Operasi ACL part II
Cerita sebelumnya...
Rabu, 16 Maret 2016
Di tengah
sunyinya malam aku terbangun untuk merasakan kesakitan yang luar biasa. Walau
rasanya sedikit berkurang, namun tetap saja kaki kananku terasa kesemutan dan
setiap jengkal kakiku terasa ada rasa yang menekan. Aku hanya merasa aliran
darah di kaki kananku sangatlah tidak lancar.
Pukul 03.00 aku
terbangun dan meratapi kaki ku. Berharap hari segera berlalu agar aku lekas
bisa berjalan. Pagi harinya perawat datang dan mengatakan akan melepas
kateterku. Pukul 08.00 perawat sudah bersiap untuk membersihkan luka sembari
melepas kateter.
![]() |
| Dibersihkan Bekas Luka |
Saat-saat yang
dinantikan adalah melepas perban kaki untuk dibersihkan lukanya. Aku akan
sedikit terbebas dari jeratan bandage yang mengikat kencang kakiku
sehingga darah akan lancar mengalir. Perlahan gulungan bandage dilepas.
Nampak ada bekas luka di daerah lututku serta samping kanan pahaku yang
memanjang. Perawat tersebut mengganti perban dan membersihkan lukaku. Ternyata
di bagian bawah ada gip setengah lingkaran yang ikut diikat dikakiku sehingga
memfikasasi kaki agar tetap lurus.
Rasanya memang plong
sekali ketika ikatan bandage serta gip dicopot dari kakiku. Namun,
ketika memasangnya, perawat tersebut tidak mengankat kaki ku secara simetris sehingga
posisinya sedikit tertekuk keatas, sontak aku berteriak sekencang-kencangnya.
Rasanya didalam lututku ada sebuah kawat besi yang keras dan jika dibengkokkan
maka akan menyerang semua persyarafan nyeri di lututku.
Aku langsung
lemas setalah kejadian itu. Kemudian adalah pelepasan kateter. Ketika aku ujian
OSCE kateter, aku sungguh tak bisa membayangkan lubang kecil di kemaluan
dimasukan selang sebesar selang infus. Tapi saat itu aku diapasang kateter
ketika dibius, jadi rasanya seperti ditekan-tekan saja. Sekarang saatnya
melepas kateter tersebut secara sadar.
Perawat
tersebut sudah bersiap mengambil suntikan kosong untuk menghisap cairan
pengunci yang terdapat di vesica urinaria ku. Setalah kunci sudah terlepas,
sekarang saatnya menarik selang tersbut. Aku sudah kembang kempis bersiap-siap
menahan rasa geli plus sakit ketika ditarik. Sontak saja perawat
tersebut langsung menarik tanpa aba-aba. Nafasku langsung terhenti sesaat
menahan sakit. Kemudian dengan terlambat perawat tersebut bilang, “Tarik nafas
dek yang dalam”. Aku langsung menarik nafasku dalam-dalam sambil sedikit
berteriak menahan sakit juluran selang di alat kelamin ku. Sebal sekali kenapa
perawat tersebut terlambat memeberitahu trik tersebut. Sepersiekian detik aku
harus menahan rasa sakit yang aneh di kelamain ku.
Di sore hari,
pintu kamar sidoasih 6 nampak bergetar. Ada sesorang yang masuk namun aku
sedikit asing dengan wajah tersebut. Semakin mendekat aku baru menyadari itu
adalah Adit FK UNS yang telah menjengukku kemarin. Ada satu wanita lagi yang
datang, ah mungkin itu kak Istna. Segera kusapa saja dia. Ternyata benar, Kak
Istna FK UNS 2012 yang dulu menjadi LO ku di Medmotions 2015 datang
menjengukku. Akhirnya di senja sore itu aku habiskan dengan mengobrol mengenai
kehidupan anak semester mahaswa fakultas kedokteran bersama kak Itsna.
![]() |
| Kak Istna dan Adit |
Hari ini
dikabarkan teman-temanku dari Semarang akan menjengukku. Teman-teman dari FULDF
lebih tepatnya. Sebenarnya kami belum pernah bertemu sama sekali, namun karena
kedekatan ukhuwah Islam, hatinya tergerak untuk menjenguk saudaranya yang
sedang sakit ini. Akh Rama dari FK UNDIP ternyata sampai di Solo pukul 18.10
selepas maghrib. Ternyata ia tidak hanya sendirian, melainkan datang bersama 2
akhwat dari FK UNIMUS, Dewi dan Tuti. Kemudian disusul oleh Yudistira, Yoga,
dan Rosyid dari FK UMS. Kemudian disusul oleh Akh Rahsan dari FK UNDIP. Mereka
semua adalah teman-temanku yang tergabung dalam aktivis lembaga dakwah FK se
Indonesia.
