. Waduh gawat juga jika percakapan terus begini. Langsung
saja aku perkenalakna diriku, “Jadi bu, saya dari mahasiswa Kedokteran UII mau
mengadakan penyuluhan singkat dan penelitian.” “Ouw, gitu. Kemarin sudah sama
anak UGM mas.”, jawab ibu tersebut dengan nada sebal. Aku jadi bingung sendiri.
Bukankah UGM sudah punya jatah puskesmas sendiri ya untuk penelitian
multicenter ini? Aku coba pastikan kembali, “Jadi yang ini tentang penyuluhan
anemia bagi ibu hamil bu. Kan sekarang sering banget ibu hamil terkena anemia.
Jadi itu bahaya. Yang UGM juga sama kah?”. Ibu tersebut hanya menggeleng.
Wah
kena untuk “mangsa” kali ini. Segera saja aku meminta pak tua yang duduk di
sebelah ibu itu untuk bergeser sehingga aku bisa duduk disebelahnya. “Ibu, jadi ini
penelitiannya tinggal isi kuisionernya saja. Setelah itu nanti saya akan beri
penyuluhan singkat tentnag anemia. Kemudian Ibu mengisi kuisionernya lagi.
Begitu Ibu, apakah bersedia?, tanyaku untuk inform concern. Ibu tersebut hanya
mengangguk. Aku beri saja kuisioner yang sudah aku pegang sejak tadi. Ibu
tersebut menerimanya dan membaca ulang perstujuan kesedian mengisi
kuisionernya. Perlahan, Ibu tersebut mulai mengisi satu persatu bulir item yang
ada pada kuisioner tersebut.
“Jika
ibu menemukan kesulitan dalam pengisian data, silahkan bilang ya bu. Saya akan
jelaskan lagi.”, terangku. “Ini diisinya dibuletin atau disilang ya mas?”,
akhirnya ibu tersebut muali bertanya. “Dibuletin saja bu tidak apa-apa”, jawab
ku singkat. Setelah kuisioner pertama selesai diisi, aku langsung menjelaskan
tentang anemia dengan pamphlet yang telah disediakan. Nampak ibu tersebut
mengangguk pertanda mengerti dan beberapa kali juga Nampak sedikit mengindahkan
karena mungkin sudah mengerti sebelumnya. Setelah penyuluhan singkat selesai. Saatnya
mengisi kuisioner kedua.
Akhirnya
beres juga tugasku untuk melakukan penyuluhan singkat tentang anemia. Aku beri
Ibu tersebut sabun bayi kecil dan mengucapkan kata termaksih, “Ibu terimaksih
ya atas watu yang dilunagkan. Semoga anak ibu bisa menjadi anak yang sholih dan
sholihah kela”. Ibu tersebut hanya tersenyum.
Sungguh
pengalamn yang sangat berharga bagiku. Tim penelitian yang terdiri dari 10
orang ini harus mendapatkan 48 responden. Sekarang belum ada 10 responden yang
kita dapatkan. Masing-masing orang diwajibkan untuk mendapatkan 5 orang
responden. Masih ada hari-hari esok lagi untuk mengambil data kembali di
Pusekemas ini. Semoga penilitian ini dapat berjalan dengan lancer dan membawa
nama baik UII.
Communication - the human connection - is the key to personal and career success.
Paul J. Meyer



Comments
Post a Comment