RUMAH

Di tepi jalanan yang berlika liku aku memandang ke arah luar dari kaca jendela bis 
Entah apa yang aku sedang fikirkan 
Tiba-tiba seorang teman menyapa, “Hai Sal, sudah tahukah engkau tentang puisinya?”Dengan wajah bingung aku bertanya, “Belum, memangnya tentang apa?” 
Ia hanya tersenyum dan segera mengirim puisi tersebut menggunakan email lewat tab yang ia bawa 
Perlahan aku mulai membacanya
Aku mulai mengerti dan merasakan 
Sebuah puisi yang membuat hati dan fikirku tertegun
Sebuah puisi yang menggambarkan sejuta rasa 
Aku tak menyangka ternyata teman ku bisa menuliskan semua ini
Bagiku, ini tak sekedar puisi, namun bisa jadi curahan hati, atau bahkan prinsip hidup 
Terimakasih kawan telah mengajari ku arti ‘syukur’




RUMAH
Oleh F.S.Yuslihati

Kemarin aku menghabiskan sore dengan keluargaku. Sudah lewat satu tahun aku ada di sana, tapi mungkin baru kali ini aku benar-benar duduk bersama anggota keluarga yang lain. Sore yang indah menurutku. Kami bercerita banyak tentang rumah kami. Katanya, rumah kami belum jadi. Katanya, pondasinya tak kokoh. Katanya, rumah kami rapuh. Katanya lagi, rumah tetangga lebih indah, megah, dan kuat. Aku bahkan bertanya, lantas di mana kami selama ini tinggal? Di rumah tetangga? Mungkin iya. Lantas kami berkaca, mengapa rumah kami tak seindah milik tetangga sehingga pemilik keluarga ini bahkan enggan tinggal di rumah sendiri? Mungkin karena kami keluarga baru, hei, rumah kami belum jadi. Mungkin karena kami jarang ada di rumah sehingga kami jarang merawat rumah kami (yang belum jadi).
Kemudian kami mulai berpikir, lantas mengapa tak diperbaiki saja? Kita mulai dari awal lagi? Mengokohkan apa yang rapuh, menguatkan yang telah lama goyah, menjadikannya tangguh, tinggi menjulang. Ya, kami akhirnya memutuskan untuk membangun rumah kami. Kami berniat untuk itu. Tidak ada kata terlambat bukan? Toh, semua yang baik butuh proses. Bukan pula bertumpu pada hasil akhir, tapi pada proses. Kami mulai membangunnya dari awal. Bukan mudah memang, tapi kami yakin kami bisa. Meletakkan setiap batu di masing-masing pundak kami untuk menjadikannya pondasi yang baru, yang lebih kokoh dari sebelumnya. Menggenggam batu bata untuk membangun dinding yang melindungi kami dari dinginnya malam. Dan kami akan membuat atap untuk melindungi kami dari hujan dan panas.
Hei, bukankah pondasi yang kokoh butuh banyak batu, dinding yang kuat butuh banyak bata, dan atap yang indah butuh banyak genteng?. Kau tahu, mengapa aku menulis ini? Karena aku membutuhkanmu kawan, untuk membangun rumah kita. Mungkin kau memang tak ada di sana kemarin, tapi aku yakin kau masih punya keinginan untuk tinggal di rumah mungil kita. Iya kita, bukan lagi ‘kami’. Aku ingin kau memberiku sedikit saja waktumu untuk keluarga kita, membangun rumah kita. Tapi, usah kau tanyakan apa yang sudah keluarga SMART berikan untukmu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kau berikan untuk keluarga kita.
Luangkanlah waktumu sejenak untuk membangun rumah kita kawan. Agar kita bisa berkumpul lebih dari biasanya, agar tak ada lagi dusta di antara kita, agar aku bisa melihatmu lebih lama senyummu, candamu, tawamu, selalu. Kita bersama sekarang, nanti, dan selamanya.

Terima kasih kawan telah banyak berjuang di kepengurusan ini. Semoga bisa terus menorehkan karya dan selalu berkumpul dengan keluarga SMART FK UII. #WeAreSuperTeam

Comments

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)