Are You Proud to be a Muslim?
Beberapa Minggu
lalu aku beserta keluarga ku menonton film Bulam Terbelah di Langit Amerika.
Film yang dibintangi oleh Acha Septriasa
(sebagai Hanum) dan Abimana Aryasatya (Rangga) ini merupakan kelanjutan kisah dari Film
99 Cahaya di Langit Eropa. Film ini diangkat dari novel Hanum Salsabila dengan judul yang sama.
Sebelumnya aku sudah membaca novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan telah
menonton filmnya. Untuk Bulan Terbelah di Langit Amerika ini aku belum
sempat membaca novelnya, jadi aku putuskan untuk langsung menonton filmnya agar tidak ketinggalan. Menurut beberapa orang
yang sudah menonton film ini, mereka bilang filmnya menarik dan menginspirasi
untuk semakin taat beribadah, maka dari itu aku ingin segera menontonnya.
Kebetulan ada keluarga yang sedang datang menjengukku sekalian menjemput adik
di Solo, jadi ya sekalian saja menontot film bersama.
Bulan Terbelah di Langit Amerika berkisah tentang perjalan Hanum dan
Suaminya menuju Benua Amerika, epatnya di Washington DC. Sang istri mendapatkan
tugas untuk meliput seorang perempuan
(Azima Hussein) dari keluarga korban kasus runtuhnya gedung World Trade Center (911). Keluarga tersebut awalnya beragama Islam, namun sekarang sang Istri
sudah melepas jilbabnya dan mengganti namanya menjadi Julia Collin. Anak satu-satunya
yang dimiliki Azima, Sarah, juga sekarang sudah tidak bersekolah karena merasa terpojokan. Teman-temannya sering mengejeknya karena menganggap ayahnya adalah teroris, salah satu pelaku dari runtuhnya gedung WTC.
Keluarga tersebut hingga sekarang tutup mulut dan tidak mau diliput oleh
media mananpun dan Sarah lebih memilih untuk berdiam diri. Tugas berat bagi Hanum untuk mengorek kehidupan mereka dan menanyai
secara langsung pendapat dari keluarga tersebut untuk menjawab pertanyaan, “Would
the world be better without Islam?”.
Kemudian, suami
Hanum, Rangga, yang sedang mengambil PhD di Wina, mendapatkan tugas dari profesor Reinhard untuk mewawancarai seorang tokoh Bisnis yang sangat
kaya raya di New York guna
melengkapi syarat S3 nya. Orang ini bernama Philippus
Brown. Tokoh ini diangggap istimewa dan spesial karena ia bisa menjadi kaya raya dengan sifatnya yang sangat dermawan. Sebagian besar
keuntungan perusahaannya disumbangan dalam proyek kemanusiaan di Afrika untuk
membantu anak-anak yang kelaparan. Orang ini juga jarang terekspos oleh media
karena memang tak ingin memamerkan kegiatan kedermawanannya. Lebih menariknya
lagi, tokoh ini bahakan sebelumnya berbeda 180 derajat dengan kondisi sekarang.
Sebelumnya Brown melakukan segala cara untuk meraih
kekayaan. Namun, setelah mengenal beberapa ajaran Islam, tokoh ini bisa menjadi
sangat baik seperti sekarang.
Tugas Rangga adalah meliput dan merekam kuliah yang ia
berikan dalam sesi temu forum Bisnis. Ia ditugaskan untuk mengorek rahasia dan
motivasi Brown dalam mengembangkan bisnisnya sehingga ia
bisa sangat menjadi sukses. Bersama Steven, temannya saat dulu berkulaiah di Wina dan sekarang tinggal di Amreika, Rangga menyelesaikan
tugasnya.