![]() |
| Akhi Rosyid, Yudis, Yoga, dan Rafsan |
![]() |
| Yang tengah ada bang Rama |
Sungguh luar
biasa semangat ukhuwah mereka. Jauh-jauh dari Semarang datang menggunakan bus.
Mereka juga rela pulang malam-malam kembali ke Semarang. Kemudian disusul juga
beberapa teman-teman alumni dari Assalaam. Fajar datang dari FK UMY menjengukku
beserta teman-teman SIXSENSE chapter SOLO. Hatiku sangat terhibur walau kesemutan
serta ras sembab di perut menghantui.
![]() |
| SIXSENSE 26 |
Tidak hanya
itu, teman-teman dari FK UII seangkatanku juga menjenguk. Hefson, Indra, Bima,
Sena datang menggunakan mobil, sedangkan Ahda dan Ipam menyusul menggunakan
motor. Malam yang dingin serta jarak yang jauh tak menyurutkan niat mereka tuk
melihat kondisi sahabatnya. Bahkan teman-teman AMD ini berkunjung cukup lama
hingga pukul 22.00 tuk menghiburku dan dinner bersama.
![]() |
| Indra, Bima, Sena, dan Hefson |
Hari ini aku sungguh
bahagia bisa melihat dan mendengar berbagai kisah dari teman-temanku.
Teman-teman baru yang belum pernah bertemu sama sekali, teman-teman
seperjuangan yang baru beberapa hari lalu berpisah namun serasa sebulan, dan
teman-teman satu kenangan di PPMI Assalaam tercinta.
Terimakasih atas doa dan kunjungannya teman.
Kamis, 17 Maret 2016
Hari ini sudah
hari ketiga sejak operasi ACL. Di hari ini aku dijanjikan akan dilatih berjalan
menggunakan walker (alat bantu jalan dengan 4 titik tumpu). Selain itu katanya
selang drainase darah juga akan dilepas. Namun, ternyata setalah
dihitung, darahku masih mencapai 500 cc, ketika dilepas jumlahnya harus <250 atau="" bisa="" cc.="" depan="" dilepas.="" ditunda.="" drainase="" jadi="" jumat="" kepulangan="" o:p="" pelepasan="" sabtu="" segera="" selang="" serta="" targetnya="">250>
Fisioterapist
sebenarnya sudah datang dari kemarin. Keberadaanya sangat membantu sekali
mengurai “semut-semut” yang berkeliaran dikakiku. Telapak kaki diurut, dilatih
ditekan, dan diangkat keatas kebawah maupun ke samping. Fisioterapi sangat
berperan dalam kembalinya fungsi-fungsi otot kakiku, dan inilah tahap
perjuanganku selanjutnya untuk melatih kaki. Walau memang sekarang belum bisa
mengangkat kaki, namun perlahan pasti akan dilatih terus untuk bergerak.
Motivasiku
untuk berlatih berjalan hari ini adalah agar motilitas ususku bisa berjalan
dengan baik. Sudah 3 hari ini aku tidak bisa BAB. Beberapa kali kentut dan
dipasang pispot di kasur namun tetap saja tidak bisa keluar. Tidak ada gaya
kontraksi yang cukup kuat dari bawah. Aku hanya bisa duduk dan bersendawa untuk
mengeluarkan sisa-sisa gas buangan di perut.
Setelah kakiku
dilatih pemanasan, akhirnya kakiku mulai diangkat dan ditarik ke pinggir kasur.
Sebelumnya pak Sunarno, fisioerapist, mengatakan, “Biasanya kalau sudah ditaruh
bawah kakinya akan terasa nyut nyut, jadi siap-siap ya. “.Aku mengangguk dan
bersiap dengan semua resiko yang ada. Aku mulai berdiri dengan satu kaki
menopang dan kaki kananku dipegangi oleh beliau lurus 90 derajat. Perlahan beliau
mulai menurunkan kakiku ku. Perlahan pula mulai terasa beban berat di kaki.
Semakin berat dan semakin nyeri menyerang kakiku. Cenut cenut bagaikan
digigit semut merah besar mulai terasa ketika kaki menyentuh lantai. Aku
langsung menahahan sambil membungkuk. Menaruh semua beban di kedua tanganku.
