Sayur Kelor for the Bright Future (Healhty Mom and Child)
Setiap tahun, di seluruh
dunia diperkirakan terjadi 358.000
kematian ibu dan sekitar 99% kematian tersebut terjadi di negara berkembang
yang miskin. Ssekitar 67% dari angka tersebut
merupakan sumbangan sebelas negara yang ada di dunia, temasuk Indonesia (WHO,
2010). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) memenunjukan
bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama AKI di ASEAN pada tahun 2002-2003
sebesar 307 per 100000 kelahiran. Angka kematian ibu pada tahun 2007 di
Indonesia adalah 228 per 100000 kelahiran dan turun menjadi 220 per 100000
kelahiran pada tahun 2010. Hal tersebut menjadikan Indonesia menduduki
peringkat 51 tertinggi jumlah kematian ibu di dunia menurut CIA World
Factbook pada tahun 2010. Sedangkan pada tahun 2011, angka kematian
maternal meningkat menjadi 228 per 100000 kelahiran.
Pada tahun 2012, angka
kematian ibu menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini tentu menjadi
pekerjaan berat bagi bangsa Indonesia yang menargetkan penurunan AKI menjadi
102 per 1000.000 kelahiran. Target ini sesuai dengan target MDGs (Millennium
Development Goals) poin ke-lima yaitu menurunkan angka kematian maternal
sebesar ¾ dari angka kematian maternal pada tahun 1990 atau 450 per 100000
menjadi 102 per 100000 kelahiran pada tahun 2015.
Derajat
kesehatan masyarakat ditentukan oleh tingakat AKI pada suatu wilayah. Tingkat
AKI yang tinggi menunjukan derajat kesehatan yang rendah dan berpotensi
menyebabkan kemunduran ekonomi sosial di level rumah tangga, komunitas, dan
nasional. Namun, dampak terbesar kematian ibu adalah penurunan kualitas hidup
bayi dan anak yang menyebabkan goncangan dalam keluarga dan selanjutnya
memengaruhi tumbuh kembang anak (Aeni, 2013).
Berdasarkan Riset Dasar Kementrian
Kesehtan (2013), tiga penyebab kematian ibu terbesar disebabkan karena
perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi. Ketiga penyebab kematian
ibu hamil tersebut disebabkan karena “tiga keterlambatan”, yaitu terlambat
untuk mengenali tanda-tanda bahaya dari kehamilan, terlambat untuk merujuk ke
tempat persalinan, dan terlambat untuk mendapat bantuan dari tenaga ahli
(Suarthana dan Jekti, 2011). Kasus kematian ibu hamil akibat perdarahan terjadi
sekitar 14 juta kasus dalam setahun dan 128.000 diantaranya menyebabkan ibu
hamil meninggal (WHO, 1998). Penyebab lain yang cukup sering dari perdarahan
post partum (setelah melahirkan) ibu hamil adalah anemia defisiensi besi (Syah,
2012).
Perdarahan postpartum
adalah perdarahan setelah 24 jam secara terus-menerus sehingga kehilangan darah
sebanyak 500 ml atau lebih pada kelahiran normal dan 1000 ml atau lebih pada
kelahiran caesar. Pada ibu hamil yang mengalami defisiensi besi (anemia),
perdarahan lebih dari 200 – 250 ml saja bisa menjadi fatal. Ibu yang selamat
pun dari perdarahan post partum sering menderita anemia berat jika tidak segera
ditangani (Ouut Look, 2001). Ibu hamil yang menderita anemia atupun Ibu post
partum yang menderita anemia akan membahayakan dirinya dan anaknya. Efek yang
paling membahayakan dari anemia ini adalah meningkatkan resiko kematian ibu dan
anak (WHO, 2008).
Sebagian besar penyebab
anemia pada ibu hamil adalah kekurangan zat besi. Hal ini disebabkan karena
pada ibu hamil kebutuhan akan zat besi meningkat dua kali lipat untuk memenuhi
kebutuhan ibu dan janin. Selain itu,
juga terdapat korelasi yang erat antara anemia pada saat kehamilan dengan
kematian janin, abortus, cacat bawaan, berat bayi lahir rendah, cadangan zat
besi yang berkurang pada anak atau anak lahir dalam keadaan anemia
(Susiloningtyas, 2012).
Maka dari itu, diperlukan
asupan gizi yang baik bagi seorang ibu hamil untuk kebaikan dirinya dan
kehidupan bayinya kelak. Gizi yang deperlukan untuk mencegah anemia pada ibu
hamil adalah asupan zat besi yang cukup. Menurut Departemen Kesehatan RI
(2001), Kebutuhan zat besi selama hamil yaitu rata-rata 800 mg – 1040 mg. Jika
ibu hamil makan 3 x sehari, setara 1000-2500 kalori per hari, akan menghasilkan
sekitar 10–15 mg zat besi perhari, namun hanya 1-2 mg yang di absorpsi. Jika
ibu mengkonsumsi 60 mg zat besi, maka diharapkan 6-8 mg zat besi dapat
diabsropsi. Jika dikonsumsi selama 90 hari maka total zat besi yang diabsropsi
adalah sebesar 720 mg dan 180 mg dari konsumsi harian ibu. Saat
melahirkan, ibu hamil perlu tambahan besi 300 – 350 mg akibat kehilangan darah
(Sansui et all, 2008).
