Pakistan, Negeri yang tak pernah terbayangkan (Part I)

Kuliah di kedokteran memang bukan hal yang mudah. Butuh semangat tinggi untuk bisa meraih cita-cita. Belajar dan belajar adalah suatu kewajiban bagi mahasiswa kedokteran. Namun, Belajar bukan hanya saat kuliah, namun bisa juga dari lingkungan sekitar dan pengalaman yang tak tergantikan. Hal inilah yang membuat ku bertekad di tahun kedua ku untuk bisa melakukan hal yang lebih tak hanya sekedar belajar lewat dunia perkuliahan. Mulailah ku tulis satu persatu mimpiu dan target-target ku selama di tahun kedua ini ataupun target 5 tahun kedepan. Dan salah satunya adalah “Pergi Keluar Negri”.
Setelah mimpi “SMART traveling ke luar Jawa” tercapai (baca trip ane ke Bali), alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bisa main ke negri orang. Awalnya aku hanya bermimpi dan bergumam ke teman-teman dekat ku, kalau aku ingin ke luar negri. Namun dari sinilah kata-kata ku disebarkan oleh Allah ke seluruh penjuru pintu kesuksesan hingga terbukalah jalan ku. Waktu itu, setelah acara seminar MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), tiba-tiba saya di telpon oleh seorang rekan, “Sal, segera ke ruang Wadek (Wakil Dekan) ya, dipanggil sama dokter Udin”. Serantak dalam hatiku bertanya, ada apakah gerangan??
Ya, saat itu tanggal 11 Januari 2015, bertepatan dengan ulang tahun dr.Syaefudin juga aku menghadap ke Beliau. “Kamu mau keluar negri ga? Kalo iya segera ke ruang wadek”, seru Bima temanku. Langsung saja saya menghadap beliau dan mulailah kami berbincang-bincang. “Sal, ini ada acara konferensi di Pakistan, AEME, tentang Medical Education. Siap tidak garap penelitian untuk ini? Acaranya awal Maret, Ya nanti kita mulai garap sekitar bulan Februari. Gimana Sal, siap?”, tanya beliau. Dengan lantang saya menjawab, “Siap dok !”. Akhirnya kami mulai berdiskusi terkait rencana penelitian yang akan dilakukan untuk dipresentasikan di acara tersebut. Kata beliau, rencana akan ada 3 tim yang diberangkatkan ke Pakistan, jika tidak jadi ya cadangannya ke Malaysia dengan tema konferensi yang sama.

Dengan mengangkat kasus tentang UKMPPD “Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter”, kami bekerja keras agar bisa selesai tepat waktu dan dipresentasikan pada acara tersebut. Pada bulan-bulan pertama saya lebih banyak berdoa dan disibukan dengan ujian-ujian blok, kemuduian disusul acara-acara oraganisasi ke Malang maupun ke Bali. Setelah itu baru saya bisa fokus pada penelitian, yaitu minggu-mingu pertengahan bulan Februari sampe awal Maret.
Banyak sekali tantangan yang harus saya lewati agar bisa terwujud mimpi yang satu ini. Dari tahap persiapan hingga tahap perpulangan semuanya tak lepas dari ujian dan kelelahan. Ini awal saya persiapan pergi ke luar negri, belum ada pengalaman dan gambaran bagaimana cara hidup di negri orang. So, ane harus buat passport dulu biar bisa masuk ke suatu negara. Pas buat passport, bener-bener harus sabar, dilempar sana-sini karena ktp belum jadi (maklum masih muda), nunggu waktu seminggu (padahal udah mepet), dan jarak Cilacap-Jogja serasa tak ada 1 km (padahal 6 jam perjalanan). Walaupun akhirnya passport bisa juga keluar.


