Operasi ACL Part I
Senin, 14 Maret 2015
Aku kembali
mengantri di bangsal RS. Ortopedi Solo menunggu antrian panggilan. Sebelum
operasi, aku harus memastikan dan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu,
termasuk administrarsi serta persiapan ruangan. Setelah 4 jam mengantri,
akhirnya aku dipanggil dan persiapan operasi ACL ku segera disiapkan.
Awalnya aku
harus cek darah terlebih dahulu. Pungsi vena mengawali rasa sakit dari
segalanya. Setelah diambil darahnya, aku bersama orang tuaku diantar menuju
ruangan tempat menginap selama aku dirawat di RS ini. Sidoasi 6 Pavilium Wijayakusuma,
menjadi tempat singgahku selama di Solo. Hari pertama ternyata hanya persiapan
biasa saja, tanpa ada tindakan lain-lain. Aku dijadwalkan operasi besok pagi,
namun jamnya belum pasti. Saat gelang bertuliskan nama, TTL, dan nomor pasien
dikenakan, aku resmi menjadi pasien di RS Ortopedi ini.
Seperti biasa,
aku masih melakukan berbagai aktivitas layaknya orang normal. Masih sangat
bersyukur bisa melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat berjamaah dan membaca
beberapa ayat suci al-quran. Bahkan malamnya, aku masih sempat menonton film
Sherlock Holmes dan bermain game Avatar sebelum aku hanya bisa terkapar di
kasur.
Selasa, 15 Maret 2016
Pagi yang cerah
menyambut hariku kali ini. Ruangan VIP RS Ortopedi ini memiliki AC yang tidak
terlalu dingin dan cenderung panas, membuat beberapa bulir keringat mengalir
bercucuran. Namun aku bersyukur, masih bisa berkeringat dan siap menyambut hari
yang akan menjadi kisah indahku.
Pukul 05.45
perawat masuk ke ruangan ku dan mengabarkan bahwa akan memasang infus. Namun,
aku meminta untuk mandi terlebih dahulu agar semuanya bisa disiapkan lebih
matang. Perawat tersebut juga memberitahu bahwa operasiku mungkin akan
dilaksanakan sekitar jam 08.00 atau 09.00. Aku sedikit malas bergerak karena
waktu menunjukkan masih terlalu pagi. Aku hanya kembali tiduran sembari
menonton televisi. Fikirku nanti jam 06.00 aku baru mandi. Namun, mendekati
pukul 06.00 perawat tersebut sudah kembali dan menanyakan kesiapanku lagi.
Melihat aku yang masih tiduran, ia geleng-geleng.
Segera aku
menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Aku harus tampil bersih sebelum aku
tidak bisa membasahi tubuhku lagi pasca operasi. Sekitar 15 menit aku telah
siap sedia di bed untuk menantikan tindakan berikutnya.
Akhirnya
perawat tersebut datang kembali sudah membawa peralatan untuk mengalirkan
cairan NaCl ke pembuluh darah ku. Sambi tersenyum, perawat tersebut mengusap
tangan kiri ku menggunakan kapas alkohol. Pergelangan tangan kiri sebelah dalam
menjadi sasaran untuk memasukan kateter infus. Sebenernya dulu ketika latihan
memasang infus aku tidak pernah memilih tempat tersebut karena susah mencari
pembuluh darah dan dekat sekali dengan bongkol tulang radius. Tapi apadaya, aku
hanya bisa pasrah.
Ada dua orang
perawat yang sudah berjaga untuk memasang infus di tanganku. Perawat laki-laki sudah
siap memasukan jarum ke tanganku sedangkan perawat perempuan lainnya tetap
menggemgam pergelangan tangan agar vena yang muncul tidak hilang. Aku semakin
waspada ketika jarum tersebut mulai menusuk kulitku. Rasa sakit yang muncul
seketika aku tahan. Namun, tidak seperti biasanya ketika jarum sudah masuk
kulit dan rasa sakitnya hilang, malah semakin menjadi karena jarum tersebut
semakin mendekat ke arah tulang dan rasa linu semakin membuatku tak karuan. Fix,
tusukan pertama gagal. Darah tidak keluar karena aku sedikir menggerakan
pergelangan tanganku.
Aku sedikit
kesal dengan perwat tersebut karena membuat pasien merasa kurang nyaman.