Dari awal, memang terkesan tugas yang dibawa oleh sepasang suami istri
tersebut berbeda. Namun, yang menarik dari film ini ternyata ada keterkaitan
satu sama lain sehingga nantinya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan dengan
baik. Konflik pada awal cerita juga semakin seru disaat mereka saling
bertengkar karena tidak ada yang mau mengalah untuk membantu menyelesaikan
tugasnya masing-masing.
| Kejadian WTC 911 |
Tantangan yang dihadapi Hanum tidaklah mudah. Cobaan pertama saat ia
tiba di Amerika adalah semua data tentang keluarga korban yang akan
diwawancarai hilang karena tertinggal di sebuah taxi saat mengantar mereka ke
rumah Staven. Data-data tersebut terkumpul dalam sebuah amplop dan sekarang
jatuh di tangan Micheal Jones.
Jones adalah tokoh yang sangat anti-Islam dan sering mengadakan aksi demo
untuk menentang segala aktivitas yang dilakukan oleh seorang muslim, termasuk
menolak pendirian masjid-masjid di Amerika. Hal ini menjadi sulit bagi Hanum
untuk melacak alamat untuk menemui keluarga tersbut.
Akhirnya, Hanum dibantu oleh pacar Steven,
Jasmin, untuk mendapatkan alamat Julia dengan menghubungi secara langsung tempat kerja Julia bekerja. Awalnya ditolak berkali-kali karena pihak museum, tempat Julia bekerja, menjaga rahasia dan data-data para pegaiwainya, akhirnya Jasmin berhasil mendapatkan alamat Julia setelah melakukan cara licik (ingin tahu caranya, tonton langsung
film-nya ya J ).
Sungguh betapa
sulit menjadi seorang Muslim di Amerika tanpa iman yang kuat. Saat pertama
kali datang di Amerika, Hanum dan Rangga mengunjungi Ground
Zero (titik gedung WTC runtuh) untuk mengenang kejadian tragedy
kemanusiaan tersebut. Namun, tak lama kemudian, beberapa tatap mata tertuju
pada Hanum yang sangat mencolok karena ia mengenakan jilbab. Bahkan ditunjukkan
dalam film tersebut seorang wanita tua langsung menunjuk-nujukkan jarinya
seakan menyalahkan Hanum bahwa, “Because of you we have been like this”.
Intimidasi lain yang dirasakan oleh Hanum adalah ketika ia mencari rumah
Julia. Disaat ia sudah merasa menemukan alamat rumah yang dituju, ia segera
mengetuk pintu rumah Julia. Namun, ternyata yang keluar adalah seorang kakek
tua. Secara spontan kakek tersebut berteriak, “What did the Quran teach you?
Why you kill us?”. Kakek tersebut juga sangat benci dengan seorang Muslim
karena istrinya tewas dalam kejadian WTC. Ia sangat yakin jika Islam lah yang
menjadikan keadaan seperti ini.
Disaat Hanum terus dicaci maki oleh kakek tersebut, keluarlah seorang
wanita dari seberang rumahnya dan langsung menggandeng Hanum untuk masuk
kedalam rumahnya. Ia menjelaskan kepada hanum tentang sikap kakek tersebut
akhir-akhir ini menjadi Islamofobia karena telah termakan oleh media. Hanum
hanya mengangguk dan mencoba meredam suasana dengan menanyakan nama wanita
tersebut. “Im Julia”, jawab wanita tersebut sambil berjalan kearah
belakang rumah untuk mengangkat telepon yang sedang berdering. Kemudian
munculah wanita kecil dengan malu-malu mendekati Hanum. “You shuld be Sarah”,
kata Hanum. Ia hanya mengangguk.
Akhirnya terjadilah obrolan-obrolan kecil antara Hanum dengan Sarah.
Hanum berusaha semaksimal mungkin untuk membesarkan hati Sarah bahwa ayahnya
bukanlah teroris. Namun, setelah mengangkat telpon dari kantornya, tiba-tiba
Julia datang dan segera menyadari bahwa yang ada dihadapannya adalah Hanum,
sang wartawan. “Now get out of here”, usir Julia. “Aku ga ingin ada
wartawan yang masuk kesini. Segala bentuk wawancara hanya menguntukan pihak
media. Aku ga percaya lagi sama Media. Keluar sekarang !.” Hanum terus berusaha
membujuk maksud kedatangannya secara baik-baik. Sebenarnya Sarah juga sudah
mulai menerima kedatangan hanum, namun tetap saja Julia tak mau tahu.