Perut terasa
mulai bergejolak. Ketika vertebra ditegakkan, kaki semakin menajdi batu. Namun perlahan
aku mencoba mengangkat walker tersebut dan memulai langkah ku. Baru tiga
langkah saja serasa sudah berlari puluhan meter. Nafasku memberat. Akhirnya aku
putar balik dan kembali ke ranjang. Cukup menantang juga pengalaman awal
berjalan di pagi hari.
Pukul 10.00 aku
kembali memutuskan untuk berjalan ke kamar mandi mengusir rasa begah di perut.
Dengan bantuan ayahku, aku diturunkan dari kasur dan mulai melangkah. Langkah demi
ku ayunkan menuju kamar mandi demi mebuang kotoran yang sudah 3 hari menumpuk.
Sesampainya di closet duduk, kaki kananku diganjal menggunakan kursi agar tetap
lurus. Sembari menunggu adanya kontraksi lebih lanjut, beberapa udara telah
dilepaskan. Namun hingga 15 menit berlalu, percobaan defekasi gagal. Aku
kembali ke kasur.
Malam harinya
aku bisa istirahat dengan lebih tenang. Kaki ku sudah mulai bisa diajak
kompromi. Hari ini tidak ada yang menjengukku. Namun tak masalah, pasti
teman-temanku sedang mendoakanku dari jauh. Aku tak sabar menunggu hari esok
untuk latihan jalan lagi dan berharap sudah bisa mengosongkan isi perutku.
Malam ini aku sudah meminum pil pencahar agar bisa mengocok dan membersihkan
perutku esok paginya.
Jumat, 18 Maret 2016
Pukul 03.00 aku
sudah tebangun seperti biasanya. Rasanya benar-benar sudah tidak bisa untuk
tidur lagi. Searasa sudah kebanyakan tidur. Namun, tanpa sadar, sebenarnya aku diserang
demam. Badanku panas. Sudah dari kemarin aku merasakan hal yang tidak enak,
tidur kurang nyaman, dan akhirnya bisa tidur hanya sebentar.
Pagi harinya, sebelum
latihan jalan, aku sudah berlatih duluan menuju kamar mandi. Walau belum ada
dorongan yang kuat dari perut, namun aku berharap ketika duduk ada kontraksi
yang lebih di perutku. Setelah 10 menit berlalu, namun tetap gagal. Aku kembali
lagi ke kasur.
Belum lama aku
istirahat dan kemudian sarapan, pak Sunarno sudah datang. Membuat perasaan ku
semakin tidak enak untuk latihan. Perut baru diisi, sisa belum dibuang, harus
berlatih berjalan yang menguras tenaga habis-habisan. Akhirnya benar saja, baru
beberapa langkah aku sudah menyerah, perutku semakin mual dan tak sanggup lagi
melanjutkan latihan. Aku kembali ke kasur dengan cepat.
![]() |
| Latihan Jalan |
Baru istirahat
sebentar, tiba-tiba perawat masuk dan mengabari bahwa aku harus pindah ruangan
dikarenakan seluruh koridor lantai 2 pavilium wijayakusuma akan direnovasi.
Sungguh tidak nyaman sekali. Berita bagusnya, infusku telah dicopot, namun
drainasenya masih belum dilepas karena darahnya masih 250 cc. Mungkin esok hari
aku bisa pulang dan dilepas selang darah ini.
Akhirnya kami
semua pindahan menuju ruangan vip lainnya. Aku tak mengerti dimana arah
tempatku yang baru. Aku hanya bisa menatap langit-langit. Akhirnya aku samapai
juga disebuah ruang yang menurutku lebih besar dari sebelumnya. Sewaktu
membawaku ke ruang yang baru, orangtuaku hanya membawa barang-barang yang
penting-penting terlebih dahulu. Sisanya akan diambil ketika aku sudah sampai
di ruang yang baru.
Aku sudah
tiduran dengan nyaman dengan ruang ber-AC yang lebih dingin daripada
sebelumnya. TV juga sudah dinyalakan dan aku menonton dengan santai. Ketika
ortuku pergi mengambil barnag-barang yang tersisa, perutku mulai melilit. Ini
pasti efek dari obat pencahar semalam. Wah-wah aku sungguh tak karuan
menahannya. Tidak enak juga menekan tombol bantuan perawat sedangkan seluruh
perawat juga baru pindahan ke koridor ruang ini. Terpaksa aku harus menunggu
sampai orang tuaku datang.
Dengan berbagai
perubahan posisi tidur, aku menghalau dan menahan sedikit demi sedikit rasa
mules yang sudah berada diujung. Ruang AC yang dingin menambah rasa kencingku
semakin menjadi pula. 10 menit berlalu menanggung rasa ini. Entah berkah atau
musibah, yang jelas rasa ini sungguh tak nyaman.
