Hubungan Manusia dan Agama

           

             Agama memiliki berbagai makna. Agama sendiri berasal dari bahasa sansekerta, yaitu a berarti “tidak” dan gamma berarti “kacau”. Jadi, agama berarti tidak kacau, atau sesuatu yang mengatur kehidupan agar tidak kacau. Dalam bahasa inggris sendiri agama diartikan sebagai religion  dan bahasa belanda disebut religie yang diambil dari bahasa latin relegere yang berarti mengikat, mengatur, atau menghubungkan. Jadi agama bisa juga disebut sebagai aturan hidup manusia yang mengikat dan menghubungkan manusia dengan Tuhan.
            Manusia sendiri adalah makhluk yang dapat diindra dengan panca indra. Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata basyar, insan dan al-nas. Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi : (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; al-ruum : 20), manusia makan dan minum (al-mu’minuum : 33).
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq : 5), yaitu allamal insaana maa lam ya’ (dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 (sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif. Sedangkan aristoteles menyebutkan manusia sebagai “zoo politicon” dan “animal ridens”, yaitu makhluk yang memiliki rasa humor yang bisa “bertakwa”.  Linnausus memberikan definisi sebagai “homo sapiens” yang berarti makhluk yang mempunyai akal. Ahli agama kristen menyebutnya “animal rationale” yaitu binatang yang berfikir.