Awalnya sih orang tua seneng-seneng aja pas tau anakanya mau ke luar negri, karena juga tau bakal ada dosen pembimbing yang nemenin. Namun, di tengah-tengah perjalanan, saat mendekati hari H, dipastikan hanya ada satu tim yang bernagkat, dan kabar buruknya, dr.Udin ga bisa nemenin ke Pakistan. Kalo ane sih asal bilang siap-siap aja, walau orang tua pasti resah. Lah pas 2 minggu sebelum keberangkatan, sayangnya visa belum jadi nih (padahal masih blm tau apa itu visa), terus ane disuruh sama dr.udin buat ke Jakarta untuk ngurus visa. Aku sih yes siap sedia, akhirnya waktu itu ane langsung cabut ke Cilacap (naik motor 6 jam pagi-pagi) buat ambil passport sekalian ke Jakarta urus visa.
Sesampainya di rumah (sudah sore), tiba-tiba ortu tanya gini, “Mau kemana kamu, ke Jakarta mau ketemu siapa? Terus di Jakarta dimana urusnya? Dr.Udin ga jadi nemenin ta, terus siapa yang dampingi...bla bla bla...”, gerutu ortu. Aku hanya tertunduk dan menjawab apa adanya. “Yaudah de mending Bapak Ibu biacara lagi aja sama dr.Udin gimana jelasnya.”. Akhirnya setelah perdebatan panjang, aku fix ga jadi ke Jakarta dan harus balik Jogja esoknya karena visa jadinya yang urus dr.Udin. (Visa itu ijin untuk memasuki suatu negara dan letaknya ada dalam passport, so kalau mau buat visa passport dibawa biar bisa di stempel dengan visa negara yang dituju). Dan berita bangganya, Beliau jadi ikut menemani saya ke Pakistan.
Baru kali kejadian, sampai rumah hanya sekedar numpang tidur, siang datang, esok paginya pergi lagi. Langsung esok harinya dengan motor juga aku balik Jogja. Enam jam bukan waktu yang singkat guys, pantat panas, badan pegel, tapi ya inilah pengorbanan demi sebuah mimpi. Akhirnya siangnya saya sampe kampus dan langsung menyerahkan berkas, Beliau lalu berbegas dan bernagkat ke Jakarta. Saya yang masih di Jogja, meneruskan penelitian dan mempersiapkan keberangkatan.
Karena penelitiannya juga menggunakan data kualitatif, jadi saya harus melakukan wawancara. Ini pertama kalinya wawancara dengan orang-orang penting yang ada di fakultas (kaya dekan, dept. MEU, dkk) dan beberapa narasumber lainnya. Setiap kali wawancara saya agak canggung karena masih awal di FK, apalagi pas mau wawancara peserta ujian UKMPPD, saya keringetan dan grogi banget. Secara gitu, UKMPPD itu ibarat Ujian Nasional nya anak kedokteran di seluruh Indonesia. Padahal penelitian ku mengungkit masalah UKMPPD yang masih harus diperbaiki.

Foto dg First Taker FK UII 2008

Masalah serius yang disorot adalah banyaknya peserta Retaker (peserta yang tidak lulus kemudian ikut ujian lagi) yang masih belum terurus statusnya, padahal kalau mahasiswa kedokteran gak lulus UKMPPD dia ga bisa dapet gelar dokter. Walaupun mahasiswa tersebut memang sudah bisa menangani dan mengubati pasien, namun jika tidak lulus UKMPPD tetap tidak boleh praktek. Inilah yang membuat jumlah dokter “semu” di Indonesia menumpuk. Ini merupakan masalah yang sensitif terutama bagi para Retaker (peserta ujian yang belum lulus) UKMPPD. Hal yang sangat menantang ketika harus memawancarai retaker, apalagi aku hanya mahasiswa junior yang masih belum tau apa-apa. Untunglah hal tersebut di handel dengan dr.Udin, saya hanya mewawancarai peserta UKMPPD yang first taker saja. Tapi ya tetep aja deg-deg kan dan keringetan.

Foto bersama Bu Dekan (dr.Linda) dan Bu Kaprodi (dr.Erlina)