Akhirnya datang
juga kedua orang tuaku. Langsung saja aku mengabari kalau ingin buang air
besar. Segera mereka mengecek air di WC. Ternyata macet dan tak keluar untuk
pembuangnnya. Yah terpaksa harus pindah-pindah dulu. Segera aku didorong ke
ruang sebelahnya. Semakin terampil pula aku menahan rasa yang sudah diujung
ini. Sesampainya di ruang yang baru, “mana walkernya?”, teriaku panik. Terpaksa
aku harus kembali menunggu selama 5 menit untuk diambil kan walker. Sebenarnya
sudah ada krurk (tongkat alat bantu jalan), namun ketika tadi pagi latihan aku
sudah menyerah duluan. Jadi masih khawatir jika menggunakan dua tumpuan saja.
Akhirnya
sekarang mimpi itu benar-benar terwujud. Setelah 4 hari tertimbun, semua
kotoran bisa dibuang. Sungguh nkmat sekali rasanya bisa defekasi. Hikmahnya
adalah sebanyak apapun tampungan yang ada dalam perut, namun ketika tidak ada
kontraksi yang berarti, maka sia-sialah usahamu untuk mengeluarkannya. Maka
sejatinya mules adalah sebuah bentuk anugrah terindah. *super sekali
Hari ini
beberpa kawan angkatanku akan menjengukku selepas sholat maghrib. Aku sangat
bahagia mendengar kabar itu. Aku tunggu hingga isya berlalu, benar saja pukul
20.30 mereka datang. Ada 8 orang yang menjenguk, 2 lelaki 6 perempuan. Saat
masuk, hanya ada 4 yang ada. Lalu sisanya? Ternyata mereka dijatah bergilir
oleh satpam agar lebih kondusif. Ternyata ruangan baruku ini lumayan ketat
penjaggannya.
![]() |
| Surya, Asri, Ami, dan Desti |
Kuorter pertama
ada Surya, Ami, Desti, dan Asri. Mereka berempat satu mobil berangkat dari
Jogja malam-malam. Beberapa kisah dan sendagurau kami layangkan bersama. Di kuorter
kedua ada Shinta, Fajar, Jams, dan Lulu. Tak kalah serunya aku semain terhibur
dengan kedatangan mereka. Sungguh aku sangat bersyukur mempunyai kawan yang
sangat peduli dengan kondisi sahabatnya. Mereka kembali ke Jogja pukul 22.00
menggunakan 2 mobil. Terimakasih kawan sudah menjenguk. J
![]() |
| Jams, Lulu, Shinta, dan Fajar |
Sabtu, 19 Maret 2016
Pagi hari ini
tampak lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Suster sudah datang membawa
bebrap alat untuk membersihkan lukaku. Kali ini, drainase darah akan
dilepas. Setelah luka dibersihkan, di bagian yang selama ini menjadi pusat
nyeri itu mulai dilepas jahitannya untuk mengangkat pengunci selang darah di
paha kananku. Saat gunting ditempelkan di kulitku, mulailah rasa nyeri muncul
kembali. Aku sedikit menahan ketika benang pengait selang drainase itu
dicabut.
Ini baru fase
awal. Setalah itu, selang muali ditarik perlahan. Sama sakitnya seperti dilepas
selang kateterku, namun kali ini kondisinya lebih ekstrim karena diselingi
dengan cucuran darah sisa operasi. Benar saja ketika selang ditarik, seluruh
rasa sakit muncul di lubang drainase. Aku hanya bisa menahan sakit. Setelah
selang berhasil dicabut, perawat tersebut menekan-nekan dan mengurut-ngurt
bagian tempat selang keluar agar darah bnayak menagalir keluar. Aku hanya bisa
menahan kembali rasa sakit di kaki.
![]() |
| Lubang Drainase Darah |
Setelah 10
menti kakiku di “pijat”, akhirnya ditutup juga lubang drainase dan
kakiku kembali dibalut dengan bandage. Pukul 08.30 hadir 2 sahabatku
dari FK UII berusaha menengokku. Adhika dan Yasir datang menjenguk. Kali ini
mereka datang dengan segudang cerita lucu tentang kehidupan anak FK yang
unik-unik (Kisah Suryo, Hehe, dan Si Om). Cukup lama juga mereka menjenguk,
hingga pukul 12.00 mereka kembali ke Jogja langsung untuk makan bakso
klenger.