Otomatis akan ada tusukan berikutnya untuk bisa memasukan cairan infus. Aku
minta tangan kana saja sebagai penggantinya. Akhirnya perawat laki-laki
tersebut memilih tempat yang sama di tangan kanan, vena daerah pergelangan
kanan bagian dalam. Aku sudah bersiap-siap merasakan sensasi sakit plus linu
kembali jika memang harus diambil di daerah yang sama. Ternyata benar, sekejap
kapas alkohol telah diusap dan jarum sudah siap menusuk.
Kali ini aku
tidak berani melihat dan hanya menahan rasa sakit. Tusukan jarum sudah
menyengat syarafku, aku hanya pasrah. Rasa sakit semakin bertambah karena perawat
tersebut mengarahkan kembali jarum yang sudah menusuk kulit ke daerah sekitar
tusukan dengan harapan darah bisa keluar dari kateter infus. Namun, ia terlihat
ragu dan segera menarik jarum tersebut. Ternyata nampak sedkit darah yang
berarti tadi sudah berhasil. Ia berdalih venanya pecah. Fix, pemasangan
infus kedua gagal.
Untuk yang
ketiga kalinya pemasangan infus, akhirnya orang tuaku turun tangan. Kebetulan
ayahku juga seorang perwat yang sudah biasa memasang infus. “Sebelah sini saja
mas masangnya”, kata ayahku sembari menekan tangan kananku di bagian lebih
keatas. Langsung saja perawat tersebut bersiap dan menusukan kembali jarum
infus yang berbeda. Dengan sedikit bersabar menahan sakit, akhirnya darah mulai
mengalir keluar dan perawat segara memasukan selang infus sehingga tetes cairan
fisiologis pun mulai mengalir memasuki pembuluh darahku.
Aku terkapar
lemas. Kemudian perawat tersebut memperingatkanku untuk bersiap-siap kembali
karena pukul 08.00 akan segera dilakukan operasi. Pakaian operasi telah aku
kenakan sebelum pemasangan infus. Kini aku hanya tiduran sembari menonton
telivisi dan menunggu panggilan.
Pukul 07.30
perawat yang tadi sudah kembali memasuki ruanganku. Ia menyeru untuk segera
bersiap dan menuju lantai 3. Sebelumnya aku harus sudah menanggalkan seluruh
pakaianku kecuali baju operasi. Dibantu oleh kedua orangtauku, aku menanggalkan
celana bagian bawah. Malu rasanya harus “telanjang” dihadapan suster muda.
Aku dibawa
menuju lantai 3 menggunakan kursi roda. Hanya dengan selimut tebal bagian
bawahku terhijabi. Sebenarnya sedikit canggung juga karena yang mendorong kursi
serta yang mengantarku ke ruang operasi adalah perawat wanita. Aku hanya pasrah
dan yakin saja dengan perintahnya.
Sesampainya di
lantai 3, aku harus berganti pakaian kembali, pakaian khusus untuk ruang
operasi. Aku tanggalkan kembali pakian yang sudah dikenakan, kemudian
menggantinya dengan model pakian yang sama, ikatan tali di punggung, hanya
berbeda warna saja. Kemudian aku dinaikan ke bed operasi.
“Suntik skin test
dulu ya dek, buat cek alergi antibiotik”, ucap salah satu dokter yang berada di
dekatku. Dari pakiannya, dokter tersebut bisa dikenali bahwa ia seorang residen
yang sedang belajar untuk menjadi dokter spesialis. Jarum suntik kecil sudah
siap dan lengan tangan kiriku ditandai bulatan menggunakan pulpen. Ia
menyuntikan di tengah bulatan tersebut secara subkutan (dibawah kulit). Baru
kali ini aku merasakan secara sadar suntikan subkutan. Mungkin, dulu ketika
masih kecil aku pernah merasakan juga saat imunisasi BCG (imunisasi TB).
Ternyata, rasan
sakitya seperti digigit semut merah. Saat cairan antibiotik tersebut menyembul
dibawah kulit ku, rasanya “cekit-cekit” menggerogoti kulitku. Aku harus
menunggu 10 menit untuk melihat reaksi yang timbul. Jika terdapat gatal-gatal
dan kemerahan berarti aku tidak cocok dengan antibiotok tersebut.
