Mengenal Agen, Host, dan Lingkungan dari Leptospirosis
A. AGEN
Leptospirosis disebabkan karena bakteri spirochaeta
dari genus Leptospira dan famili Leptospiracaea. Secara tradisional,
genus Leptospira dibagi menjadi dua spesies, Leptospira interrogans
yang bersifat patogenik dan Leptospira biflexa non-patogenik yang hidup
bebas (Harrison, 2010). Sedangkan pengklasifikasian pada saat ini, secara genetik,
diindikasikan terdapat 19 spesies (13 spesies patogenik dan enam spesies
saprofit). Tujuh diantaranya merupakan agen utama penyakit Leptospirosis yaitu
: L.
interrogans, L. borgpetersenii, L. santarosai, L. noguchii, L. weilli,
L.Kirschneri,dan L. Alexanderi (Evangelista dan Coburn, 2010).
![]() |
| Leptospira sp. |
Sampai
saat ini, Leptospira patogen ditemukan 200 serotipe yang memiliki
antigen utama dan terbagi dalam 23 serogrup. Leptospira merupakan spirocheata
yang dapat bergerak atau motil (Unair Press, 2011). Evangelista dan Coburn (2010) menjelaskan lebih detail mengenai
sifat motil ini, terjadi karena adanya dua flagelata periplasma atau
endoflagela. Adanya endoflagelata pada leptospira diduga mempengaruhi
patogenesitas penyakit infeksi ini. Endoflagela ditemukan dalam L. Interrogans
yang bersifat patogen dan tidak ditemukan dalam spesies L.biflexa yang bersifat
saprofit.
Leptospira
memliki panjang 6-20 µm dan lebar ~0,1 µm. Bagian yang khas pada leptspira
adalah hooked (kail) yang terdapat pada ujung badannya. Organisme ini dapat
dilihat melalui mikroskop dengan uji dark-field setelah diwarnai dengan resapan
perak (Harrison, 2010).
Sumber
reservoir bagi Leptospira yang tersering adalah dari bangsa Rodents (pengerat),
yaitu tikus, musang, dan tupai. Binatang peliharaan pun bisa menjadi reservoir
Leptospira, seperti : lembu, kerbau, babi anjing, kucing, ikan, dan burung.
Leptospira menetap dan tumbuh dalam tubulus ranalis dalam tubuh binatang
tersebut dan mengandung lebih dari 1010 organisme/gram di dalam
ginjalnya. Binatang yang terpapar Leptospira biasanya asimptomatis dan tidak
menimbulkan gejala. Biasanya, Leprospira terbawa melalui kencing tikus dan
mengalir melalui aliran air (Unair Press, 2011).
Tikus dapat bertahan dari Leptospira
sp. karena dideteksi adanya anti-leptospira. Pada tahun 2002 dideteksi
anti-leptospira pada tikus sebanyak 29,5% dan pada tahun 2004 sebanyak 48,0%.
Hal ini menunjukan bahwa hewan tersebut berperan dalam mempertahankan
Leptospira di alam dan berperan sebagai sumber penularan Leptospirosis
dikalangan hewan maupun manusia (Supraptono dkk., 2011).
B. HOST
Host
atau penjamu yang sering terserang adalah manusia. Manusia biasa terserang Leptospirosis
karena agen yang terbawa air kencing hewan vektornya, yaitu tikus, masuk kedalam tubuh melalui kulit atau mukosa
mulut (Unair
Press, 2011).
Kebiasaan host dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh terhadap
kejadian Leptospirosis. Misalnya penggunaan alat pelindung diri pada saat mandi
atau mencuci di sungai yang mengandung Leptospira sp. Alat pelindung diri
penting untuk mencegah masuknya Leptospira sp. Kedalam tubuh seperti sepatu
boot saat melewati genangan air pada daerah banjir. Penjagaan kebersihan rumah
dan pengolahan sampah, yaitu tempat-tempat yang disenangi tikus, menjadi
determinan kasus Leptospirosis (Bracelos dalam Supraptono dkk, 2011) .
Dalam penilitian Faisal, sebanyak 80 pasien selama
periode 1991-1993 kasus tertinggi terjadi pada kelompok usia 50 tahun keatas
(35%) dan kasus terndah didapatkan pada kelompok usia kurang dari 20 tahun
sebanyak 5% (Supraptono dkk. , 2011). Pathol (2011) menjelaskan bahwa laki-laki
lebih berpotensi terserang Leptospirosis dibanding perempuan. WHO menyatakan,
pada hasil petemuan kedua LERG (Leptospirosis
Burden Epidemiology Reference Group)
(2011), angka kejadian tertinggi terdapat pada kelompok usia >59
tahun, laki-laki lebih banyak terserang Leptospirosis dibandingkan perempuan.
Sedangkan angka kematian tertinggi didapat pada kelompok usia 60-69 tahun dan
terjadi pada laki-laki.
Ketika penjamu terluka,
maka host akan menjadi lebih rentan terhadap Leptospirosis. Berdasarkan
penilitian Supaptrono dkk.(2011), penjamu yang memiliki luka memiliki
kemungkinan terserang Leptospirosis 4,3 kali dinding host yang tidak memliki
luka. Hal ini diperkirakan terjadi karena Port de Entry Leptospira sp.
terjadi lebih mudah karena adanya luka.
C. LINGKUNGAN
Kejadian
Luar Biasa Leptospirosis pada berbagai daerah endemik berkaitan dengan curah
hujan yang tinggi di daerah tersebut. Hujan lebat yang sering terjadi di daerah
endemik menyebabkan banjir lebih mudah terjadi. Leptospira yang terbawa oleh
air kecing tikus lebih mudah untuk mengalir dan menginfeksi para korban banjir.
Pada daerah dengan penduduk yang miskin, didapatkan sanitasi air yang buruk
sehingga kebersihan pun kurang terjaga(Evangelista
dan Coburn, 2010).
Pada
negara berkembang, urbanisasi penduduk, hujan lebat, dan meningkatnya bencana
banjir menyebabkan peningkatan rodent-borne transmission dari Leptospirosis
(Evangelista dan Coburn, 2010).Hasil analisis
Supaptrono dkk.(2011), manusia yang kontak dengan air banjir akan mengalami
sakit Leptospirosis 23,0 kali dibandingkan yang tidak kontak dengan air banjir.
Pada kelompok sosial-ekonomi yang rendah, mereka lebih borpotensi terkena
penyakit Leptospirosis dua kali lipat divandingkan kelompok sosial-ekonomi yang
lebih tinggi.
Kejadian
Leptospirosis berkaitan erat dengan pekerjaan dari pasien. Leptospirosis
merupakan occupational diseasedan pekerjaan yang paling rawan adalah
petani. Selain petani, pekerja pembersih selokan, pekerja tambang, pekerja
bangunan, pengolah makanan (daging, unggas, dan ikan), dan industri makanan
sangat berkaitan erat dengan kejadian Leptospirosis (Unair Press, 2011). Supaptrono
dkk.(2011) mengungkapkan bahwa penduduk yang memiliki pekerjaan beresiko
terkena leptospirosis 8,8 kali dibandingkan penduduk yang tidak memiliki
pekerjaan.
Kata Kunci : Laptospirosis, Laptosira sp, Banjir
DAFTAR PUSTAKA
Contact me : faisalridhosakti216@gmail.com

Comments
Post a Comment