Tour De Efka At UNS (Universitas Sebelas Maret)
Cita-cita ku yang ingin menjadi
dokter mendorongku untuk mengikuti acara ini. Tour De Efka adalah acara berupa
seminar tentang dunia kedokteran yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran
Universtias Sebelas Maret (UNS). Awalnya aku tak mengetahui keberadaan acara
ini, hingga akhirnya kakak kelasku menwarkan tiket acara ini kepadaku. Hal ini
sangat meanarik perhatianku, karena disamping berkaitan tentang hal yang aku
sukai, tiket acara ini ditawarkan dengan harga yang sangat special kepadaku.
Harga asli tiketnya Rp. 50.000,00 tetapi karena adanya relasi dan jaringan,
tiket ini bisa didapatkan dengan harga hanya Rp.10.000,00. Acara ini
diselenggarakan untuk siswa-siswa SLTA yang berminat dengan Fakultas
Kedokteran.
Akhirnya aku dan ketiga kakak kelasku (Fahri Falahudin, Ridho Rahmadji, dan Anggalian) berangkat menuju FK UNS pada hari Minggu, 3 Juni 2012. Pada tiket tertulis acara dimulai pukul 08.00, tetapi karena adanya keperluan yang lain kita sampai kesana pada pukul 09.00. Dengan PD nya kita masuk ruangan seminar dengan bermodalkan semangat. Acara sudah dimula dari tadi, kita hanya mengikuti apa yang telah berjalan. Di sesi awal ini, dijelaskan tentang semua hal yang berkaitan dengan FK UNS; Dari system pembelajarannya, biaya masuknya, kegiatan-kegiatnnya, dll. Awalanya aku kira acara ini sebatas seminar belaka, ternyata di sesi berikutnya kita diajak muter-muter keliling FK UNS. Kita diajak untuk mengenal Lab-lab yang ada di FK UNS. Pada kesempatan kali ini, baru pertama kalinya aku melihat dan belajar langsung menggunakan peraga sungguhan. Seperti halnya ketika kita belajara anatomi manusia, maka peraganya adalah kadafer (mayat yang telah diawetkan). Kadafer ini bisa ditemukan di lab.Anatomi. waktu pertama kali masuk memang bau formalin sangat membuat hidung tidak nyaman, tetapi jika sudah terbiasa pasti hal ini tidak menjadi masalah. Terkadang malah setelah keluar dari lab ini rata-rata dari kita mengeluarkan air mata karena pengaruh formalin yang ada. Selain itu, kita juga bisa memegang secara langsung bagian-bagian tubuh yang terserang penyakit, tentunya bagian tubuh ini sudah diawetkan. Di lab. Patologi anatomi, aku sempat memegang dan meraba uterus yang bermasalah (hamil anggur), kelenjar timus yang membengkak, dll.
Setelah
muter-muter keliling laboratorium, acara dilanjutkan dengan Isoma. Kemudian
diterusakan dengan seminar kembali. Seminar pada sesi yang ketiga ini dibagi
menjadi dua tema pembicaraan, yang pertama berisi tentang kegiatan-kegiatan
ekstra yang ada di FK UNS dan bagaimana caranya menjadi mahasiswa yang luar biasa, kemudian yang kedua berisi
tentang kegiatan diskusi tutorial yang biasa dilakukan anak-anak FK UNS dalam
belajarnya.
Dari
awal acara, kita (anak-anak ABS) sudah terlihat antusias sekali mengukiti
jalannya acara. Sesi demi sesi kita lalui dengan semangat. Tak sedikit dari
kita yang mengajukan pertanyaan saat diberi kesempatan bertanya. Dan tak ada
satupun dari kita yang tidak mendapat doorprice dari panitia karena keaktifan
kami. Bahkan salah satu dari kami (Ridho Rahmadji) menjadi ketua diskusi tutorial
dan kita semua menjadi anggota diskusi tersebut. Ternyata anak-anak ABS tidak
kalah saing juga dengan anak-anak luar. Walaupun kita anak-anak pondok yang
terkesan terkurung dan kuper, tapi kami bisa membuktikan bahwa anak-anak ponpes
juga bisa bersaing dengan anak-anak yang bersekolah di luar.
Acara
ini sunnguh berkesan bagiku. Aku bisa melangkah lebih awal memasuki dunia
kedokteran sebelum menjadi mahasiswa fakultas kedokteran. Disini juga
kakak-kakak panitianya rama-ramah dan sopan. Mereka banyak memberiku inspirasi.
Menjadi seorang dokter adalah cita-cita yang sudah biasa, tetapi menjadi dokter
yang bisa berbuat lebih untuk lingkungan adalah impian yang luar biasa.






Comments
Post a Comment