Thailand, Negri Transit buat ke Pakistan
Cerita pendek sambungan Pakistan Part II
.................................................................
Sesampainya di
Hotel, aku mandi dan bersiap sarapan, kemudian fokus kembali ke slide dan
latihan presentasi. Penerbangan kami ke Pakistan dari Thailand pukul 17.00.
Kami berbegas check out dari hotel pukul 14.00 setelah Sholat Jumat. Oh iya,
untuk sholat Jumat, kami sholat di masjid yang tadi shubuh. Luar biasa sekali
pengalaman bisa mendengarkan khotbah Jumat dengan bahasa Thailand. Dari sekian
khotbah yang disampaikan imamnya, aku hanya mengerti ketika sang Imam mengucapkan
satu bahasa arab saja, Iqro’.
Setelah sholat
Jumat, kami segera bergegas menuju bandara. Kami memutuskan untuk pergi ke
bandara dengan naik taxi. Setelah menerangkan kami akan pergi ke bandara, ia
hanya geleng-geleng dan melambaikan tangan. Kami kesusahan menerangkan maksud
tujuan kami. Sekejap, sopir tersebut tancap gas dan telah meninggalkan kami. Kami
terdiam dan bingung. “Susah juga hidup di negri yang megerti bahasa Inggris.”,
batin ku dalam hati.
Kemudian taxi
kedua berhasil kami panggil. “We are going to Airport”, kata dr.Udin kepada
sopir taxi tersebut. Namun sopir tersebut tetap geleng-geleng tidak mengerti. “Suvarnabumi
international Airport.”, coba dr.Udin menerangkan lebih detail. Tetap saja
sopir tersebut menampakan wajah tak mengerti. Akhirnya kami memeragakan tangan
naik turun seperti pesawat yang sedang terbang. Baru sopir tersebut paham dan
berkata, “Shwarmabum”. Kami berdua bersorak, “Ah iya... Swharmabum”. Ternyata
cara baca dan pengucapannya beda.
Sembari
menunggu perjalanan menuju bandara, aku membaca-baca sedikit bahasa Thailand.
Mencoba mempraktekan memperkenalan diri kepada supir taxi dengan bahasa
Thailand. Namun apa daya, ternyata supir taxi tersebut tetap tidak paham. Al
hasil hanya dr.Udin yang mengajak bincang-bincang supir tersebut dengan bahasa
Inggris seadanya dan diselingi bahasa isyarat.
Sesampainya di
Bandara, kami lantas check in dan menunggu di gate. Karena belum makan siang,
aku mencoba mencari makanan roti yang dijual di dalam bandara. Aku berusaha
mencari makanan yang berlebel halal. Ternyata ada. Langsung saja aku memesan beberapa
roti kering dengan bumbu khas bawang yang gurih. Saat akan mengambilnya, aku
langsung menerapkan bahasa Thai ku, “Khopkhun Krap”. Dengan wajah agak sedikit
kaget dan senang, Sang penjual juga membalas, “Khopkhun Krap”, yang
berarti terimakasih.
Oh iya, hal yang perlu aku acungi jempol adalah ternyata di Thailand
sudah mempunyai lembaga halalnya sendiri seperti di Indoneisa ada Majelis Ulama
Islam (MUI). Sehingga, beberapa makanan sudah terlebeli halal. Di toko-toko
dekat hotel yang aku tempati pun banyak warung yang memasang logo halal walau
mungkin masih menjual bir. Namun, hal ini perlu diapresiasi karena tidak hanya
akan meningkatan daya beli dari para turis yang beragama Islma, tapi juga akan
membuat para muslim yang berada di Thailand merasa aman akan makanan yang
dikonsumsinya.
Memang aku belum banyak mengeksplor negri gajah putih ini. Namun, aku
sangat bangga dengan salah satu negara anggota ASEAN ini. Suatu saat aku pasti
akan datang kembali di negri ini untuk melihat karunia dan keindahan alam
ciptaan Allah di negri Thailand.
Comments
Post a Comment