Tidak ada
reaksi apa-apa setelah beberapa lama menunggu. Akhirnya, setelah beberapa
dokter menyatakan siap di ruang “tempur” sebenarnya, aku didorong menju raungan
yang sangat cerah dan sangat dingin. Aku hanya bisa menatap langit-langit.
Diatas nampak lampu operasi berbentuk lingkaran besar yang siap menyinari
setiap inci lututku ketika proses operasi. Aku sedikit menggigil di rungan
tersebut karena hanya sehelai pakain tipis yang aku kenakan.
Beberapa dokter
dengan cekatan memasang alat rekam jantung di dadaku dan alat bantu oksigen di
hidungku. Oksimeter juga dpasang diujung ibu jariku. Sedangkan tangan kirku
dipasangi tensimeter otomatis yang bisa menggemgam erat pergelanganku setiap 10
menit. Semua sudah siap. Dokter anastesi dipanggil untuk menyiapkan obat bius.
Sebelumnya aku disuntik antibiotik di lengan kanan atas persis seperti anak
kecil yang sedang diimunisasi. Kemudian aku disuruh duduk dan agak membungkuk.
Punggunku diolesi larutan yang terasa dingin. Secara perlahan, jarum suntik
halus disuntikan di daerah lumbal punggungku.
Rasanya biasa
saja ternyata dibius lokal. Lebih sakit rasanya diinfus tadi pagi. Aku kembali
berbaring dan menatap atap ruang operasi. Di depanku terdapat besi yang
sekarang sudah ditumpangi oleh kain steril sehingga aku tidak bisa melihat apa
yang terjadi di kakiku. Rasanya kaki ini mulai terkulai dan matirasa.
Suara bor dan
mesin-mesin yang ada di pandai besi mulai berdentuman. Pukulan palu mulai
tarasa bergetar di bed tempatku berbaring. Perutku serasa ditekan-tekan
sebagai tempat meletekan alat-alat berat tersebut. Tapi sebenarnya, aku sedang
dipasang selang katater di kemaluan agar operasi tetap lancar berjalan walau
aku berkemih.
“Dok, ini sudah
mulai kah? Saya diapasang kateter?”, tanyaku pada residen anastesi yang sedang
duduk menunggu perintah di sampingku. “Iya dek, dah mulai daritadi.”, Jawab
beliau santai. Aku hanya terkulai dan terkadang tertidur. Bau seperti bakaran
daging juga mulai tercium. Mungkin itu adalah laser yang digunakan untuk
memotong bagian-bagian ligamen ku yang sudah rusak.
Di akhir proses
operasi, hijab di depan mataku mulai disingkapkan. Terakhir aku lihat kaki
kanan diangkat tinggi-tinggi untuk dibalutkan dengan bandage agar tidak
banyak bergerak nantinya. Saat diangkat itulah aku benar-benar menyadari bahwa
aku masih matirasa. Rasanya tidak ada yang menyentuh walau ternyata kakiku
sudah diangkat tinggi-tinggi. Dari perut kebawah, aku sudah tak merasakan
apa-apa. Kesimpulan awal ku, ternyata operasi itu tidak menyakitkan.
Kemudian aku
dibawa ke ruang transit. Aku lihat ke arah jam dinding, ternyata waktu
menunjukan pukul 11.30. Ternyata sudah 3 jam aku di ruang operasi. Di ruang
transit inilah, aku dibiarkan tertidur sebelum menuju ruang inap. Hingga pukul
13.00, aku baru dikeluarkan dari ruangan tersebut dan keluarga ku segera
menghampiri.
Sesampainya di
ruang inap, aku merasa sangat kehausan dan kelaparan. Sudah semenjak semalam
aku sudah tidak minum serta makan. Aku meminta minum pada ibuku untuk sekedar
membasahi tenggorokanku. Suster memperingatkan untuk jangan langsung makan atau
minum karena nanti bisa memicu rasa mual-mual serta muntah-muntah, efek dari
anastesi yang tersisa.
Hingga pukul
14.00 aku putuskan untuk makan. Aku sudah sangat lapar dan tidak ada
tanda-tanda mual-mual. Dengan lahapnya aku habiskan jatah makan siangku.
Kemudian aku kembali tertidur.
Sore harinya
Adit dan Mila, teman ku dari FK UNS, menjenguk. Lumayan bisa sedikit curhat
tentang pengalaman operasi kepada mereka. Pukul 17.00 kakiku mulai terasa
kesemutan, mungkin biusnya sudah mulai habis. Mereka juga sudah mulai bergegas
pamit untuk menjaga klinik.