Hingga Hanum berada didepan pintu, tiba-tiba datanglah sang kakek yang
islamofobia, tetangganya, membawa sebuah kue untuk dikembalikan pada Julia.
Hanum mengamati tingkah laku kakek yang tadi memarihinya. “Kue ini tidak akan
mengembalikan Istri ku”, ujar kakek tersebut. Saat kue tersebut sudah berada di
tangan Julia, langsung saja Hanum mengambilnya dan menyerahkan kembali pada
sang kakek. “Memang ini tidak akan mengembalikan istri Anda, namun inilah yang
diajarkan dalam Al-Quran. Kita diajarkan untuk berbuat baik dengan tetangga.
Cobalah mengerti, setidaknya Julia ingin menjadi tetangga yang baik untuk
Anda.”, kata Hanum pada kakek tersebut. Akhirnya kakek itu kembali membawa kue
tersebut ke rumahnya.
Julia hanya melirik ke Hanum dan segera menutup kembali pintu rumahnya.
Namun, Hanum tidak menyerah. Segera ia gedor dan ia jelaskan kembali maksud dan
tujuan kedatangannya. Sebenarnya Julia dan Sarah juga tak tega harus mengusir
seorang Muslim yang dulu satu keyakinan dengan mereka. Julia dan Sarah hanya
bisa bersender di belakang pintu mendengarkan bujukan Hanum. “Ayo bukalah pintu
ini. Aku ditugaskan untuk membuat artikel ‘Would the World be Better Without
Islam?’ dan aku yakin hanya kalian yang bisa menjawab ‘NO’. Ini
kesempatan bagi kalian untuk menjelaskan kepada dunia bahwasannya Islam adalah
agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Sekarang bukalah pintu ini atau dunia akan tetap
memandang Islam sebagai agama yang radikal.”, bujuk Hanum.
Akhirnya Julia menangis dan luluh. Dia membukan pintu bagi Hanum.
Mulailah Julia dan Sarah menceritakan perjalanan hidupnya pada Hanum. Julia
dulu adalah seorang muslim yang sangat bahagia hidup sebagai dalam keluarga
Muslim karena ia memilki seorang suami, Abe Husein, yang sangat mencintai istri
dan anaknya. Hingga suatu hari pada hari ulang tahun Sarah pada umur yang ke-5,
Abe pamit dan memberikan hadiah Al-quran pada Sarah. Ia pamit bahwasanya ia
akan melakukan misi kemanusian dan ia berdoa semoga selalu berada di Jalan
Allah. Ia membawa binkisan kecil yang dibawa ke kantornya pada hari itu. Namun,
siang harinya, gedung WTC runtuh dan Azima mendapat pesan kata-kata terakhir
dari rekaman telpon Abe.
“Jadi Julia meyakini bahwa Abe adalah teroris?”, tanya Hanum. Julia
hanya menggeleng dan menangis. Serantak Sarah menjawab, “NO… Daddy is not terrorist.!”.
Sarah memberikan rekaman dimana terakhir kalinya ia bertemu dengan ayahnya saat
sedang merayakan ulang tahunnya. Hanum hanya terdiam dan ikut bersimpati.
“Actually I love Islam so much and I believe it,
but I and the other Mulim now loss their proud to be a Moslem”, ungkap Julia kepada Sarah sambil melepas
RAMBUT PALSUNYA dan ia menunjukan kepada hanum bahwa ia masih mengenakan
penutup kepala. Betapa mirisnya intimidasi terhadap Islam di Amerika sehingga
Azzima bertindak sedemikian rupa. Sekilas saat melihat adegan ini, aku teringat
saat aku berada di negeri orang, khususnya saat aku di Jepang. (silahkan
tonton filmnya biar ga penasaran kelanjutan ceritanya, hihi J ).
