Hubungan Manusia dan Agama
Manusia sendiri adalah makhluk yang dapat diindra dengan
panca indra. Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda
dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata
basyar, insan dan al-nas. Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah
satunya al-kahfi : (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu).
Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti asalnya dari
tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; al-ruum : 20), manusia makan
dan minum (al-mu’minuum : 33).
Kata
insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq : 5),
yaitu allamal insaana maa lam ya’ (dia mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau
spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul
amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus
bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata
al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 (sesungguhnya telah
kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep
al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif.
Sedangkan aristoteles menyebutkan manusia sebagai “zoo politicon” dan “animal
ridens”, yaitu makhluk yang memiliki rasa humor yang bisa “bertakwa”. Linnausus memberikan definisi sebagai “homo
sapiens” yang berarti makhluk yang mempunyai akal. Ahli agama kristen
menyebutnya “animal rationale” yaitu binatang yang berfikir.
Dari
berbagai definisi manusia dan agama diatas, dapat disimpulkan bahwasannya
manusia dan agama saling berkaitan. Manusia yang memiliki nafsu, keinginan, dan
akal harus dikendalikan jiwanya agar tidak bersifat seperti hewan. Agama yang
bersifat mengikat dan mengatur perlu diyakini dan diamalkan oleh setiap
manusia. Agama memberikan serangkaian aturan kepada para penganutnya sehingga
hidupnya tidak berantakan. Agama menyampaikan para pemeluknya kepada suatu
cara hidup yang
teratur (Anshari, 1979:
114).
Ahli
psikologi, Erich Fromm percaya bahwa tidak ada seorang pun yang tidak
membutuhkan agama dan tidak membutuhkan aturan-aturan sebagai panutannya. Bisa
jadi ia tidak sadar akan keyakinan-keyakinan keagamaan yang sedang dijalni
dalam hidupnya, tapi sejatinya ia sedang mempraktekan apa-apa yang dicintainya
dan diyakininya sebagai sebuah aturan dalam hidupnya. Masalahnya adalah bukan
apakah seseorang menganut atau tidak menganut sesuatu agama, melainkan agama
apakah yang dia praktekan.
Akal manusia bersifat sangat bersifat terbatas
untuk memfikirkan semua kejadian-kejadian yang ada di alam ini. Indra yang ada
manusia pun terbatas untuk mengungkap segala masalah dan misteri kehidupan ini.
Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari, kita
tidak tahu kapan kita akan mati, kita tidak tahu dimanakah batas alam semesta
ini, dsb. Al-quran menyebutkan secara ringkas sifat manusia yang terbatas ini
dalam sura An-nisa : 28
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا....
Artinya : “.......dan dijadikan manusia itu lemah.”
Realitas
ini memaksa manusia untuk menemukan cara untuk memecahkan berbagai maslah
kehidupan ini dengan merujuk kepada Agama sebagai pedoman hidup. Agama sudah
menjadi fitrah manusia sejak manusia dilahirkan di dunia. Sejak dulu pun
manusia sudah condong terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan, seperti
animisme dan dinamisme. Walaupun mereka menyembah batu, pohon besar, benda
keramat, percaya akan kejadian alam yang berkaitan dengan hidupnya, ataupun
perantara yang lainnya, intinya mereka percaya akan satu kekuatan besar yang
melebihi dirinya sendiri. Mereka menjadikan itu semua sebagai perantara ibadah
untuk menyembah Tuhannya. Wilhem Schemidt dalam UII Pres : 1998 menjelaskan
dalam penelitiannya bahwa agama masyarakat primitif adalah monotheism.
Monotheism ini bukan berasal dari teori evolusi, melainkan dari wahyu Tuhan.
Hasil penelitian Wilhem Schimdt itu merupakan bukti ilmiah yang memperkuat
kebenaran aqidah Islam. Akidah yang meng-Esakan Allah (tauhidullah)
itulah yang menjadi fitrah manusia.
Al-quran sendiri menerangkan
bahwasannya fitrah manusia adalah beragama (mengakui Tuhan) sejak ia berada
dalam alam roh. Allah berfirman dalam surat Al-A’rof :172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي
آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ
بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا
كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Artinya:
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika
Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini
Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’.
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.”
Fitrah
sendiri diartikan sebagai naluri, watak dasar manusia, dan suci. Jadi pada
dasarnya setiap jiwa manusia sebenarnya mengakui adanya Tuhan dan pada dasarnya
adalah setiap manusia dilahirkan dalam keadaan yang suci. Fitrah manusia yang
bertuhan inilah yang menyebabkan manusia akan merindukan Tuhannya dikala ia
sudah sangat jauh dengan jalan yang dilaluinya. Dengan beragama, akan ada rasa
kegembiraan dan kelapangan dada karena ia bisa menemukan dan menemui Tuhannya.
