Ternyata Aku Bukan Anak Ibuku.
![]() |
| Bapak dan Ibu |
Liburan Idul Fitri 1436 H kemarin merupakan liburan yang cukup membahagiakan bagiku. Pada awal-awal bulan Syawal 1436 H (20015 M) aku berkunjung ke beberapa saudara dan kerabat, serta bersilahturahim ke beberapa rekan dari orang tua ku. Kami juga sempat jalan-jalan dan menonton film di bioskop.
Saat itu aku memang meminta orang tua untuk
menonton film “Surga yang tak di Rindukan”. Alhamdulillah keinginan tersebut dikabulkan
dan kami menonton film tersebut di bioskop Rajawali Purwokerto. Aku merasa
sangat bahagia bisa nonton film bersama keluarga. Ya namanya masih mahasiswa,
kalau nonton film gratis bareng orang tua pasti senang. Selain gratis,
kebersaamaan dan kehangatan keluarga juga
bisa didapat.
Disini saya akan sedikit bercerita pengalaman
liburan lebaran ku kemarin. Pengalaman yang sangat menakjubkan bagiku. Sebuah
pembelajaran dari Ilahi yang dianugrahkan kepada hambaNya melalui sebuah
pertanda alam. Ada pelajaran hidup yang sangat berharga yang aku ambil selama
liburan lebaran kemarin.
Setelah menonton film “Surga yang tak
Dirindukan”, aku jadi banyak berfikir mengenai hidup, terutama kehidupan nanti
saat berkeluarga. Diceritakan dalam film tersebut seorang lelaki yang bernama
Pras (FediNuril) menikah lagi (poligami) dengan seseorang wanita yang bernama
Mei (Raline Shah).
Alasan untuk Poligami yang tak pernah
terfikirkan sebelumnya. Pada film ini diceitakan Mei mengalami kecelakaan kemudian ditolong
Pras dan ternayata ia sedang mengandung seorang anak. Saat dibawa ke rumah
sakit JIH yogyakarta, anak tersebut terlahir dan Mei langsung kabur untuk
berniat bunuh diri. Saat itulah Mei merasa bahwa hidup ini sudah tak ada
artinya lagi. Pras terus membujuk Mei untuk tidak terjun dari lantai paling
atas JIH hingga terjadi perdebatan panjang. Karena Mei merasa sudah tak ada
yang peduli atas hidupnya, akhirnya di meloncat dari gedung atap JIH tersebut.
Namun segera tangan Pras menolong dan ia berjanji menikahi Mei agar ia tak jadi
mengakhiri hidupnya.
Disisi Lain, Arinini ( istri Pras) yang tak mau
diduakan, belum mengerti kondisi Pras telah menikah lagi saat kejadian
tersebut. Sepulangnya Pras dari menyelamtkan Mei, ayah Arini meinggal dunia.
Disaat itulah Pras kembali ke rumah dan ikut bersedih. Disaat saat haru
tersebut, tiba-tiba ada tamu wanita yang juga melayat kemudian menagis histeris
di depan jenazah ayah Arini, kemudian wanita tersebut berujar bahwa ia yang
ditangisi adalah suaminya. Serantak Arini dan Pras bingung, berfikir sementara,
dan menampis semua prasangkanya. Namun semua itu benar, ternyata ia adalah istri
kedua ayah Arini yang tak pernah diceritakan padanya walau ibu Arini mengetahui
kenyataan tersebut.
Saya melihat kisah ini sangat kompleks, apalagi
ketika Pras harus mengurusi anaknya sang bidadari jelita yang masih sekolah TK
dan anak dari Mei yang baru lahir. Saat Arini sudah mengetahui kondisi yang
seesunggguhnya, sangat sulit baginya bisa menerima Pras kembali dalam
kehidupannya. Ia menganggap Pras sudah menghancurkan semua dongeng dalam
hidupnya. Baginya, Pras telah menghancurkan surga yang selama ini ia
idam-idamkan, yaitu membangun dongen yang bahagia selamanya, bersama
keluarganya. Hal ini menjadi surga yang tak dirindukan lagi bagi Arini.
Namun, sang bidadari kecil itu membuat Arini
bertahan. Tak mungkin ia melepaskan anaknya dari sang Ayah. Kemudian ia mengadu
semua kegelisahan dirinya pada sang ibu. Sang ibu hanya menjawab, “semua hal
yang Ibu lakukan (mau dipoligami) karena demi Arini”. Semuanya dilakukan demi
masa depan anak agar tidak berantakan.
Ya itulah sedikit cerita Surga yang tak
dirindukan yang sangat berkesan bagiku. Pada nantinya, memang anak itu adalah
anugrah terindah yang dikaruniakan oleh sang Ilahi. Semuanya dilakukan demi
kebaikan masa depan sang buah hati. Bgitu juga dengan orang tuaku, mereka
selalu memikirkan untuk masa depan anaknya kelak. Mengorbankan jiwa, harta, dan
raga demi kesuksesan sang buah hati.