Saat berada di Jepang, sungguh aku sangat takjub dengan segala kemajuan
teknologinya, terutama dalam hal transportasi. Kita bisa berpergian dalam waktu
yang sangat singkat untuk menempuh jarak yang cukup jauh. Ya, kereta
shinkansen. Waktu itu aku berangkat dari Osaka menuju Hiroshima menggunakan
kereta Shinkansen Nozomi. Jarak yang biasanya ditembpuh dengan waktu 5 jam
perjalanan bus, dengan kereta ini hanya ditempuh dengan waktu 2 jam saja.
Kemudian, di Hiroshima, transportasi yang cukup unik dan menarik bagiku adalah
trem (kereta yang berjalan di tengah kota).
Trem ini terhubung dari semua titik tempat wisata yang ada di Hiroshima.
Begitu juga dengan busnya, kita bisa berpergian kemana saja dengan semua akses
tempat-tempat penting dengan harga yang disesuaikan dengan jarak perjalanan
kita. Dari semua alat transportasi tersebut yang patut diacungi jempol adalah
dari sisi ketepan waktu. Semua berjalan sesuai dengan jadwal. *Walau beberpa
kali nunggu bus kelamaan karena datangnya telat, serasa jelek banget jadinya.
Padahal di Indonesia bus datang telat sudah biasa. hihi
Ini baru mode transportasinya, belum hal-hal keunggulan lainnya yang ada
di Jepang. Pokoknya semua itu membuat orang yang hidup di Jepang merasa betah
untuk tinggal dan terasa hidupnya sangat teratur. Namun, dibalik semua itu, aku
mulai merasa mulai menjauh dari Allah. Terutama dalam hal ibadah sholat. Masjid
hanya ada satu di dekat Hiroshima University. Waktu sholat yang bisa
dimanfaatkan secara maksimal adalah ketika sedang berada di rumah, yaitu waktu
Shubuh, Maghrib dan Isya. Selebihnya Dzuhur dan Asar harus sholat di JALANAN.
Subuhpun seringnya bangun terlambat. Karena waktu itu summer, maghrib
pukul 20.00 dan subuh pukul 03.00, sedangkan aku baru bisa bangun pukul 05.00
(Masih terbawa waktu Indonesia).
Pada saat awal-awal, aku sangat merasa risih dan malu harus sholat di
tengah kerumunan orang. Bahkan untuk menutupi aktivitas ku untuk sholat, aku
mengerjakannya sembari duduk di trem atau di kereta. Sungguh ironi sekali saat
hari-hari pertama sholat di Jepang. Aku mulai kehilangan rasa bangga ku sebagai
seorang Muslim. Kemudian, beberapa hari setelahnya, aku mulai menggap wajar
orang-orang yang minum sake. Mungkin jika aku kehilangan kesadaran bahwa aku
seorang muslim aku akan terbawa budaya minum-minuman beralkohol ini. Untungnya
aku tidak terlalu lama tinggal di Jepang. Aku bersyukur selalu ada teman serta
guru (dosen yang sedang melanjutkan PhD di Hiroshima University) yang
membimbing serta mengingatkanku selama tinggal satu minggu di Jepang.
“Can, kok kita rasanya malu ya buat sholat, padahal kan kita Mulim. Kok
aneh banget ya? Padahal juga orang-orang Jepang ini ga bakal peduli kan ya kalo
kita sholat.”, Ujar ku pada temanku yang ikut menemaniku di Jepang. “Iya ya, gua
juga ngerasa gitu ie. Sholatnya molor-molor, bangun sholat shubuh aja jam 5
tapi udah terang. Susah juga ya jaga sholat tepat waktu. Mau sholat bingung ga
ada mushola. Yaudah yuk langsung sholat aja.”, ajak Ican untuk Sholat.