Sekaya apa pun seseorang, sehebat apapun manusia, ia takkan pernah merasa
bahagia jika ia tak menemui Tuhannya (tidak beragama). Maka dari itu, selain
agama sebagai pengatur kehidupan seseorang, agama juga bisa menjadi petunjuk
terhadap permasalahan hidup yang ada, sehingga manusia dapat merasakan
kebahagiaan hidup karena bisa terlepas dari masalah yang dihadapinya di dunia
ini.
Manusia diciptkan secara bersuku-suku
dan berbangsa-bangsa agar manusia bisa mengenal satu sama lain. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah.
“[al-Hujurat:13]. Menurut Ibn Khaldun manusia diciptakan sebagai makhluk
politik atau sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan orang lain dalam
mempertahankan kehidupannya, sehingga kehidupannya dengan masyarakat dan
organisasi sosial merupakan sebuah keharusan. Selain itu Muthahhari (1984)
menyatakan,”Kehidupan sosial menciptakan ribuan masalah dan kemusykilan baginya
dan ia mesti memechakn dan menanggulangi semua masalah itu.”
Lalu pertanyaannya adalah
bagaimanakah cara untuk mengatasi masalah hubungan sosial yang terjadi saat berinteraksi dengan manusia yang lain?
Bagaiamanakah cara untuk berinteriraksi dengan manusia yang memeliki ras
berbeda? Akankah mereka akan bisa menjalin hubungan sesasama manusia seperti
berinteraksi dengan golongannya sendiri?
Disinilah agama berperan sebagai
jembatan untuk menghubungkan keduanya. Disinilah agama memiliki peran memberi
petunjuk terhadap permasalahn sosial yang ada. Sebelumnya kita telah membahas
bahwasannya agama digunakan sebagai pengatur kehidupan manusia. Dengan agama,
hubungan manusia dapat berlangsung secara damai karena pada prisnsipnya agama
mengajarkan nilai-nilai untuk saling menghargai sesama dan mengajarkan rasa
untuk saling mengasihi.
Namun ada banyak sekali agama di
dunia ini. Berbagai aliran kepercayaan dan
agama bermunculnya seiring berjalannya waktu. Agama-agama tersebut
mengajarkan ajaran-ajaran yang berbeda satu sama lain. Tuhan yang ber beda,
cara ibadah ang berbeda, dan kitab suci yang berbeda. Lalu pertanyaannya, agama
manakah yang benar-benar bisa mengatur dan menyelesaikan permasalahan kehidupan
yang ada?
Syarat Agama yang bisa menjadi
petunjuk adalah pertama agama agama tersebut memiliki kitab suci yang
benar-benar bersumber dari Tuhannya secara langsung sebagai perantara
petunjuk-petunjuk yang ditunjukkan kepada manusia. Jika kitab agama tersebut
dibuat dari campur tangan manusia atau malah tidak memiliki kitab suci, maka
bisa dipastikan agama tersebut tidak bisa memberi petunjuk bagi manusia.
Seperti yang kita ketahui sebelumnya, manusia memliki keterbatasan kemampuan,
sehingga sangat tidak mungkin jika agama tersebut dapat memberi petunjuk jika
kitab sucinya terdapat campur tangan dari manusia itu sendiri, apalagi yang
tidak memiliki kitab suci.
Kemudian syarat kedua untuk agama
yang haq adalah kitab suci tersebut dapat memberi kejelasan yang benar dan
jelas terhadap konsep kejelasan beragama, bertuhan, dan berinteraksi terhadap
makhluk yang ada di alam semesta ini.
Agama yang dapt memenuhi
kriteria-kriteria tersebut adalah hanya agama Islam. Agama ini memiliki kitab
suci Al-quran yang bersumber dari Tuhan secara langsung. Dalam Al-quran
disebutkan dalam surat Al-Baqoroh ayat
yang merupakan permulaan ayat dalam Al-quran,
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
Dari ayat kita bisa
mengetahui bahsanya yang menciptakan ayat ini tentunya bukan manusia karena
pencipta ayat dari kitab ini menyatakan bahwa diriNya bisa menjamin dalam kitab
tersebut tidak ada keraguan satu pun dan menjamin bahwa Al-quran bisa menjadi
petunjuk bagi orang-orang yang menghayati dan mengamalkan isinya. Sering
manusia sendiri berkata, “Tiada gading yang tak retak” kalimat ini menyatakan
bahwasanya manusia tersebut tidak mungkin bisa menciptakan suatu ayat atau
kitab seperti al-quran.
Tidak hanya itu, sang pencipta dari kitab Al-quran ini bahkan
menantang para manusia atau makhluk yang lain untuk menciptakan kitab atau ayat
yang semisal al-quran tersebut. Tantangan al-Qur’an
terdiri dari tiga tingkatan atau tiga tahapan:
1.
