FARMAKOLOGI DAN FARMAKOKIETIKA STREPTOMICIN PARENTERAL UNTUK TBC
A. PENDAHULUAN
Salah
satu obat yang sering digunakan adalah obat antibiotik. Saat ini, antibiotik
menjadi obat yang paling besar penggunaannya di dunia. Karena banyak dibutuhkan
dan banyak diproduksi, terkadang penggunaan antibiotik menjadi tidak rasioal.
WHO (2004), melaporkan bahwa 50% penduduk di dunia meggunakan antibiotika yang
tidak perlu. Hal ini menimbulkan masalah tersendiri yaitu resistensi terhadap
bakteri tersebut (Tampi dan Nugroho, 2010).
Salah
satu kasus resistensi terhadap bakteri yang sedang gempar adalah resistensi
terhadap Mycobacterium tuberculosis (bakteri
penyebab TBC). Multidrug Resistant
Tuberculosis (TB-MDR) adalah suatu kondisi penyakit Tuberkulosis yang telah resisten
terhadap obat antibiotik.
Pada
tahun 2003 WHO menyatakan insidens TB-MDR meningkat secara bertahap serata 2%
pertahun (Aditama, 2008). Insidens TB-MDR diperkirakan meningkat 2% setiap
tahunnya. Secara keseluruhan prevalens TBMDR di dunia diperkirakan 4,3%
(Aditama, 2004). Menurut WHO, secara global di tahun 2011 terdapat sekitar
630.000 kasus MDR-TB (WHO, 2012).
Banyaknya
kejadian resistensi bakteri yang terjadi, terutama penyakit tuberkulosis,
penulis tertarik untuk membahas secara umum farmakodiamika dan farmakokinetika
obat antibiotik khususnya streptomisin untuk mengatasi tuberkulosis (TBC). Streptomisin
merupakan salah satu obat antibiotik yang diberikan secara parenteral.
Kemudian, agar pembaca lebih mudah
dalam memahami tulisan ini, penulis menyusunnya dalam bentuk point-point pembahasan yang diuraikan
dengan metode kajian pustaka. Selain itu, penulis juga mencoba memaparkan
kajian ini dengan bahasa yang mudah dimegerti dan dipahami.
B. RUTE PARENTERAL
Parenteral
biasa diartikan sebagai proses pemberian obat secara injeksi (Anief, 2007). Biasanya
obat parenteral diberikan pada pasien yang tidak sadar dan membutuhkan awitan
kerja obat yang cepat. Secara garis besar, rute pemberiaan obat secara
parenteral dibagi mejadi tiga, yaitu : intravaskular (IV), intramuskular (IM),
dan subkutan (SC) (Atlas bergambar). Sedangkan Anief (2007), menggolongkan
intrakardial dan intrakutan juga sebagai rute dalam pemberian obat secara
parenteral. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing rute pemberiaa obat
secara parenteral (Anief, 2007 dan Agus, 2001 ):
1. Intravaskular
(IV)
Intravaskular
adalah cara pemberiaan obat melalui proses injeksi pada intravena. Rute intravaskular
merupakan cara pemberian obat yang paling sering digunakan. Intravaskular biasa
diberikan melalui suntikan ataupun infus. Karena obat yang diberikan langsung
masuk kedalam sirkulasi, pemberiaan obat secara intravaskular bekerja secara
cepat.
Namun,
apabila terjadi kesalahan dosis ataupun infeksi, pemberiaan intravaskular tidak
dapat dikeluarkan kembali melalui proses emesis (muntah). Maka dari itu,
pemberiaan obat secara intravaskular harus benar-benar dikontrol dalam
peggunaanya, terutama infus. Kecepatan infus harus dikontrol secara hati-hati.
