Pakistan, Negeri yang tak pernah terbayangkan (Part II)
Baca Part 1 disini
.................................
Sambil menatap
ke arah luar melalui jendela kereta aku merenung. Perjalanan ini bukanlah
perjalanan untuk senang-senang semata. Namun aku membawa misi besar dalam
petualangan ku kali ini, yaitu membawa nama FK UII, Bangasa Indonesia dan agama
Islam. Aku sangat beruntung bisa berangkat disertai dengan dr.syaifudin yang
selalu membimbing dan mengingatkan ku untuk selalu kembali kejalanNya ketika
melenceng.
Apalagi jiwaku
masih muda, dibawa ke negera orang yang tak sama aturannya dengan negara
sendiri pastilah harus meneguhkan hati dan iman. Ternyata nantinya aku tak
langsung menuju Pakistan yang aku pikir bakal aman-aman saja karena negara
Islam, melainkan harus transit terlebih dahulu di Maysia dan Thailand yang
kehidupannya sedikit berbeda dengan Indonesia, apalagi di negeri Gajah Putih
tersebut yang masyoritas belum muslim.
Jaket jeans
coklat ku yang tebal masih terasa basah. Aku copot jaket tersebut dan kubiarkan
kering di tengah AC kereta. Aku masih ingat ada bekal beberapa nasi kucing yang
aku beli di depan kampus tadi. Mulailah ku santap sebagai makan malam dan
kusisikan beberapa untuk esok sahur dan untuk dr.Udin. Sayangnya beliau sudah
makan dan menolak ketika ku berikan nasi kucing terseut. Jadi aku harus
menghabiskan sisanya yang masih banyak esok pagi.
Kereta terus
melaju kencang menuju Stassiun Pasar Senin Jakarta. Hingga sampai di sekitar
kota betawi tersebut, waktu sudah menunjukan pukul 03.00. Aku dibangunkan oleh
beliau dan disuruh wudhu. Aku kira sudah subuh, ternyata masih waktunya sholat
tahajud. Akhirnya aku sholat beberapa rokaaat dan melanjutkan makan untuk sahur
di dalam kereta. Sungguh Kamis yang istimewa bagiku. Setelahnya aku terjaga
hingga subuh dan Beliau gantian terlelap.
Setelah
sebelmunya saling terjaga dan bergantian tidur, tibalah saatnya aku
membangunkan dr.Udin untuk sholat shubuh. Fajar mulai menyingsing dan Stasiun
Paser Senin sudah mulai dekat. Akhirnya kami tiba juga di stasiun tersebut.
Setelah tiba di Stasiun Pasar Senin
Jakarta, kami menuju ke penginapan sementara untuk transit mandi dan
bersiap-siap ke Bandara Soekarna Hatta. Penerbangan pertama kami menuju Kuala
Lumpur pukul 13.30 wib.
Oh ya, hampir
saja aku lupa, aku belum sama sekali memegang passport dan visa. Terakhir kali
passport saya dibawa oleh dr.Udin untuk membuat visa Pakistan di Jakarta. “Dok,
nanti ambil passportnya dimana?”, tanyaku pada beliau. “Nanti kita masjid Kebon
Jeruk dulu ya.”. Aku semakin bingung, ambil passport dan visa di masjid??
Akhirnya sampai
juga di masjid Kebon Jeruk. Aku sedikit kaget karena ternyata disini sangat
ramai dengan para jamaah yang sedang beribadah. Kata beliau, ini salah satu
markaz pusat dakwah di Jakarta. Aku hanya mengangguk dan berjalan mengikuti
beliau. Kita berjalan menuju suatu ruangan seperti bagian peneriamaan tamu. Belaiu
langsung menanyakan tentang visa ke Pakistan yang masuk minggu lalu. Sambil
harap-harap cemas kami berdoa, semoga visa kami bisa keluar. Karena sungguh
sangat mepet sekali, 1 minggu membuat visa untuk ke nagara yang cukup jauh.
Terpaksa, kami menggunakan jalur dalam, yaitu jalur agen dari para pendakwah
yang biasa mengurus jamaah pergi ke Pakistan.
Sambil menunggu
visa, kami sholat duha terlebih dahulu. Hingga akhirnya kami dipanggil, dan
alhamdulillah visa Pakistan bisa keluar. Sejanak kita memanjatkan syukur. Kami sangat
pasrah kepada Allah terhadap semua perjalanan yang kami lakukan.
![]() |
| Visa Pakistan |
Oh iya,
jangankan visa yang mepet pembuatannya, tiket pesawat juga. Kami saja tidak
tahu rute balik nanti mau naik apa. Semua tiket dibeli mengandalkan agen yang
dikontak melalui whatsapp dr.Udin. Kami pasrah. Fikirku, salagi masih
ada yang memandu dan membimbing, insyaallah akan aman.
Kemudian terbanglah
kita ke Malaysia. Ini penerbangan pertamaku keluar negri. Walau hanya
menggunakan Lion Air, namun tidak masalah bagiku. Syukur terucap ketika kita
sampai di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Oh ya, waktu itu
KLIA masih terpisah menjadi 2, yaitu KLCC (untuk penerbangan low cost) dan KLIA
(untuk penerbangan yang High Cost). Nah pertama tiba di KL, kami di terminal
KLCC dulu. Memang sedikit bingung juga harus transit ke ke terminal KLIA. Kita
menggunakan kereta listrik. Sedikit terburu-buru memang karena kita sampai sana
sudah mau maghrib dan kami belum buka puasa.