Dari berbagai definisi manusia dan agama diatas, dapat disimpulkan bahwasannya manusia dan agama saling berkaitan. Manusia yang memiliki nafsu, keinginan, dan akal harus dikendalikan jiwanya agar tidak bersifat seperti hewan. Agama yang bersifat mengikat dan mengatur perlu diyakini dan diamalkan oleh setiap manusia. Agama memberikan serangkaian aturan kepada para penganutnya sehingga hidupnya tidak berantakan. Agama menyampaikan para pemeluknya kepada suatu cara  hidup  yang  teratur  (Anshari,  1979:  114).
Ahli psikologi, Erich Fromm percaya bahwa tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan agama dan tidak membutuhkan aturan-aturan sebagai panutannya. Bisa jadi ia tidak sadar akan keyakinan-keyakinan keagamaan yang sedang dijalni dalam hidupnya, tapi sejatinya ia sedang mempraktekan apa-apa yang dicintainya dan diyakininya sebagai sebuah aturan dalam hidupnya. Masalahnya adalah bukan apakah seseorang menganut atau tidak menganut sesuatu agama, melainkan agama apakah yang dia praktekan.
 Akal manusia bersifat sangat bersifat terbatas untuk memfikirkan semua kejadian-kejadian yang ada di alam ini. Indra yang ada manusia pun terbatas untuk mengungkap segala masalah dan misteri kehidupan ini. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari, kita tidak tahu kapan kita akan mati, kita tidak tahu dimanakah batas alam semesta ini, dsb. Al-quran menyebutkan secara ringkas sifat manusia yang terbatas ini dalam sura An-nisa : 28
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا....
Artinya : “.......dan dijadikan manusia itu lemah.”
Realitas ini memaksa manusia untuk menemukan cara untuk memecahkan berbagai maslah kehidupan ini dengan merujuk kepada Agama sebagai pedoman hidup. Agama sudah menjadi fitrah manusia sejak manusia dilahirkan di dunia. Sejak dulu pun manusia sudah condong terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan, seperti animisme dan dinamisme. Walaupun mereka menyembah batu, pohon besar, benda keramat, percaya akan kejadian alam yang berkaitan dengan hidupnya, ataupun perantara yang lainnya, intinya mereka percaya akan satu kekuatan besar yang melebihi dirinya sendiri. Mereka menjadikan itu semua sebagai perantara ibadah untuk menyembah Tuhannya. Wilhem Schemidt dalam UII Pres : 1998 menjelaskan dalam penelitiannya bahwa agama masyarakat primitif adalah monotheism. Monotheism ini bukan berasal dari teori evolusi, melainkan dari wahyu Tuhan. Hasil penelitian Wilhem Schimdt itu merupakan bukti ilmiah yang memperkuat kebenaran aqidah Islam. Akidah yang meng-Esakan Allah (tauhidullah) itulah yang menjadi fitrah manusia.
Al-quran sendiri menerangkan bahwasannya fitrah manusia adalah beragama (mengakui Tuhan) sejak ia berada dalam alam roh. Allah berfirman dalam surat Al-A’rof :172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.”
   Fitrah sendiri diartikan sebagai naluri, watak dasar manusia, dan suci. Jadi pada dasarnya setiap jiwa manusia sebenarnya mengakui adanya Tuhan dan pada dasarnya adalah setiap manusia dilahirkan dalam keadaan yang suci. Fitrah manusia yang bertuhan inilah yang menyebabkan manusia akan merindukan Tuhannya dikala ia sudah sangat jauh dengan jalan yang dilaluinya. Dengan beragama, akan ada rasa kegembiraan dan kelapangan dada karena ia bisa menemukan dan menemui Tuhannya. Sekaya apa pun seseorang, sehebat apapun manusia, ia takkan pernah merasa bahagia jika ia tak menemui Tuhannya (tidak beragama). Maka dari itu, selain agama sebagai pengatur kehidupan seseorang, agama juga bisa menjadi petunjuk terhadap permasalahan hidup yang ada, sehingga manusia dapat merasakan kebahagiaan hidup karena bisa terlepas dari masalah yang dihadapinya di dunia ini.
Manusia diciptkan secara bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar manusia bisa mengenal satu sama lain. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13]. Menurut Ibn Khaldun manusia diciptakan sebagai makhluk politik atau sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan orang lain dalam mempertahankan kehidupannya, sehingga kehidupannya dengan masyarakat dan organisasi sosial merupakan sebuah keharusan. Selain itu Muthahhari (1984) menyatakan,”Kehidupan sosial menciptakan ribuan masalah dan kemusykilan baginya dan ia mesti memechakn dan menanggulangi semua masalah itu.”
Lalu pertanyaannya adalah bagaimanakah cara untuk mengatasi masalah hubungan sosial yang terjadi saat  berinteraksi dengan manusia yang lain? Bagaiamanakah cara untuk berinteriraksi dengan manusia yang memeliki ras berbeda? Akankah mereka akan bisa menjalin hubungan sesasama manusia seperti berinteraksi dengan golongannya sendiri?
Disinilah agama berperan sebagai jembatan untuk menghubungkan keduanya. Disinilah agama memiliki peran memberi petunjuk terhadap permasalahn sosial yang ada. Sebelumnya kita telah membahas bahwasannya agama digunakan sebagai pengatur kehidupan manusia. Dengan agama, hubungan manusia dapat berlangsung secara damai karena pada prisnsipnya agama mengajarkan nilai-nilai untuk saling menghargai sesama dan mengajarkan rasa untuk saling mengasihi.
Namun ada banyak sekali agama di dunia ini. Berbagai aliran kepercayaan dan  agama bermunculnya seiring berjalannya waktu. Agama-agama tersebut mengajarkan ajaran-ajaran yang berbeda satu sama lain. Tuhan yang ber beda, cara ibadah ang berbeda, dan kitab suci yang berbeda. Lalu pertanyaannya, agama manakah yang benar-benar bisa mengatur dan menyelesaikan permasalahan kehidupan yang ada?
Syarat Agama yang bisa menjadi petunjuk adalah pertama agama agama tersebut memiliki kitab suci yang benar-benar bersumber dari Tuhannya secara langsung sebagai perantara petunjuk-petunjuk yang ditunjukkan kepada manusia. Jika kitab agama tersebut dibuat dari campur tangan manusia atau malah tidak memiliki kitab suci, maka bisa dipastikan agama tersebut tidak bisa memberi petunjuk bagi manusia. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, manusia memliki keterbatasan kemampuan, sehingga sangat tidak mungkin jika agama tersebut dapat memberi petunjuk jika kitab sucinya terdapat campur tangan dari manusia itu sendiri, apalagi yang tidak memiliki kitab suci.
Kemudian syarat kedua untuk agama yang haq adalah kitab suci tersebut dapat memberi kejelasan yang benar dan jelas terhadap konsep kejelasan beragama, bertuhan, dan berinteraksi terhadap makhluk yang ada di alam semesta ini.
Agama yang dapt memenuhi kriteria-kriteria tersebut adalah hanya agama Islam. Agama ini memiliki kitab suci Al-quran yang bersumber dari Tuhan secara langsung. Dalam Al-quran disebutkan dalam surat Al-Baqoroh ayat  yang merupakan permulaan ayat dalam Al-quran,
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
Dari ayat kita bisa mengetahui bahsanya yang menciptakan ayat ini tentunya bukan manusia karena pencipta ayat dari kitab ini menyatakan bahwa diriNya bisa menjamin dalam kitab tersebut tidak ada keraguan satu pun dan menjamin bahwa Al-quran bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang yang menghayati dan mengamalkan isinya. Sering manusia sendiri berkata, “Tiada gading yang tak retak” kalimat ini menyatakan bahwasanya manusia tersebut tidak mungkin bisa menciptakan suatu ayat atau kitab seperti al-quran.
Tidak hanya itu, sang pencipta dari kitab Al-quran ini bahkan menantang para manusia atau makhluk yang lain untuk menciptakan kitab atau ayat yang semisal al-quran tersebut. Tantangan al-Qur’an terdiri dari tiga tingkatan atau tiga tahapan:
1.      Tantangan untuk mendatangkan sebuah al-Qur’an sama dengan al-Qur’an yang ada sebagaimana firman Allah Swt, “
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَ الْجِنُّ عَلى‏ أَنْ یَأْتُوا بِمِثْلِ هذَا الْقُرْآنِ لا یَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَ لَوْ کانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهیراً
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” . (Qs. Al-Isra [17]:88)
2.    Tantangan untuk mendatangkan sepuluh surah sama dengan surah-surah al-Qur’an. Allah Swt berfirman
أَمْ یَقُولُونَ افْترََئهُ قُلْ فَأْتُواْ بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْترََیَاتٍ وَ ادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن کُنتُمْ صَادِقِینَ