2. Intramuskular
(IM)
Intramuskular
adalah cara pemberiaan obat melalui proses injeksi pada otot daging. Obat-obat
yang diberikan secara intramuskular berwujud larutan atau dopo khusus yang
biasanya berisi suspensi obat dalam vehikulum nonaqua seperti etilen glikol
atau minyak kacang. Obat-obat yang deiberikan secara intramuskular akan larut
sedikit demi sedikit dan memberikan suatu dosis untuk waktu yang cukup lama.
3. Subkutan
(SC)
Subkutan
adalah cara pemberiaan obat melalui proses injeksi pada lapisan di bawah kulit.
Rute pemberiaan ini juga memerlukan proses absorpsi yang cukup lama karena ada
proses pengendapan obat terlebih dahulu di bawah lapisan kulit. Suntikan
subutan mengurangi risiko yang berhubugan dengan suntikan intravaskuler.
4. Intrakutan
Pemeberiaan
secara intrakutan hampir sama dengan subkutan, tetapi injeksinya lebih dalam
lagi hingga benar-benar menembus lapisan kulit.
5. Intrakardial
Intrakardial
merupakan proses pemberian obat melalui proses injeksi pada jantung hingga
menembus diding jatung.
Pertimbangan
pemberian obat secara perenteral adalah obat tersebut absorpsinya buruk pada
pencernaan. Maka dari itu, obat parenteral diberikan secara injeksi. Karena
obat diberikan secara injeksi, berarti obat tersebut tidak harus melewati hati
terlebih dahulu (bypass) untuk
mengelami metabolisme (atlas). Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi obat
perenteral karena obat tersebut menyebar secara langsung ke sistemik sehingga
absorpsinya dapat berlangsung lebih cepat sehingga dalam kondisi yang darurat,
peggunaan parenteral ini menjadi sangat efektif (Agrawal dkk., 2012). Menurut
Heinz dkk. (2005), kecepatan absorpsi suatu obat ditentukan berdasarkan rute
pemberian obat. Intravena merupakan rute yang absorpsinya paling cepat,
kemudian diikuti intramuskular dan subkutan.
Selain keuntungan-keuntungan dari
rute parenteral yang telah dipaparkan, parenteral juga memeliki beberapa
kerugian, diantaraya adalah apabila terjadi kesalahan dosis yang diberikan, efek
toksik yang ada akan sangat sulit dinetralkan. Selain itu, dari segi ekonomis,
rute parenteral (injeksi) lebih mahal dibandingkan obat yang dikonsumsi secara
oral. (Anief, 2007).
C. FARAMKODINAMIK DAN
FARMAKOKINETIK
Farmakokinetik
adalah cabang ilmu dari farmakologi yang mempelajari tentang nasib obat setelah
masuk kedalam tubuh hingga ke tempat aksinya. Farmakokinetik melingkupi proses
absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eksresi dari suatu obat. Semua proses
ini berjalan secara serentak (Farmakologi UI, 2012).
1. Absorpsi
merupakan proses pemindahan obat dari tempat pemberian ke sirkulasi darah.
Absorpsi dipengaruhi banyak hal, diantaranya adalah (Agus, 2001): cara
pemberian obat, aliran darah ke tempat absorpsi, luas permukaan absorpsi, dan waktu
kontak dengan permukaan.
2. Distribusi
merupakan proses penyaluran obat dari darah menuju ke interstisium sel-sel
jaringan. Pengiriman obat dari plasma ke interstisuium tergantung pada aliran
darah, permeabilitas kapiler, ikatan dengan protein plasma, dan hidrofobisitas
(ketidak larutan dengan air) zat tersebut (Agus, 2001).
3. Metabolisme
atau biotransformasi merupakan proses perubahan struktur kimia obat yang
terjadi di dalam tubuh dan dibantu oleh enzim sebagai katalisator. Pada proses
ini, obat dirubah ke bentuk yang lebih polar sehingga obat lebih mudah larut
dalam air. Metobilsme juga membuat beberapa obat yang sebelumnyha inaktif
menjadi bentuk aktif (prodrug) atau
juga sebaliknya, membuat obat yang aktif menjadi inaktif (Farmakologi UI, 2012).