Kemudian hari-hari berikutnya, kami mulai mencoba sholat tepat waktu.
Saat sudah memasuki waktu sholat, aku dan teman ku mulai menggelar poster
berukuran A0 yang kami gunakan untuk presentasi di acara symposium
internasional sebagai sajadah. Kami sholat di tempat-tempat sepi seperti
parkiran yang jarang dikunjungi orang. Di saat berada di tempat wisata, kami
juga sudah mulai terbiasa sholat di taman. Semuanya kami kerjakan demi menjaga
hati ini untuk tetap tunduk pada Allah.
![]() |
| Poster Serbaguna |
Tetapi, yang kami salut di Jepang, para muslimah dari berbagai penjuru
dunia (biasanya orang Indonesia) tidak canggung untuk tetap mengenakan jilbab
atau hijab. Untungnya tidak ada intimidasi di negeri Sakura ini. Para muslimah
masih tetap bangga menunjukan dirinya sebagai seorang yang beragama Islam.
Bahkan, dengan mengenakan hijab, orang-orang Jepang akan paham sendiri bahwa
muslimah tersebut tidak makan buta (babi).
Pesan yang aku dapatkan ketika berada di Japang, “Manusia selama ia
masih ingat Allah, ya minimal Sholat lima waktu terjaga, pasti ia akan
terhindar dari hal-hal yang buruk.”-Pak Awalludin.
![]() |
| With Mr.Awwal |
Ketika akan pulang, kami sempat berkunjung ke masjid Osaka. Disana kami
seakan ditunjukan dengan hidayah. Kami bertemu dengan seorang muslim yang
berasal dari Indonesia. Nama beliau adalah pak Irawan. Beliau adalah warga
Indonesia yang menetap di Jepang karena mendapat istri orang Jepang. Tampilan
beliau selalu mengenakan gamis dan peci putih. Tanpa malu beliau mengenakan
pakaian muslim kemanapun ia pergi selain saat bekerja.
“Saya setiap hari pakaiannya kaya gini. Pakai baju koko putih dan peci.
Di kereta paling cuma saya yang pakai pakaian kaya gini. Sebenernya apa yang
lakukan ini adalah sebagai bentuk dakwah saya pada orang-orang. Jika
orang-orang sekitar tahu bahwa saya seorang mulim, saya akan tunjukan
bahwasanya Islam mengajarkan akhlaq dan tingkah laku yang mulia. Saya bangga
menjadi seorang Muslim.”, ungkap beliau kepada kami saat berada di kereta.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(Q.S Al-maidah:3)
Saat perjalan pulang, Pak Irawan mengantar kami untuk menuju Kansai
Airport dari masjid Osaka. Beliau banyak bercerita tentang dirinya selama di
Jepang. Beliau berpesan, “Cocok atau tidaknya kita pada suatu pekerjaan atau
tempat adalah ketika kita bisa menjalankan sholat lima waktu secara teratur.
Jika pekerjaan atau kegiatan kita mengganggu waktu sholat kita, itu berarti
kita tidak cocok. Lihat saja nantinya, jika sholat kita terganggu dan bolong-bolong
maka pekerjaan kita pun akan berantakan. Ingat, dimanapun kalian berada, jika
sudah masuk waktu sholat, dirikanlah sholat. Jangan malu. Ketika mendapati
waktu sholat di Jalan dan tidak ada mushola, ya gelar saja apa yang kalian bawa
dan bisa jadikan untuk sajadah. Insyaallah hidup kalian akan berkah.”. Kami
hanya mengangguk setelah mendapatkan nasehat dari beliau. Kami berjanji akan
selalu menjunjung tinggi nama Islam di dada kami.
Isyhaduu Bi Anna Muslimuun
"Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata: 'Sesungghnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimin)'."(Fushshilat: 33).




Ceritanya bagus, Faisal. Good
ReplyDelete