 “Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah buatan yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”  (Qs. Al-Hud [11]:13)

3.      Tantangan untuk mendatangkan satu surah seperti salah satu surah dari al-Qur’an. Allah Swt berfirman,

وَ إِن کُنتُمْ فىِ رَیْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلىَ‏ عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَ ادْعُواْ شُهَدَاءَکُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن کُنتُمْ صَادِقِینَ.  

“Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar” (Qs. Al-Baqarah [2]:23)

 Allamah Thabathabai dalam hal ini berkata, “Ayat-ayat yang mencakup tantangan-tantangan ini berbeda dari sudut pandang general dan partikular. Sebagian tantangan menyangkut satu surah seperti ayat surah al-Baqarah dan sebagian lainnya terkait dengan sepuluh surah, dan sebagian lainnya sehubungan dengan keumumam al-Qur’an dan sebagian lainya pada kekhususan elokuensinya dan sebagian lainnya dari seluruh dimensi al-Qur’an.” . Terjemahan Persia al-Mizân, jil.1, hal. 94.  
            Dari bahasan-bahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasannya Al-quran benar-benar kitab suci yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Di didalam al-quran sendiri juga menyatakan secara jelas tentang konsep ketuhanan.
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤
Artinya:
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
Diantara sekian banyak agama, hanya agama Islamlah yang bisa menerangkan konsep ketuhanan dengan sangat jelas. Tuhan yang berhak disembah hanya ada satu, yaitu Allah. Jika sekiranya ada banyak Tuhan (Tuhan-tuhan selain Allah) maka sekiranya alam semesta ini akan hancur karena adanya perbedaan kehendak Tuhan yang berbeda-beda. Seperti yang dijelaskan dlam surat Al-anbiya ayat 22 berikut :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Artinya : ” Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah,
tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki 'Arsy dari apa yang mereka sifatkan.”

Selain itu, agama Islam adalah agama yang memandang derajat semua manusia itu sama, baik laki-laki dan perempuan. Islam hanya memandang derajat takwa seseorang saja.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat: 13)

Artinya :“Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan, sedang ia orang
yang beriman-mereka akan memasuki surga, mereka akan diberi rezeki di dalamnya tanpa perhitungan.” (Q.S Ghafiir:41)

Dari sekian penjelasan diatas, secara garis besar yang membedakan Islam dengan agama yang lain adalah kejelasan tentang agama Islam itu sendiri, kejelasan tentang konsep ketuhanan, keserasian antara ajaran dan kehidupan nyata, sumber yang meyakinkan, dan kejelasan gambaran tentang hari akhir.
Penulis sendiri menganut agama Islam pertama karena faktor keturunan. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu penulis semakin mengenal Islam lebih dalam hingga menemukan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang haq. Tulisan ini penulis buat berdasarkan pehaman penulis sendiri tentang Islam dan beberapa kutipan dari sebagian referensi yang mendukung tema ini.



REFERENSI

Mubarok, Zaky dkk.,1998,Akidah Islam,UII Press, Yogyakarta.
Muthahhari, M.,1984,Prespektif Al-quran tentang Manuisa dan Agama, Penerbit Mizan,Bandung
Thabathabai,M.H., Tafsir al-Mizân, Terjemahan Persia oleh Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani.

Comments

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)