Cinta Titik

Suatu saat, aku duduk manis di tepi kursi kereta menatap kearah jendela dan melihat pemandangan sekitar. Rasa lelah cukup menumpuk di badan karena saat itu aku sedang menuju Yogyakrta selepas mengikuti sebuah event ilmiah nasional di Kota Surabaya. Ditemani oleh beberapa teman, aku mencoba untuk bercanda ria membicarakan pengalaman yang baru saja kita lalui bersama di Kota Pahlawan tersebut.


Banyak kisah serta cerita yang telah aku lewati. Saat itu aku telah berumur 18 tahun. Aku sudah memasuki fase dimana hati sangat mudah untuk digetarkan dengan berbagai hal yang menyangkut perasaan. Mungkin, saat itu pula aku telah menemukan bebearpa orang yang menurutku spesial dan termaktub di dalam hati. Saat itu pula aku juga merasa tak selamanya orang-orang tersebut bisa membuatku bahagia dan menjadi bagian dalam hidupku seutuhnya. Ya, memang sangat mudah sekali hati ini berbolak-balik.
Setelah melewati masa-masa yang menggelisahkan jiwa, aku mencoba mengokohkan kembali hati ini dan berusaha agar tidak condong pada siapapun sebelum diri ini memang benar-benar siap untuk berbagi kasih sayang. Mencoba mengurangi berbagai pengorbanan terutama pada lawan jenis agar hati ini tidak bergantung padanya. Namun, tetap saja, namanya pemuda terkadang diselingi kisah-kisah mengharukan di malam-malamnya yang dingin. Tetap saja ada sesoarang yang datang sebagai sinderela dadakan yang mencoba mencari sepatunya pada diri ini.
Deru kereta terus mengiringi perjalananku kala itu. Aku berfikir, sampai kapan aku terus bersembunyi di dalam anganku. Sejatinya teman selalu ada di sekeliling ku. Namun, aku masih saja merasa kesepian. Lagi-lagi namanya remaja, selalu ingin ada teman spesial yang selalu menemani harinya, dikala suka maupun duka. Ah, memang urusan hati selalu menjadi rumit jika terus difikirkan.
Saat-saat tersulitku dengan urusan ini adalah ketika aku ditempatkan dalam suatu sekolah yang memberi aturan dilarangnya bertemu, berhubungan, maupun menjalin ikatan dengan lawan jenis. Lima tahun aku berada di penjara suci dan terus menuruti aturan tersebut. Memang awalnya aku hanya anak kecil biasa lulusan sekolah dasar yang hanya bisa merengek merindukan orang tua dikejauhan sana. Namun, lambat laun ternyata aku tumbuh menjadi seorang remaja yang mulai tertarik pada hal-hal yang menyangkut tentang perasaan.
Tapi bagaimana mungkin aku bisa bertemu maupun menjalin perasaan jika kondisi terus mengekangku? Lambat laun aku mulai memberontak dengan kemauan hati. Aturan yang ada membuatku tak bisa berkutik. Aturan ini sangat mengekangku karena akan ada hukuman berat menanti jika aku melanggarnya. Beberapa teman ku yang sudah mengenal lawan jenis dan melanggar aturan ini, harus rela kehilangan rambutnya untuk dipotong tidak beraturan. Mereka rela lari mengitari halaman masjid atau sekolah dan menjadi tontonan anak-nak lainya, bahkan pasangannya sendiri. Harga diri dipertaruhkan saat cinta bersemi di pondok pesantren.
Masa SMA merupakan fase terberatku dengan semua urusan yang tidak dapat dilogika tersebut. Selalu ada celah untuk bisa mengenal seseorang di seberang sana yang hanya bisa saling menatap saat berada di masjid. Entah, aku tak mengerti dengan semua keadaan ini. Aku mulai memikirkan dirinya di setiap saat. Waktu terus berlalu dan tanggung jawab juga mulai tumbuh di dalam jiwa ini.
Hati ini rapuh karena goncangan perasaan yang tak menentu. Disisi lain, tanggung jawab akan tuntutan belajar dan amanah yang kuampuh sebagai siswa senior membuat fikiran mulai berantakan. Aku harus merelakan perasaan ini untuk kebaikanku maupun kebaikannya di masa mendatang. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mengokohkan hati dan tegar hingga sekarang.
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
Bayangan masa lalu saat itu terlintas di benakku saat kereta terus melaju menuju Kota Pelajar. Aku melihat temanku mulai membuka sebuah buku yang berisikan hikmah-hikmah bagi seorang muslim. Aku tertarik dengan buku tersebut. Aku memohon izin untuk membaca sekilas dan memahami isinya. Saat itu ada banyak kumpulan cerita maupun prosa tentang memaknai kehidupan yang aku lihat di buku tersebut. Tiba-tiba aku mulai terfokuskan pada halaman yang berjudul “Cinta Titik”.
Sungguh tulisan itu membuatku terharu dan lebih memaknai akan makna perasaan yang sesungguhnya. “Ouw, itu. Iya, itu salah satu halaman yang paling aku suka”, jelas temanku saat melirikku membuka halaman tersebut. Perlahan aku mulai membaca dan menghayati tulisan tersebut.

Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia di setiap saat.
Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.
Saat kau NAFSU dengan seseorang, kau akan melakukan apapun untuk tidur bersamanya

SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata “Sudahlah, jangan menangis.” 
SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu Sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama.” 
NAFSU adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu Sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini DI RANJANG.” 

SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Ia sangat cantik dan menawan.”
SAYANG adalah saat kau melihatnya dari hatimu dan bukan matamu. 
CINTA adalah saat kau melihatnya dan kau akan berkata,”Buatku, dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku..”
NAFSU adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Kapan aku bisa memeluknya dan merasakan kehangatan tubuhnya.”

Aku terhanyut dalam fikiran logisku terahadap perasaan-perasaan yang sudah singgap di benakku, apakah ia suka, sayang, cinta atau nafsu. Memang semuanya sangat berbeda tipis dan memiliki batasan yang kurang jelas. Saat ini, banyak remaja yang terjebak akan modus nafsu berkedok cinta. Awalnya dimulai dari perhatian yang lebih berlandaskan kasih sayang. Namun, rasa tersebut terus menumpuk dan membuat hati lebih bergejolak tuk mengakuinya sebagai cinta. Ketika kondisi mempertemukan antara keduanya, tidak bisa dipungkiri cinta akan berubah menjadi nafsu yang menjerumuskan.


Sekarang, aku mulai sedikit mengerti tentang aturan penjara suci tersebut dibuat. Ternyata, itu semua demi kebaikanku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku terus menuruti nafsu hati ini saat itu. Terkadang, memang kita tak harus mengerti serta memahami suatu aturan terlebih dahulu baru kita menjalankannya. Yakinlah bahwa segala bentuk aturan yang dibuat oleh sang Maha Pengatur pasti ada manfaatnya jika ditaati dan ada buruknya jika dilanggar.
“Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu:Surga)” [QS. An Nuur (24):26]. 
Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Perasaan resah dan menggoda selalu datang menghantui. Kita harus segera ambil sikap kawan. Tak baik terlalu lama bermain-main dengan perasaan jika belum bisa mengendalikan dengan cara yang tepat. Jalan tersuci untuk segala urusan hati adalah pernikahan. Jika memang belum siap? jagalah hati, pandangan, serta ucapan dari sesuatu yang melenakan diri dengan syahwat. 
“Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”― ابن قيم الجوزيةTaman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu
             Cinta itu titik. Ia akan akan terlihat sangat jelas ketika berada di kertas yang putih dan suci. Titik ini tergantung dari sudut pandang dan cara menyikapinya seseorang terhadap cinta. Jika ia melihat titik sebagai noda, maka kotorlah cinta. Namun jika ia melihat sebagai keterangan yang dibalut kesucian indahlah ia. Karena semua bentuk kata-kata berawal dari goresan titik-titik, maka tuliskanlah namaNya sebagai Pemberi Cinta Terindah di hatimu.


Comments

  1. sekali lagi dan tak pernah membuat aku berhenti mengagumi dari jauh.
    p.s
    FF

    ReplyDelete
  2. nanti kalo updet share di grup yaa

    p.s
    ff

    ReplyDelete

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)