![]() |
| Narsis di MRT |
Sambil berjalan
cepat, kami sampai juga di KLIA pukul 17.30 waktu setempat. Penerbangan kami
berikutnya yaitu transit di Thailand pukul 20.20. Waktu yang begitu singkat.
Langsung kami menuju kantin dan memesan makanan yang ada, khas Malaysia. Aku
memilih telur balado dan daging ikan, seta minum lemon. Ternyata rempah negri
Jiran ini sedikit berbeda, pedasnya lebih meresap dan tak hanya rasa cabai
saja. Sedikit kepedasan juga. Mana ternyata lemon juz nya sangat kecut, waduh
gawat. Perut tiba-tiba mengeras. Sedikit mules karena perut kosong langsung diisi
makanan pedas dan minuman asam. Tanpa air putih.
Tanpa sempat
meminta minum air putih, langsung saja kami berbegas dan berlari menujugate
yang ada. Sungguh luas sekali airport ini. Aku tak bisa membayangkan jika aku
harus pergi sendirian tadinya, pasti aku sudah hilang duluan. Bersyukur ada
yang menemani di perjalanan ini. Sambil berlari-lari kecil kita menuju gate
yang tertayang di layar tv. Aku masih belum paham dengan semua alur pemeriksaan
di bandara. Aku hanya berjalan mengikuti beliau.
![]() |
| Intermezo, "Jangan tolak aku ya" |
Sambil
terengah-engah, antrian pemeriksaan sudah panjang. Padalah masih kurang satu
setengah jam lagi pesawat take off. Ya memang, kata beliau penerbangan internasional
membutuhkan persiapan minimal dua jam, jadi kita sudah harus check in
dan berada di gate dua jam sebelum penerbangan.
Setibanya di
gate airport, sudah banyak orang-orang yang sedang menunggu. Kita hanya punya
waktu tersisa setengah jam sebelum lepas landas. Sungguh waktu yang sangat
mepet. Di ruangan tunggu ini sudah bnyak orang-orang thai yang sedang
bercakap-cakap dengan bahasa yang tidak aku pahami sama sekali. Aku sungguh tak
sabar ingin tiba di negri film-film yang terkenal kocaknya itu, seperti SuckSeed.
Sungguh luar
biasa, ternyata pesawat yang aku naiki adalah Thai Airlines, sebuah pesawat
Airbus yang super mewah. Di gerbang pesawat sudah bersiap seorang pramugari
yang menyambut para penumpang dengan hangat. “Sawadi khrap”, ucap pramugari
tersebut dengan nada cempreng yang keluar dari suara hidung dan disampaikan
dengan ramah. Aku tersenyum sembari memasuki kabin pesawat.
Aku duduk
terpisah dengan dr.Udin. Tak apa, yang penting bisa menikmati fasilitas mewah
Air Bus ini. Saat duduk di ursi yang sesuai dengan boarding pass, para
pramugari juga membagikan selimut serta berbagai fasilitas lainnya, seperti
headset dan bantal. Teryata di depan kursi sudah nampak layar touchscreen
yang bisa untuk mendengarkan lagu, menonton film, melihat ketinggian peswat,
dan berbagai fitur canggih lainnya yang membuat nyaman para penumpang.
Namun, semua
kenikmatan tersebut seakan hilang lenyap tertutup oleh rasa mulesku. Perutku
semakin menegang, mules, dan mengeras. Rasanya ingin buang air besar namun baru
sedikit isi perut ini. Sungguh tak karuan. Aku hanya butuh air putih untuk
lebih melancarkan pencernaanku. Aku tunggu hingga pramugari membagikan makan
serta minuman untuk dinner.
Penarbangan
menuju Thailand dari KL memakan waktu sekitar 3 jam penerbangan. Dari 3 jam
tersebut, aku hampir menahan rasa sakit perut yang melilit hinga 1 jam terakhir
penerbangan. Berbagai manuever posisi duduk sudah aku lakukan untuk
mengganjal perutku yang melilit. Ke kamar kesil pun tidak membawakan hasil yang
memuaskan. Setelah makan nasi ikan, serta bebabgai minuman datang, barulah
perut ini bisa lebih diajak kompromi.
Sisa kenikmatan
penerbangan yang ada aku manfaatkan dengan baik. Walaupun perut sangat melilit sehingga
membuat kenikmatan fasilitas air bus ini hilang, namun aku sangat bersyukur
bisa menyempurnakan puasa ku walau sedang safar. Aku baru sadar, ternyata aku
buka dan sahur pada dua negara yang berbeda. Hem, keren juga J
Pukul 24.30
waktu setempat kami tiba di negri Gajah Putih. Tulisan aksara Jawa (eh, aksa
Thailand dings) sudah mulai nampak disanan sini. Cukup bingung juga mau
keluar dari bandara Suvarnabumi ini. Setelah mengambil koper dan menuju keluar,
kita langsung menuju hotel untuk istirahat. Kami menuju hotel yang cukup jauh
dari kota Bangkok agar mendapatkan harga yang lebih murah. Suatu tempat yang
dahulu juga pernah dkunjungi dr.Udin ketika ada seminar di Bangkok, Mansion
Hotel.
![]() |
| Sawadi Khrap |
Cerita bersabung ya di part III,, saatnya istirahat. Esok akan ada
hari-hari yang menyenangkan di negri Gajah Putih ini. Khopkhunkhrap J






Comments
Post a Comment