Refleksi Diri - Gempa 6,5 SR Kebumen


Kali ini ane pengin nulis tentang refleksi diri. Udah lama ni ga berkaca diri (coz gua ga punya cermin, hehehe). Ya sekali-kali lha muhasabah, biar hatinya ga keras.

Hari ini Sabtu (25/01/14), menjadi hari yang istimewa buat ku, jarang-jarang libur kuliah bisa benar-benar libur. Sebenernya hari ni sih lagi ada acara (RAKERNAS FULDFK), tapi kebetulan ane dapet tugasnya hari esok, jadi bisa bersih-bersih kamar, nyuci baju, baca novel, belajar ria, main musik dll. Setelah cucian sudah terjemur dan kamar bersih, langsung deh bersih-bersih diri (pukul 11.30), bis tu langsung tancep ke masjid ulil albab uii buat sholat dzuhur. 

Disana tampak ramai di lantai 1 (gedung Kahar Muzakir) dengan senyuman wisudawan dan wisudawati ditemani oleh keluarganya dan ada pula yang ditemani dengan calon/pasangan hidupnya. Ketika tiba disana, suara iqomah telah berkumandang, kupercepat langkahku menuju lantai 3 diatas gedung Kahar yang menjadi Masjid Ulil Albab UII. Suara takbir imam bergema saat kunaiki escalator. Untungnya aku sudah berwudhu sebelum berangkat ke masjid, jadi bisa langsung ikut ke barisan sof sholat. Aku mendapati imam ketika i’tidal rokaat kedua.

Gedung Kahar Muzakir dan Masjid Ulil Albab UII

Sholat berjalan dengan khusyuk. Tiba-tiba pada rokaat  terakhir, terasa ada hal yang ganjil, membuat kekhusyukkan mulai memudar. Lantai masjid itu bergetar, benar-benar bergetar, seakan ada dentuman keras yang merambat dari arah luar masjid dan disalurkan lewat lantai-lantai masjid tersebut yang berada di lantai 3 gedung Kahar Muzakir. Aku fikir mungkin di luar sana ada truk tronton yang besar sedang melintas di depan gedung Kahar, tapi bukankah di luar sana lagi ada acara wisuda yang dipadati oleh orang-orang yang berjualan bunga, makanan, fotografer dll. Kenapa ada truk yang lewat disana? Sepertinya ada hal lain yang menimbulkan getaran ini.
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat)” Al-zalzalah : 1
Akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa getaran ini berasal dari lempeng tektonik yang ada di dasar bumi. Dugaan ini menguat ketika getaran tersebut membuat kami yang sedang berdiri sholat mulai bergoyang, ibarat berdiri diatas papan yang disangga oleh dua drum besar, yang bisa menggoyangkan dasar lantai kedepan dan kebelakang. Sholat jamaah tersebut tetap berlangsung. Apapun jadinya nanti, aku tetap menegarkan diri, ”Jikalau Allah belum berkehendak aku mati sekarang, tak akan ada yang bisa membunuhku”. 

Kemudian muncul pertanyaan berikutnya, “Lalu bagaimana jika Allah berkehendak mencabut nyawaku sekarang juga?” Pertanyaan ini membuat ku tersadar bahwa ada banyak hal yang akan ku pertanggung jawabkan dihadapan-Nya kelak. Aku masih belum siap. Aku masih belum mengerjakan banyak proker kehidupan yang telah aku rangcang, begitu juga dengan LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) tentang kehidupan ini yang telah kulalui. Aku belum menyelesaikan LPJ itu dengan sempurna. Aku masih banyak punya hutang (Tapi kayaknya kemarin dah kubayar de utang2 ku,,,hehehe), masih punya banyak nadzar yang belum terlunasi, bagaimana dengan hafalan alquran ku, pertanggung jawaban atas kepemimpinan diri dan oragnisasi, pertanggung jawaban atas tugas seorang lelaki dan sebagai anak, dan masih banyak faktor lain yang membuatku belum siap tuk menghadapNya sekarang juga.

Hadits riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:

Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Aku akhir-akhir ini sedang tersibukkan dengan berbagai urusan organisasi, proposal , LPJ dll, menyiapkan banyak hal untuk kelancaran acara. Saat badanku mulai bergoyang karena getaran itu, saat keseimbangan ku mulai goyah di tenggah sholat itu, aku tersadarkan bahwa kehidupan yang lebih abadi juga harus disiapkan, malah seharusnya LEBIH DIUTAMAKAN. Pikiranku langsung melesat kepada perkataan ust.Basith saat menerima pelajaran akhlak kelas XII SMA dulu. Beliau menyampaikan sebuah hadist
Rasulullah Saw. bersabda:
عن ابي يعلى شداد ابن اوس رضي الله عنه قال قال رسول الله ص م الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ (رواه الترميذي)

Dari Abi Ya’la Syaddad bin Aus ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda: Orang yang cerdas itu adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya, dan mengerjakan untuk kehidupan setelah kematian. Dan yang lemah itu adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berandai-andai kepada Allah. (HR. Turmudzi)

Selama ini, kadang kita lupa bahwa orang yang kita anggap pintar adalah orang yang nilai bagus, IPK 4, gak pernah INHAL, dsb. Tapi ternyata menurut hadist tersebut, orang yang pandai adalah orang yang bisa menyaiapkan untuk akhiratnya kelak, menuju cita-cita tertinggi yaitu SURGA.

           Ternyata Allah masih memberiku kesempatan tuk melanjutkan proposal-proposal hidupku dan mengijikanku menyelesaikan LPJ2 hidupku. Aku masih bisa menulis refleksi ini. Mari kita manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

Comments

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)