Tantangan
untuk mendatangkan sebuah al-Qur’an sama dengan al-Qur’an yang ada sebagaimana
firman Allah Swt, “
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَ الْجِنُّ عَلى أَنْ یَأْتُوا
بِمِثْلِ هذَا الْقُرْآنِ لا یَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَ لَوْ کانَ بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ ظَهیراً
Katakanlah, “Sesungguhnya
jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya
mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian
mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” . (Qs. Al-Isra [17]:88)
2. Tantangan untuk mendatangkan sepuluh
surah sama dengan surah-surah al-Qur’an. Allah Swt berfirman
أَمْ یَقُولُونَ افْترََئهُ قُلْ فَأْتُواْ بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ
مُفْترََیَاتٍ وَ ادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن کُنتُمْ
صَادِقِینَ
“Katakanlah, “(Kalau
demikian), maka datangkanlah sepuluh surah buatan yang menyamainya, dan
panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu
memang orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Hud [11]:13)
3.
Tantangan
untuk mendatangkan satu surah seperti salah satu surah dari al-Qur’an. Allah
Swt berfirman,
وَ إِن کُنتُمْ فىِ رَیْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلىَ عَبْدِنَا
فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَ ادْعُواْ شُهَدَاءَکُم مِّن دُونِ اللَّهِ
إِن کُنتُمْ صَادِقِینَ.
“Dan jika kamu (tetap) meragukan
Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah
(paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur'an itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang
yang benar” (Qs. Al-Baqarah [2]:23)
Allamah Thabathabai dalam hal ini berkata,
“Ayat-ayat yang mencakup tantangan-tantangan ini berbeda dari sudut pandang
general dan partikular. Sebagian tantangan menyangkut satu surah seperti ayat
surah al-Baqarah dan sebagian lainnya terkait dengan sepuluh surah, dan
sebagian lainnya sehubungan dengan keumumam al-Qur’an dan sebagian lainya pada
kekhususan elokuensinya dan sebagian lainnya dari seluruh dimensi al-Qur’an.” .
Terjemahan Persia al-Mizân, jil.1, hal. 94.
Dari
bahasan-bahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasannya Al-quran
benar-benar kitab suci yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Di didalam
al-quran sendiri juga menyatakan secara jelas tentang konsep ketuhanan.
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ
وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤
Artinya:
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
Diantara sekian banyak agama, hanya agama Islamlah yang bisa menerangkan
konsep ketuhanan dengan sangat jelas. Tuhan yang berhak disembah hanya ada
satu, yaitu Allah. Jika sekiranya ada banyak Tuhan (Tuhan-tuhan selain Allah)
maka sekiranya alam semesta ini akan hancur karena adanya perbedaan kehendak
Tuhan yang berbeda-beda. Seperti yang dijelaskan dlam surat Al-anbiya ayat 22
berikut :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Artinya : ” Seandainya
pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah,
tentu keduanya telah binasa. Mahasuci
Allah yang memiliki 'Arsy dari apa yang mereka sifatkan.”
Selain
itu, agama Islam adalah agama yang memandang derajat semua manusia itu sama,
baik laki-laki dan perempuan. Islam hanya memandang derajat takwa seseorang
saja.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ
خَبِيرٌ
Artinya: “Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat: 13)
Artinya :“Barangsiapa
beramal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan, sedang ia orang
yang beriman-mereka akan memasuki
surga, mereka akan diberi rezeki di dalamnya tanpa perhitungan.” (Q.S Ghafiir:41)
Dari sekian penjelasan diatas, secara garis besar yang
membedakan Islam dengan agama yang lain adalah kejelasan tentang agama Islam
itu sendiri, kejelasan tentang konsep ketuhanan, keserasian antara ajaran dan
kehidupan nyata, sumber yang meyakinkan, dan kejelasan gambaran tentang hari
akhir.
Penulis sendiri menganut agama Islam pertama karena faktor
keturunan. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu penulis semakin mengenal
Islam lebih dalam hingga menemukan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang haq.
Tulisan ini penulis buat berdasarkan pehaman penulis sendiri tentang Islam dan
beberapa kutipan dari sebagian referensi yang mendukung tema ini.
REFERENSI
Mubarok, Zaky dkk.,1998,Akidah Islam,UII Press,
Yogyakarta.
Muthahhari,
M.,1984,Prespektif Al-quran tentang Manuisa dan Agama, Penerbit
Mizan,Bandung
Thabathabai,M.H., Tafsir
al-Mizân, Terjemahan Persia oleh Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani.
Subhanallah, super sekali mas
ReplyDeletehaha, cuma tugas kuliah kok man,,
ReplyDelete