Hal ini sangat aku syukuri sebagai seorang
anak. Kondisi ini tidak semuanya bisa didapatkan oleh semua anak. Bahagia
bersama keluarga, ayah ibu masih lengkap menemani kesuksesan, dan sejuta kasih
sayang yang didapat ketika mereka ada. Banyak anak yang tidak mendapatkan hal
tersebut, mereka tinggal di panti asuhan, kehilangan ayah atau ibundanya, ataupun
orangtuanya sudah tak sanggup lagi mengasuhnya. Bahkan, teman ku sendiri juga
banyak yang mengalami hal demikian. Sudah tidak ada ayah ataupun ibu, ditinggal
orang tuanaya pergi, ataupun keluarganya yang broken home. Sangat menyedihkan
sekali jika harus menerima kenyataan hidup seperti itu.
Beberapa hari setelah menonton film tersebut,
tak sengaja aku buka-buka facebook dan melihat status temanku di wall. Ia meng-uplod
sebuah foto dalam statusnya. Suatu foto yang menggambarkan betapa bahagianya
kenangan di masa kecil bersama keluarganya. Dalam foto tersebut Ia meletakan
foto-foto kecil bersama keluarganya dan meletakkanya di atas keyboard suatu
laptop. Kemudian status fbnya menyatakan kekesalannya pada temen-temen yang
masih merasa galau dengan kehidupan percintaan rmaja sedangkan ia seharusnya
jauh lebih galau karena tidak bisa bertemu berkumpul bersama keluarganya lagi
(maaf, broken home).
Sahabat-sahabatnya dalam komentar status tersebut saling menguatkan
dan aku sendir tak berani berkomentar. Aku hanya mendoakanya semoga ia diberi
ketabahan dalam hidup dan bisa tetap berbakti kepada kedua orang tuanya.
Hari-hari yang aku lewati setelah menonton film
dan melihat status fb teman ku itu menjadi bayang-bayang yang selalu hadir
dalam benakku. Bayangan ini tidak bersifat negatif, melainkan membuat ku
berfikir untuk bisa menjadi lebaih baik sebagai anak ataupun sebagai orang tua kelak
yang akan membesarkan anakku. Memang tugas ini tidak mudah, namun tidak ada ada
salahnya untuk selalu membenahi diri dan selalu menjadi lebih baik untuk masa
depan yang lebih baik.
Kehidupan di keluargaku bisa terbilang cukup
harmonis. Namun sebagai anak, kadang aku merasa kesal dengan sikap orang tua
yang sering marah-marah, terutama ayah. Ya hal ini mememanglah sangat wajar
dalam dinamika keluarga. Ayah atau ibu mamarahi anaknya untuk kebaikan sang
buah hati. Bagiku tak menjadi masalah. Itu cara mereka agar anaknya bisa
menjadi lebih baik. Walau terkadang aku sangat kesal dan mengecam diriki agar
bisa lebih mengontrol emosi kelak saat menjadi ayah bagi anaku.
Kembali pada cerita yang ingin ku sampaikan,
pada awal Syawal 1436 H aku lebih sering tidur pada larut malam. Tak tahu apa
yang harus dilakukan, biasanya aku mengerjakan laporan penelitian, nonton film,
ataupun main game. Hingga tidurku lebih sering diatas jam 23.00 wib. Untuk
bangun tidur pun saat itu selalu diatas jam 05.00 pagi (telat subuh). Dikala
waktu tidur yang berantakan dan subuh yang lebih sering telat bangun untuk
jamaah di masjid, aku tiba-tiba rindu untuk bisa sholat tahajud. Aku niatkan
setiap tidur untuk bisa sholat tahajud.
Dalam satu minggu tersebut, sudah tiga hari
berturut-turut aku gagal untuk sholat tahajud karena tidur ku yang selalu
kemalaman dan bangun juga terlambat. Suatu malam, aku tidur pukul 24.00 dan
tetap meniatkan untuk bangun awal. Saat itu kondisi badan cukup lelah, mata
sudah terasa berat, dan tubuh segera merebah di kasur tanpa persiapan tidur
yang cukup (gosok gigi, wudu, doa, dkk).
Aku terbawa dalam suasana yang cukup
menegangkan saat tidur. Semua cerita tentang kasih sayang orang tua dari
teman-teman ku yang broken home hadir dalam mimpi itu. Beberapa cuplikan
film “Surga yang tak Dirindukan” juga mampir dalam bunga tidur ku. Hingga saat
itu aku melihat tubuh ku tergeletak lemah di suatu mushola kampus. Disana
tergambar ada sosok ayah dan ibu ku. Sekilas mereka sedang cek-cok dan
ribut entah tentang masalah apa. Sebagai anak yang biasa melihat kondisi itu
hanya terdiam di sudut ruangan dan menutup telinga.