Cabang ilmu dari farmakologi yang
membahas efek biokimiawi, fisiologi obat, dan cara kerjanya adalah
farmakodinamika. Dengan mempelajari farmakodinamika obat, kita bisa mengetahui
interaksi obat dengan sel jaringan, mengetahui rentetan peristiwa dari efek
obat yang ditimbulkan, dan respon tubuh terhadap obat. Farmakodinamika menjadi
dasar rasionalitas dalam penggunaan obat. (Farmakologi UI, 2012)
D. ANTIBIOTIK TBC
Antibiotik
adalah suatu zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi, yang kerjanya
dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Sedangkan antimikroba adalah
obat pembasmi mikroba, jadi antibiotik bisa dikatakan sebagai antimikroba.
Dilihat dari mekanisme kerjanya, antimikroba bisa dibagi menjadi lima kelompok,
yaitu (Farmakologi UI, 2012) :
1. Antimikroba
yang menggangu metabolisme mikroba.
2. Antimikroba
yang menghambat sintesis dinding sel mikroba.
3. Antimikroba
yang menggannggu permeabilitas membran sel mikroba.
4. Antimikroba
yang menghambat sintesis protein mikroba.
5. Atimikroba
yang menghambat atau merusak asam nukleat sel mikroba.
Kemudian, menurut Levison (2004), secara garis besar
antimikroba cara kerjanya dibagi menjadi dua, yaitu bakteriostatik primer dan
bakterikidal primer. Bakteriostatik merupakan antimikroba yang menghambat
pertumbuhan mikroba, sedangkan bakteriokidal merupakan antimikroba yang
membunuh suatu mikroba.
Salah satu mikroba yang berbahaya adalah Mycobacterium tuberkulosis. Mycobacterium tuberkulosis merupakan
penyebab penyakit tuberkulosis (TBC). Bakteri ini menyebabkan infeksi pada
paru-paru serta organ lainnya, seperti otak, tulang, limfa, ginajal, dan bagian
tubuh lainnya (WHO, 2009).
Obat-obat primer antibiotik untuk
mengatasi TBC dengan efektifitas yang tinggi dan tingkat toksitas yang masih
bisa ditolerir adalah: INH (Isoniazid), Rifampisisn, Etambutol, Streptomisin,
dan Pirazinamid (Depkes RI, 2008). Salah satu obat tersebut yang sering
diberikan secara parenteral (injeksi) adalah streptomisin. Obat-obat antibiotik
primer untuk TB yang lainnya biasa diberikan secara oral, walaupun bisa
diberikan secara parenteral. Pemberian secara parenteral obat-obatan antibiotik
TB primer selain streptomisin masih dalam penilitian lanjut.
E. STREPTOMISIN
Streptomisin merupakan obat lini pertama dalam
penangan tuberkulosis. Streptomisin bersifat bakterisid terhadap kuman
tuberkulosis. Streptomisin biasa disediakan dalam bentuk bubuk injeksi vial 1-5 gram. Diberikan secara intramuskular
(IM) dengan dosis 20 mg/kgBB dengan kadar maksimum 1gr/hari sampai dua hingga
tiga minggu. Kemudian frekuensi pemberiaannya berkurang menjadi 2-3 kali
seminggu (Farmakologi UI, 2012).
Untuk pasien dewasa, diberikan 15 mg/kg/hari, dengan
dosis tidak melebihi 1 g/hari setiap 12 jam melalui intramuskular. Sedangkan
untuk anak-anak sebaiknya diberikan 20-40 mg/kg/hari, dengan dosis tidak
melebihi 1 g/hari setiap 12-24 jam. Penggunaan streptomisin umumnya dihentikan
setelah 2-3 bulan, atau lebih cepat jika kultur telah menjadi negatif (Hardman
dan Limbird, 2003).