Peningkatan
kebutuhan besi oleh ibu hamil meningkat dari trisemester I sampai trisemester
III. Pada Trisemester I membutuhkan peningkatan zat besi sebesar 0,8 mg/hari
dan 6,3 mg/ hari pada trisemester III. Maka dari itu, ibu hamil hendaknya
memperhatikan pola makannya dan perlu suplemen tambahan untuk zat besi (Depkes
RI, 2001). Suplemen tambahan untuk zat besi dapat bersumber dari tanaman herbal
disekitar kita. Salah satunya adalah daun kelor. Menurut Sauveur dan Broin
(2010), 100 gram daun kelor mengandung zat besi setara dengan 200 gram daging
sapi segar. Dalam bentuk serbuk, menurut Doer dan Cameron (2005), 50 gram
serbuk daun kelor untuk ibu hamil mengandung 94 % zat besi.
Kelor (Moringa
oleifera) adalah tumbuhan yang berasal dari kawasan sekitar Himalaya dan India,
kemudian menyebar ke kawasan di sekitarnya sampai ke Benua Afrika dan
Asia-Barat. Kelor biasanya disebut sebagai Moringa (Tamil murungai), merupakan varietas
yang paling banyak dibudidayakan dari genus Moringa. Kelor di Asia berasal dari
Famili Moringaceae . Pohon kelor beberbentuk sedikit ramping dengan cabang-cabang
yang tumbuh terkulai sekitar 10 m tinggi. Ada 13 spesies dari Moringa, namun
untuk daratan Asia (termasuk Indonesia) dan India, spesies yang paling banyak
adalah Moringa oleifera (Lutfiyah, 2012).
| Daun Kelor |
Pengetahuan menganai
pemanfaatan daun kelor masih belum dimiliki masyarakat secara menyeluruh,
sehingga perlu dilakukan upaya sosialisasi mengenai manfaat tersebut kepada
masayarakat sehingga masyarakat menyadari kelor penting bagi kesehatan ibu dan anak
(Amzu, 2014). Daun kelor biasa dimanfaatkan oleh masyarakat dengan cara direbus
lalu dimunum air rebusannya, dimakan langsung, atau pun dibuat serbuk
(Lutfiyah, 2012). Menurut Doer dan Cameron (2005) Ibu hamil cukup mengonsumsi serbuk
daun kelor sebanyak 6 kali sehari dengan dosis 50 mg setiap konsumsi. Sementara,
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi balita diperlukan 25 gram serbuk daun kelor
setiap kali konsumsi sebanyak 3 kali per hari.
Namun, dibandingkan
dengan konsumsi serbuk, daun kelor segar lebih sering dijadikan alternatif
sayuran dan diolah menjadi masakan. Bahkan pengolahan daun kelor yang lazim
dilakukan hanya dimasak dengan air (direbus) dan ditambahkan dengan garam saja
(Lutfiyah, 2012). Tentunya daun kelor yang dimasak dan diajdikan sayuran lebih
menambah selera dan lebih enak dinikmati bagi ibu hamil maupun anak-anak.
Mengingat di tahun 2015 ini, sudah banyak sekali menu masakan untuk membuat
sayur daun kelor yang disediakan secara gratis di Internet, sperti di
cookpad.com.
Konsumsi sayur kelor bagi
keluarga, khususnya ibu hamil dan balita, akan menyelamatkan kesehatan ibu dan
anak. Selain kaya akan zat besi, kelor juga kaya akan senyawa fitosterol yang
memperlancar Air Susu Ibu (ASI). Hal ini tentunya sangat baik untuk balita akan
ASI ekslusif yang didapatkanya. Lancarnya pemberian ASI pada balita juga akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembagan yang baik pada anak. Sehingga, anak
sebagai generasi emas dapat diselamatkan dan menjadi kebanggaan dalam keluarga
(Warta Penelitian dan Pengembangan Industri, 2014).
![]() |
| Sayur Kelor |
Sebagai kesimpulan, Ibu
hamil dan anak merupakan harapan emas bagi bangsa. Mereka butuh masa depan yang
cerah untuk mendapatkan kesehatan yang layak. Mengingat target MDGs 2015, yaitu
pada poin 4 dan 5, Angka Kematian Ibu dan Anak harus direduksi. Salah satu
langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mengkonsumsi sayur kelor
bagi ibu hamil agar mencegah perdarahan dan anemia saat dan setelah melahirkan.
Konsumsi sayur kelor juga dapat memperlancar ASI yang baik untuk tumbuh kembang
balita. This time to make bright future for mom and child with Sayur
Kelor.
Kata kunci : Daun kelor, Sayur Kelor, Kelor untuk ibu dan anak
DAFTAR PUSTAKA
Contact my email : faisalridhosakti216@gmail.com

Comments
Post a Comment