![]() |
| Adit dan Mila |
Semenjak mereka
pulang, penderitaanku dimulai. Kaki yang tadinya hanya kesemutan, kini mulai
menimbulkan sensasi nyeri disekujur kaki kanan. Dari pangkal paha hingga ujung
jari mulai cenut-cenut. Sedangkan kaki kiriku juga mulai terasa
kesemutan, namun tidak nyeri. Aku baru menyadari bawha ternyata benar, dari
alat kelamin ku tersalur selang katater, sedangkan bagian kanan terdapat selang
drainase darah sisa operasi yang keluar dari paha kanan bagian luar.
Dari bagian tersebutlah pusat nyeri menjalar.
Saat adzan
maghrib berkumandang, kedua kakiku mulia bisa digerakan ujung-ujung jemarinya. Rasa
kesemutan serta nyeri yang menjalar terus bertambah di kaki kanan. Perut juga
mulai tidak bisa diajak berkompromi. Rasa sembah serta penuh mulai mengganjal
lambungku. Kala itu, beberapa ustadz serta ustadzah berdatangan dari PPMI
Assalaam tempatku menuntut ilmu.
Ust.Fahrizal,
Ust.Sulthon, Ust.Rohimullah, Ustz.Isti, Ust.Akbar serta istri ust.Sulton datang
menjengukku. Sedikit candaan dan guyonan yang tersalurkan dari beliau-belaiu
cukup melupakan rasa sakitku. Namun, rasa tak pernah berbohong, mual serta
nyeri ku semakin menjadi. Mendekati waktu isya, aku sudah sangat susah untuk
diajak ngobrol. Aku hanya bisa menutup mukaku menggunakan telapak tangan
menahan rasa sakit.
![]() |
| Ust.Sulthon, Ust.Akbar, dan Ust.Fahrizal |
Hingga mereka
pamitan, rasa mualku sudah sampe ujung. Aku muntahkan segera segala makanan
yang kukunyah tadi siang. Dengan belepotan, ibuku menampung muntahanku menggunakan
plastik dan mengusap mulutku dari bekas muntahan. Rasa lega bisa mengeluarkan
yang terganjal di perut.
Masalah belum
selesai. Kaki kiriku sudah bisa digerakan seutuhnya, namun kaki kanan kananku
semakin menjadi. Kini pusat nyeri terletak di persendian luut sebagai pusat
utama reparasi saat operasi. Rasanya seperti tulangku diremuk-remuk seutuhnya
dan di patah-patahkan disetiap bagian sendi lutut kaki kananku. Aku hanya bisa
pasrah menahan rasa sakit yang luar biasa ini. Selepas sholat isya, perut mulai
memuncak kembali dengan rasa mual. Pukul 20.00 Aku kembali muntah untuk kedua
kalinya.
Setelah itu,
aku mulai belajar beraptasi dengan semua rasa sakit yang ada. Aku pejamkan
mataku secara perlahan menghiraukan segala gangguan yang datang. Sudah cukup
aku tahan dari 6 kali tusukan jarum suntik dan semua rasa nyeri yang ada pada
hari ini. Kesimulan kedua ku tentang operasi adalah, ternyata sakitnya
setalah semua rasa telah kembali.
Oerasi ACL Part II.....
Oerasi ACL Part II.....


Faisal, aduuuh, kau tabah banget ya. Untuk menjadi dokter yang baik harus menjadi pasien yang baik dulu ya. Semoga cepat sembuh, dan ebraktivitas seperti sedia kala. salam hangat, sinta
ReplyDeletejadi inget waktu ujian plebotomi aku ditusuk 6 kali di tempat yg beda dan ngga ada darah yg keluar cuma buat dapetin darah buat ujian.
ReplyDeletehaha.
cepet sembuh dok :)
Iya, biar ngrasain dulu sakitnya.. jadi nanti pas jadi dokter beneran bisa lebih empati,,
ReplyDeleteHaha, iya.. makanya kita kudu belajar n latihan osce yang bener Fifin,,
ReplyDeleteSip2... semangat ya bu dokter..
Sip bro,,, Insyaalllah sesuk wis dolan neng kontrakan neh ziz...
ReplyDelete