Karena diberikan secara intramuskular, streptomisin
akan cepat menyebar setelah diinjeksikan ke dalam tubuh. Hampir setiap jaringan
ekstra sel terdapat streptomisin, terutama plasma darah dan hanyak sedit sekali
yang terikat di eritrosit. Sekitar sepertiga streptomisin terikat dengan
protein plasma, sedangkan yang lainnya dalam bentuk bebas. Masa paruh obat ini
adalah 2-3 jam. Setelah seharian beredar, 24 jam pertama, sekitar 50% -60%
streptomisin dieksresikan dalam bentuk utuh (Farmakologi UI, 2012).
Secara umum, makin lama terapi dengan streptomisin
berlangsung, makin meningkat resistensinya (Hardman dan Limbird, 2003). Pada beberapa
penderita resistensi ini terjadi dalam satu bulan. Setelah empat bulan terapi, 80%
kuman tuberkulosis tidak sensitif lagi. Bakteri yang telah resisten mengakibatkan
pengobatan tidak efektif lagi. Penggunaan streptomisin bersama antituberkulosis
lain dapat menghambat terjadinya resistensi (Farmakologi UI, 2012).
DAFTAR PUSTAKA
Aditama,
TY. , 2004, MOTT dan MDR. J Respir Indo, 24:157-9.
Aditama, T.Y., 2008, Tuberkulosis
masalah dan perkembangannya. Pidato
pengukuhan Guru besar Tetap dalam
Bidang Pulmonologi dan Ilmu
Kedokteran Respirasi FKUI. Jakarta:UI Press;h.22-7.
Agrawal, M., Limbachia, M., Sapariya, A., dan Patel,
G., A
Review On Parenteral Controlled Drug Delivery System, International Journal of Pharmaceutical Science and Research,
Saraswati Institute of
Pharmaceutical Sciences, India, Vol. 3(10): 3657-3669.
Anief, M., 2007, Perjalanan
dan Nasib Obat dalam Badan, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Bagian
Farmakologi FK UI, 2012, Farmakologi dan
Terapi, edisi ke-5, Balai Penerbitan FK UI, Jakarta.
Hardman
J.G. dan Limbird, L.L, 2001, Goodman
& Gilman’s : The Pharmocological Basic of Therapoetic, 9th ed., New
York, McGraw-Hill, alih bahasa, Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB, 2003, Goodman dan Gilman Dasar Farmakologi Terapi,
Edisi 10, Vol. 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Heinz, Mohr, K.,
Hein, L., dan Beiger, 2005, D., Color
Atlas of Pharmacology, 3rd ed., Thieme
Stuttgart, New York.
Levision,
M. E., 2004, Pharmacodynamics of antimicrobial drugs, Journal of Infectious Desease Clinic Elsevier Saunders, Departments
of Medicine and Public Health, Drexel University College of Medicine,
18:451-465.
Mycek,
M.J., 1997, Lippincott’s Ilustrated
Reviews, Lippincott-Ravens Publisher, USA, alih bahasa, Agus, A., 2001, Faramakologi: Ulasan Bergambar, Penerbit
Widya Medika.
Tampi,
G.G., dan Nugroho, T., 2010, Rasionalitas Penggunaan Antibiotika dalam
Penatalaksanaan Konjungtivitis di Bagian Mata RSUP Kariadi Semarang Tahun 2010,
Skripsi, Program Pendidikan Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro, Semarang.
World Health
Organization, 2009, a history of
Tuberculosis Control in Indonesia, WHO tersedia: http:whq.doc.WHO.int
World Health
Organization, 2012, WHO Report 2012 Global
Tuberculosis Control, Geneva: World Health Organization.
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Pedoman
Nasional Penangggulangan Tuberkulosis ; tersedia:
www.depkes.go.id.

Comments
Post a Comment