Di tengah-tengah perdebatan ayah dan ibu,
sekilas aku mendengar celoteh ayah, “Halah, Faisal itu bukan anak mu juga!.”
Mendengar kata-kata tersebut aku tertegun. ‘Ternyata aku bukan anak ibuku’. Tiba-tiba
aku berfikir, apa benar aku bukan anak dari ibuku? Lalu
bagaimana pula aku tahu kalau itu benar-benar ibuku? Lalu siapa ibuku yang
sebenarnya? Sungguh aku merasa bingung. Tiba-tiba aku melihat suatu lorong
waktu yang terus berputar disertai kenangan-kenangan dengan ‘ibu’ di waktu
kecil. Aku terus bertanya apakah dia memang ibuku?
Entah lah apa yang terjadi padaku. Hingga
akhirnya aku berdiri di suatu tempat yang aku tak mengenalnya dan aku merasa
tegar. Aku ikhlas dengan semua kondisini ini. Aku rela apapun yang terjadi
padaku dan semuaya aku terima. Seandainya memang itu bukan ibuku yang
terpenting suatu saat nanti pasti aku bertemu dengan sosok ibu yang
sesungguhnya di akhirat kelak.
"Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu" (QS. Luqman: 14).
Dalam mimpi tersebut, tiba-tiba aku teringat
cerita teman ku yang sangat rindu akan sosok seorang ibu. Ia kehilangan ibunya
saat masih sekolah dasar. Ibunya meninggal karena serangan jantung mendadak
saat berada di mobil dan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ibunya
dijemput malaikat maut. Suatu saat, ia bermimpi bertemu dengan ibunya dikala ia
sangat merindukannya. Tak sadar ia meneteskan airmata dalam tidurnya hingga ia
terbangun dan menangis tersedu-sedu.
Aku juga merasa demikian, teringat semua
kenangan masa kecil, rindu akan sosok ’ibu’ yang sesungguhnya, dan ingin tahu
apa yang sedang terjadi padaku saat itu. Tiba-tiba rasanya mataku mulai panas,
air mata mulai mengalir, dan tiba-tiba aku mulai terisak. Aku terbangun dan
tersadar bahwa ini hanyalah mimpi. Namun begitu kuat mimpi tersebut hingga
membuatku terbangun di tengah malam dan mata ku basah. Aku lihat jam dan
ternyata menunjukan waktu 03.00 wib. Tak pernah sebelumnya aku terbangun
secepat ini. Semuanya begitu jelas dan aku terbangun dalam kondisi sadar dan
mataku terasa sangat pedas.
Aku langsung mengambil air wudhu dan menunaikan
sholat tahajud. Dalam sholatku semua doa ku tumpahkan pada kedua orang tuaku.
Siapapun mereka, aku yakin orang tua ku ini adalah pilihan Allah yang hadir
untuk membimbingku menuju surgaNya kelak. Siapapun mereka, aku yakin kasih
sayangnya akan dibalas oleh Allah sebagai pahala yang mulia disisiNya.
Aku ceritakan kisah ini pada seorang temanku.
Ia menimpali cerita ku dengan pengalamnya yang serupa. Teman ku ini adalah
seorang wanita yang sangat menyayangi ibunya. Suatu ketika saat ia bertanya
pada ibunya. “Ibu, seandainya aku bukan anak mu lalu bagaimana? Apa ibu masih
menganggap aku sebagai anak?”. Dengan tersenyum ibundanya menjawab,” Seandainya
ibu bukan ibumu yang sesungguhnya, ibu tetap menganggapmu sebagai anak. Apapun
itu kondisinya, ibu tak akan melepaskan mu nak. Ibu sudah terlanjur sayang
padamu. Sejak kecil ibu sudah merawat engkau dengan penuh kasih sayang dan ibu
tak ingin kehilangan sang bidadariku”.
Kemudian, aku berceloteh, “Darimana kamu tahu
kalau itu memang ibumu?”. Dia menjawab, “Dari wajahnya mirip, dari akte kelahiran
mungkin, atau bisa juga dari cerita orang-orang”. “Apakah itu sudah cukup
menjadi bukkti bahwa beliau memang ibumu?”, tanyaku. “Hmm... mungkin tidak juga
ya, itu memang tidak bisa menjamin kalau beliau memang benar-benar ibuku, tapi
aku merasa nyaman, tenang, dan damai ketika ada di sisinya. Hingga aku yakin
dialah sosok Ibu yang harus aku muliakan.”
The End
Kata kunci : Ibu, Kasih Sayang, Bunga Tidur

read
ReplyDeletep.s
ff