Hari semakin mendekati keberangkatan. Aku tak apa-apa yang harus dipersiapkan. Hal yang ada di otak ku adalah bagaimana penleitian bisa selesai tepat pada waktunya. Visa masih belum di tangan, tiket juga tak tahu mau neik pesawat apa. Apalagi masalah hotel disnan, semua urusan teknis dr.Udin yang pegang. Saat sore hari (28/02/15) materi presentasi masih dalam tahap proses. Tiba-tiba sms masuk dari dr.Udin,
“Sal persiapan ya nanti setelah maghrib di Stasiun Tugu. Kita berangkat malam ini ke Jakarta”
Sms tersebut membuat ku makin greget dengan semua ini. Presentasi masih 75%, packing-packing juga belum. Tapi bagaimana lagi aku harus siap setiap saat (bukan iklan deodoran yaw). Aku balas saja,
“Ya dok siap. Saya selesaikan presentasi dan packing-packing dulu.”
Ternyata waktu berjalan sangat cepat. Pukul 17.00 segera pulang, mandi, packing2 dan langsung cus bakda maghrib. Saat itu awan terlihat sangat mendung. Tak ada seorang pun di asrama karena masih belum pada balik dari masjid. Terpaksa, aku harus berangkat sendiri menggunakan motor vario, tak ada koper hanya tas besa dan tas ransel yang ku bawa. Bermodalkan Bismillah aku berangkat.
Ada sedikit cerita haru disini. Jadi sebelumnya aku telah mengabari orang tuaku kemungkinan aku berangkat hari ini dan orang tuaku sudah persiapan pergi dari rumah sejak pagi hari (28/02/15). Tapi tak tahu apa saja kegiatan ortu ku yang harus mampir kesana kemari, hingga saat maghrib itu masih belum sampai Jogja juga untuk melepaskan kepergianku. Saat itu orang tua baru sampai Purworejo ( 3 jam lagi samapi Jogja), sedangkan aku sudah beranjak menggunakan motor menuju Stasiun Tugu. Orang tua sudah membewa beberapa bekal dan koper untuk segela perlengkapan ku, namun aku tahu ini pasti tidak akan sampe jika harus menunggu ortu tiba. Padahala kereta keberankatan ke Jakarta pukul 20.00 wib. Akhirnya hanya bekal 8 bungkus nasi kucing dan gorengan, serta pakian-pakian ganti yang aku bawa menggunakan tas jinjing besar hasil meminjam dari teman ku. Ortu hanya ngotot dan terus berjuang untuk bisa bertemu dengan anakanya., “Pokonya Ibu berusaha dulu ya mas, ini memang masih jauh dai Jogja, tapi nanti ya lihat sesampainya lah.”, sms dari ibuku. Aku hanya bisa berjuang dan terus tawakal.
Saat sudah memasuki kawasan stasiun tugu, suasana semakin mencekam. Awan gelap dan mendung mulai menghantui. Diriku yang repot membawa barang bawaan sebanyak itu harus tabah menghadapi semua ini. Aku kemudian telah sampai di dekat stasiun tugu. Namun, hujan rintik-rintik mulai mengguyur tubuhku. Aku baru tersadar, ternyata aku berada di pintu belakang stasiun (dekat dengan sarkem) sedangkan dr.Udin menunggu di pintu depan. Aku langsung putar arah dan hujan tetap menjatuhkan dirinya pada ku. Satu hal yang baru ku ingat, ternyata aku harus memutar cukup jauh, dari Kota Baru memutar melewati jalan Malioboro. Hujan terus mengguyur dan Jaket ku mulai basah. Sesampianya di gerbang depan, aku harus mengangkat sendiri tas jinjing besar yang lumayan berat, tertatih taih, diguyur hujan, dan tangan ku mulai pegal. Hanya tawakal yang bisa ku lakkan.
Akhirnya aku bisa melihat sosok dr.Udin di sebrang sana mengenakan jaz biru dan peci putih. Beliau hanya geleng-geleng milahat tingkah ku yang terengah-engah. Setelah itu sholat isya dan memasuki gerbong kereta dengan jaket basah ku. Perut yang sudah keroncongan dari tadi, segera aku isi dengan beberapa nasi kucing yang sudah aku pesan. Beberpa sisanya aku gunakan untuk sahur esok harinya (red-Kamis).
Saat di kereta, aku mengabari ortu ku lagi, “Pak bu, Faisal sudah di kereta ini mau berangkat.” “Iya, maaf ya mas, kami belum bisa ketemu. Semoga ini jadi yang terbaik. Titip salam buat dokter Udin. Nanti kalau udah sampai Jakarta kabari ya mas.” Aku hanya menjawab, “Nggih bu.”. Hening sejenak. Tak ada air mata, tak ada pelukan, tak ada kehanagatan. Yang ada hanyalah doa yang saling menguatkan. Bismillah, Saatnya perjalanan ku dimulai.

Bersambung ke part 2.....

Kata Kunci : Pakistan, Mimpi, Perjuangan, Kedokteran

Comments

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran

Are You Proud to be a Muslim?

Mari Berantas TB-MDR....!!!! (Karya Pertama)