Hari ini
merupakan hari terkahirku di RS ini. Sore hari aku sudah dikabarkan boleh meninggalkan
RS. Sebelumnya, pukul 15.00 bulik Sri beserta Om Joko datang menjenguk. Mas
Hendro juga hadir serta adikku dari Assalaam juga datang. Pukul 16.30 kami
meninggalkan ruangan. Gelang di tanganku resmi dipotong dan aku terlepas dari
status pasien RS Ortopedi ini. Sebelum pulang, aku harus mengantar adikku dulu
ke Assalaam ditemani dengan Bulik Sri dan Om Joko.
![]() |
| Adhika dan yasir |
Aku berada di
mobil paling belakang dengan posisi kaki tetap lurus serta punggungku bersandar
di jok paling belakang. Beberapa bantal digunakan untuk mengganjal bagian bawah
maupun kakan kairi lututku. Aku harus bertahan denga posisi seperti ini dari
Solo hingga Cilacap. Perjalanan normal bisa ditempuh dalam waktu 8 jam, namun
karena yang mnyupir mobil adalah ayahku sendiri, maka aku baru samapi rumah esok
harinya. Fix semalaman aku ga bisa tidur karena bokongku panas dan posisi
yang ga pwenak.e pol ndes....
Sekian cerita
operasi ACL dariku, terimakasih buat orang tuaku yang selama ini mendukung dan
merawatku. Terimakasih pula buat teman-teman yang sudah meluangkan waktunya
untuk menjenguk. Mohon maaf belum bisa mengucapkan terimakasih satu persatu.
Semoga amalan kalian bisa bernilai ibadah lebih. Terimakasih pula buat
teman-teman yang telah mendoakanku dengan tulus, semoga doa baik juga menyertai
kalian.
Buat pembaca faisalcare yang ingin berbagi atau menyanyakan
tentang operasi ACL, bisa koment di blog ini ya... dadah, selamat berlibur. J
![]() |
| Thanks for my beloved Familiy |












KAu hebat Faisal, tabah banget. Dan tentu saja populer seperti artis, sehingga dijenguk orang-orang se Indonesia Raya. Keren. salam, as
ReplyDeleteAmin-amin, mohon doanya saja biar cepet sembuh..
ReplyDeleteAssalamulaikum perkenalKan nama saya dea. Biasa diapnggil dey. Saya juga baru didiagnosa rupture acl mas setelah dokter spesialis liat hasil MRI saya. Namun saya tidak bisa operasi dalam waktu dekat.jarena akhir bulan mei ini mau menikah. Mungki. Setelah itu fokua lagi berobat dan cari second opinion. Tapi klo harus operasi..mungkin akan saya jalani.walau biaya nya mahal saya di bdg..katanya 55jt biaya operasinya saja.
ReplyDeleteYang saya mau tanya..liat foto mas diatas.luka operasinya kok besar ya? Ini operasi terbuka ya buka teknik arthoscopy ya? Trus mas dicover bpjs apakah full?
Semoga cepat sembuh ya mas. Syafakillah. Pastinya maaih harus fisioterpai selama beberapa bulan kedepan ya.
Wa'alaikumsalam.. salam kenal juga dey
ReplyDeleteIya, setau saya memang untuk operasi ACL metodenya arthoscopy, namun saya juga kurang tau kenapa ada luka sayatan. Beberap teman saya yang juga operasi ACL juga hasilnya sama mba.
Kalo BPJS semuanya tercover dapet ruangan kelas 1. Cuma kemarin saya pake ruangan VIP jadi cuma ganti buat euangannya saja.
Iya, mending selesaikan dulu segala urusan dan tata hati. Alhamdulillah saya sekarang sudah memasuki minggu ke 6 dan sudah mulai masuk ke tahap pemulihan. Sudah bisa jalan pake tongkat dan kaki sudah bisa menekuk 90 derjat.
Terimakasih atas doanya, semoga dey juga dimudahkan urusannya..
Assalamualaikum.. saya laki2 mas. Cuman namanya saja yg kaya perempuan.hehe. ohh gitu ya mas. Pemulihannya gimana saja? Selama 6 minggu itu..hal yag dirasa berat apa mas? Saya juga sedang mengusahakan pake bpjs klo asuransi kantor saya tidak mengcover. Mungkin ada ya 2 bukan ga bisa aktivitas normal dl?
DeleteAssalamu'alaikum mas faisal, saya juga didiagnosis sama dg njenengan, setelah 6 minggu apa sudah bisa berkegiatan dan kaki sudah bebas digerakkan atau ttp dipasangi pengunci agar ga bny bergerak? Terima kasih sebelumnya mas.
ReplyDelete